Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Ayo Kita Pacaran


__ADS_3

Motor metik yang dikendarai Hilya memasuki area pesantren Darul Islam. hingga berhenti pada sebuah rumah di belakang aula pesantren.


terlahir dari ulama besar sekaligus pemimpin pondok pesantren kerab kali mengharuskannya menjadi pribadi yang mandiri dan trampil, ia pun dituntut untuk selalu menjaga sikap dan tuturkata.


Hilya tumbuh menjadi sosok wanita yang sholeha, dengan selalu menjaga lisan dan prilakunya.


5 tahun ia mengecam pendidikan di Kairo, dan baru beberapa hari ia kembali ke negaranya sendiri, itupun atas permintaan kedua orang tua yang ingin menjodohkannya pada putra dari sahabat sang abi.


"Assalamualaikum.." ucap Hilya saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam" jawab abi dan umi bersama.


Hilya mencium tangan kedua orang tuanya sebelum ia duduk disamping sang umi. duduk dengan menundukan pandangan serta memangku kedua telapak tangannya, ia tahu bahwa abi pasti akan meminta penjelasan darinya.


"Kenapa pulang selarut ini ndok?" tegur abi dengan melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 10malam.


"Iya Abi, paklek harus menjaga bulek yang tiba-tiba sakit. jadi Hilya menggantikannya berjaga di toko."


penjelasan Hilya pada sang abi. meskipun sebelumnya Hilya sudah menelpon menjelaskan permasalan ini, namun ia harus menjelaskan kembali saat abinya bertanya.


"Abi sudah bilang, jangan terlalu sering mengunjungi mereka, kenapa kamu tidak mendengarkan abi, lagipula mereka memiliki putra yang sudah cukup dewasa mereka bisa mengandalkannya kan."


pinta abi.


"Abi," umi menyela dengan memegang telapak tangan abi.


"sudah malam, tidak pantas jika guru atau santri ada yang mendengar."


Abi menghela nafas panjang.


"Ya sudah sana bersihkan dirimu, setelah itu istirahat, besok sore keluarga Kiayi Abdul akan berkunjung jadi kamu jangan keluyuran."


"Iya abi. Hilya masuk dulu ya Mi."


pamit Hilya dan mencium kening umi sebelum masuk kedalam rumah.


"Umi, katakan pada Hilya, untuk jangan sering mengunjungi saudara tiri abi."


"Bi, mungkinkan Hilya masih kangen karenakan baru bertemu kembali setelah 5tahun."


"Abi hanya kuatir mi. abi dengar putra mereka suka mabuk-mabukan tidak jelas. abi kuatir saat anak kita berada disana."


"Abi, tidak boleh berperasangka buruk pada orang lain, dan beranganlah pada kebaikan sesungguhnya Alloh bersama angan-angan hambanya."


"Astafirloh, umi benar. terimakasi umi sudah mengingatkan abi."


umi mengulas senyum membalas ucapan sang abi.


* * *


"Umi, biar Hilya saja yang mengantri, umi tunggu dimobil saja ya." pinta Hilya saat usai berbelanja kebutuhan bulanan di salah satu toserba terbesar di kota.


"Iya, umi juga sudah terlalu tua untuk mengantri dikasir" jawab umi dengan kekehan kecilnya.


Hilya ikut terkekeh melihat uminya,


"Umi tinggal ya." Hilya mengangguk menjawab ucapan umi.


hingga Hilya menatapi punggung umi yang berjalan menuju pintu keluar.


Hilya tersenyum karena ia merasa senang berada disamping kedua orang tuanya, setelah 5tahun ia berada di kaero.


"Maaf kak," tegur Hilya pada seorang wanita yang menyerobot antriannya.


"tapi ini antrian saya." Hilya tidak ingin antrian panjangnya diserobot orang saat tinggal dua lagi tiba pada gilirannya.


Namun wanita muda itu tidak mendengarkan justru menyibakan tangan Hilya saat Hilya memegang lengannya.


"Maaf mbk, tapi ini giliran saya." Hilya tetap kekeh ingin wanita itu mundur.

__ADS_1


"Apa susahnya sih berdiri dibelakang gue!"


"Tidak bisa begitu mbk, mbk akan merugikan yang lain."


Wanita itu berdiri angkuh menantang Hilya. dan para pegawai bahkan kasir hanya diam tidak berani berkomentar.


"Tuan__. . ." salah satu pegawai melihat Mario yang baru tiba, sapaannya menggantung saat Mario mengangkat tangan agar pegawai itu tidak melanjutkan ucapannya.


Pegawai itu menunduk hormat, sedang Mario berjalan mendekati Hilya dan Rose yang sedang terdiam saling memandang.


Rose tersenyum sarkas saat ia mengingat wajah Hilya.


"Elu lagi." ucapnya,


namun Hilya mengerutkan kedua alis ia tidak mengerti dengan ucapan wanita di depannya itu, karena memang Hilya tidak mengenal atau pernah bertemu dengan Rose.


"Gue baru serobot antrian elu, dan elu udah gak terima gini, terus gimana perasaan gue saat calon suami gue elu rebut?!"


ucap Rose lagi, semakin membuat Hilya merasa bingung.


saat itu juga aktifitas pembayaran di kasir terhenti, mereka lebih tertarik dengan keributan antar dua wanita cantik ini.


"Apa maksud kamu? dan siapa yang merebut calon suamimu? apa kamu sedang delusi?" tanya Hilya, hingga membuat Rose bertambah kesal.


'Apa mereka sedang merebutkanku' batin Mario bangga.


Mario berdiri diantara kerumunan antrian kasir, ia memperhatikan dan menunggu sejauh mana berdebatan ini berlangsung.


Mario tersenyum bangga, membuat salah satu kasir menatapnya aneh.


pasalnya bos mereka ini sangat jarang sekali tersenyum, ia lebih cenderung diam dan sangat serius, ketika mengunjungi toserba.


"Dasar wanita picik! Jauhi Mario atau tanggung akibatnya!"


ancam Rose kemudian.


Hilya tersenyum remeh menanggapi ancaman Rose yang terdengar tidak masuk akal, terlebih ia tidak mengerti siapa pria yang Rose maksutkan.


"Mario? aku bahkan tidak mengenalnya."


"Picik sekali. aku penasaran sudah berapa kali kamu menemani tidurnya."


"Jaga bicaramu nona."


"Kalian lihat dan ingat baik-baik," ucap Rose dengan menatap sekeliling orang yang sedang memperhatikan mereka.


"Ingat baik-baik wajah sok suci ini, siapa tahu suami atau kekasih kalian terjebak olehnya pula."


"Perhatikan cara bicaramu nona." Hilya mulai kesal.


"Jika sudah seperti itu, tanggalkan hijabmu!" pekik Rose, dengan tangannya yang secepat kilat menarik ujung hijab Hilya. namun Hilya tidak tinggal diam ia memegangi tangan Rose dengan sangat kuat, ia mempertahankan hijab yang ia kenakan agar tangan Rose tidak menariknya.


Mario hadir berdiri disamping Hilya, seketika itu juga Rose melepaskan genggamannya dari hijab Hilya.


"Mario" gumam pelan Rose. membuat Hilya menoleh kesamping.


Deg ...


Hilya mematung saat netra mereka saling beradu.


Pria dengan setelan jaz hitam rapih yang tinggi dan wajahnya sangat sempurna itu membuat Hilya terpaku namun detik berikutnya ia kembali menundukan pandangan.


"Pergi." pinta Mario dingin pada Rose.


"Tapi aku__"


"Panggilkan satpam." ucap Mario pada siapa saja yang mendengarnya.


"Tunggu." cegah Hilya saat kasir sudah menekan tombol angka pada telphon yang tersedia di meja kasir, untuk memanggil satpam.

__ADS_1


"Aku rasa nona ini hanya salah faham saja. akan aku luruskan," Hilya bergantian melihat Mario dan Rose.


"Mas, tolong perjelas bahwa kita tidak saling mengenal dan tidak memiliki hubungan apapun."


"Entahlah." jawab Mario santai, namun ia pun meminta kariawannya untuk membubarkan kerumunan dengan isarat matanya.


seketika kondisi kembali normal, dan kasir mulai menghitung belanjaan Hilya.


"Mas tolong, jangan mempersulit saya"


"Kalian berdua sama saja, benar-benar tidak memiliki hati." Rose sudah akan pergi namun Hilya meraih tangannya.


"Tunggu kak. aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. aku bahkan tidak mengenal pria ini."


"Ayo kita pacaran." ucap Mario tiba-tiba hingga membuat yang mendengar terkejut. bahkan kasir sampai terdiam menghentikan aktifitasnya untuk melihat wajah bosnya.


Rose mengibaskan kasar tangan Hilya yang menggenggam lengannya.


"Apa yang kamu katakan mas, kita bahkan tidak saling mengenal."


"Wanita munafik." ucap Rose, sebelum akhirnya ia meninggalkan tempat itu dengan kekesalan.


"Kenalkan aku Mario." Mario mengulurkan tangannya, namun Hilya enggan menjabatnya.


Hilya memperhatikan kasir yang sudah selesai mengepak balanjaannya.


Hilya merogo tas kecil lalu menggesek kartu miliknya.


Setelah itu ia segera berjalan cepat meninggalkan Mario dan pusat perbelanjaan itu.


"Apa dia sedang menolakku?" gumam Mario dengan menatapi kepergian Hilya.


namun Hilya nampak kesusahan dengan pelastik belanjaan yang penuh ditangan ia tidak bisa menarik handel pintu.


Mario berlari kecil menghampiri Hilya lalu ia menarik handel pintu mempersilahkan Hilya untuk melewatinya.


"Biarkan aku bantu."


"Tidak perlu." tolak Hilya namun Mario terus mengekor hingga Hilya sampai pada mobil sang umi.


"Selamat siang tante," sapa Mario saat umi Jihan menuruni mobilnya dan membantu Hilya memasukan belanjaannya kedalam bagasi mobil.


"Siang," jawab singkat umi dengan wajah penasaran, karena ia tidak mengenal pria yang bersama putrinya ini.


Mario membantu menata plastik belanjaan kedalam bagasi.


"Tidak perlu repot-repot nak." cegah umi karena merasa sungkan pada Mario.


"Tidak apa bu, hanya sekedar membantu saja." jawab ramah Mario.


Hilya menutup bagasi mobil dengan keras ketika semua belanjaan sudah masuk kedalam.


"Umi ayo kita pulang." ajak Hilya dengan wajah kesal dan terdengar ketus, ia berjalan memasuki mobil terlebih dulu.


"Kami pamit dulu ya nak."


"Iya Umi," jawab Mario dengan mengulas senyum dan sedikit membungkuk hormat.


.


.


"Wah ..gue lupa lagi, kenapa gak minta alamat rumahnya."


sesal Mario saat mobil yang dikendarai Hilya sudah berjalan jauh.


* * *


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2