
"Hilya." ucap Mario pelan dengan terpaku saling menatap.
Detektif tiba dan seketika mengurus target mereka.
"Tuan." ucap detektif pada Mario.
dan Hilya berjalan terburu dengan langkah seribu meninggalkan tempat itu.
Mario bergegas menyusul Hilya memasuki gang sempit pemukiman warga.
"Tunggu. Hilya tunggu, aku bisa jelaskan." suara Mario sedikit keras agar Hilya yang berjarak cukup jauh dapat mendengar.
namun Hilya tetap berjalan menjauh.
"Hilya ..." Mario berlari kecil demi menyamai langkah Hilya.
diraihnya lengan Hilya, hingga Hilya menghentikan langkahnya namun enggan untuk menoleh pada Mario.
"Hilya tolong dengarkan. aku melakukan itu untuk__. ."
Hilya menghempaskan tangan Mario hingga pegangannya terlepas dari lengan Hilya.
membuat Mario menggantungkan ucapan karena kini Hilya sudah menatapnya dengan kebencian.
"Aku tidak peduli. tapi tolong jangan menghalangi jalanku, lagi pula kita tidak saling mengenal." suara lembut Hilya selalu membuat hati Mario bergetar.
namun Hilya seperti menatapi luka di ujung bibir Mario. Hilya melepas ransel gendongnya lalu merogo isinya seperti mencari sesuatu.
"Bersihkan lukamu." Hilya mengulurkan sapu tangan untuk Mario.
"Terima kasih." ucap Mario meraih saputangan dari tangan Hilya.
"Hilya ..." Bulek memanggilnya dan berjalan mendekat, dengan sekantong plastik berisi sayuran yang ia bawa.
* * *
"Bersihkan dengan air hangat nak." ucap Bulek setelah Hilya membawakan semangkuk air hangat diatas meja tempat Mario kini duduk ditemani Bulek.
Mario tersenyum dan mengangguk sopan dengan rasa canggung.
"Maaf ya rumah Bulek terlalu sempit."
"Tidak Bulek, ini terlihat yaman, bukankah begitu Hil?" Mario menatap Hilya yang tengah duduk di samping Bulek dengan posisi menghadap Mario.
"Bersihkan dan segera pulang, aku sedang sibuk untuk meladeni tamu." suara Hilya kembali terdengar.
membuat Mario mengulas senyum karena suara itu sangat lembut.
"Sungguh, kamu tidak cocok berkata kasar dengan suara lembutmu itu."
Mario bicara seraya memeras kain dari mangkok dan mengusab ujung bibirnya yang berdarah.
Sementara Bulek nampak mengulas senyum melihat mereka bergantian.
"Lantas, pantaskah jika seorang pria berbuat kasar pada wanita dimalam hari?"
Bulek menatap serius pada Hilya.
begitupun dengan Mario.
"Bukankah sudah aku katakan wanita itu orang yang sudah merugikan prusahaanku dan kamu juga sudah mendengar penjelasan polisi kan?"
Bulek berganti menatap pada Mario.
"Meskipun dia seorang yang jahat, kamu tetap tidak pantas berbuat kasar padanya." hardik Hilya kemudian.
"Baiklah aku mengakui kesalahanku, maafkan aku." ujar Mario pada Hilya hingga membuat Bulek menatap Mario dengan pandangan yang terpesona.
"Tuan seharusnya anda meminta maaf pada wanita itu bukan padaku."
Hilya merasa jengah pada sikap Mario yang terus memberinya tatapan aneh.
"Tidak akan." tolak Mario
"Hatimu terlalu kejam Tuan."
"Bukan kejam Nona, tapi harga diriku menolaknya."
Hilya memutarkan bolamata jengah pada Pria arogan didepannya ini.
"Sungguh selain arogan anda pun keras kepala."
"Aku tidak menyangka ternyata anda memperhatikanku Nona."
Bulek terkekeh dengan mendengar obralan mereka.
"Kalian ini sudah seperti pasangan suami istri."
Hilya membulatkan mata tak percaya.
__ADS_1
sedangkan Mario tersenyum senang.
"Terimakasi atas restunya Bulek." ungkap Mario.
"Apa sih, jangan kepedean dong. lagian siapa yang mau nikahin pria kasar dan keras kepala."
"Looo...jangan sesumbar, awas jodoh loh."
ledek Bulek dengan sedikit tertawa.
Mario turut kerkekeh kecil melihat pada Bulek.
lalu ia melihat Hilya dan menaik turunkan kedua alisnya, melihat itu Hilya menjadi semakin sebal.
"His.." cibir Hilya pada Mario dengan menarik ujung bibir atasnya.
Brak..
Gibran membanting daun pintu, ia baru saja pulang dengan kondisi setengah sadar akibat mabuk.
"Astafirloh, .." keluh Bulek dan Hilya bersamaan. lalu mereka menghampiri Gibran, bahkan Hilya menopang tubuhnya yang hampir terhuyung akibat pengaruh minuman keras.
"Gibran.. hati-hati.." ucap Hilya dengan memeluk tubuh Gibran tentu saja reaksi Mario sangat tidak suka bahkan ia sudah berdiri dari duduknya.
"Biarkan aku saja." pinta Mario setelah menghampiri mereka ia ingin mengambil alih tugas Hilya.
dan Hilya melepaskan tangan Gibran dari pundaknya,
Mario menopang tubuh lunglai Gibran menuju kamar.
"Tidurkan saja disini nak." ucap Bulek lalu membantu Mario membenarkan posisi tidur Gibran.
"terimakasi nak Mario."
"Tidak perlu sungkan Bulek." jawab Mario dengan mengulas senyum karena Bulek pun tersenyum pada Mario.
Mario merogo saku celananya mengambil ponsel yang bergetar.
"Hallo, oh iya Sus. tunggu ya 30menit lagi aku sampai, ikan terinya jangan lupa ya dan kamu ingatkan untuk membeli perlengkapan bayi."
Hilya dan Bulek saling memandang saat Mario membicarakan bayi.
Mario sudah menutup sambungan ponselnya.
"Bulek aku pulang dulu ya, kapan-kapan bolehkan aku mampir kembali?"
"Tentu saja boleh nak, rumah Bulek terbuka untuk mu."
Mario berjalan mendekati Hilya yang berdiri disamping Bulek.
"Aku pulang dulu ya," kata Mario seolah sedang berpamitan dengan kekasihnya.
"Dih, bodok amat." jawab Hilya ketus dan membuang wajah.
"Kamu boleh memandangi wajahku anggap saja untuk bekal sampai kita bertemu lagi."
"Cih ..ngelawak."
"Aku serius Hilya, ayo pandangi wajahku nanti nyesel loh."
"Apa sih, gak lucu banget deh."
Hilya tetap membuang wajah tidak ingin melihat pada Mario.
Sementara Bulek sudah tersenyum senyum sejak tadi.
"Baiklah, hubungi aku jika kamu merindukanku aku akan segera datang menemuimu."
"His..enggak banget."
Mario terkekeh begitupun Bulek.
"Bulek aku pamit, Mario hendak menyalami namun Bulek menyatukan kedua tangan dan mengangkatnya ia menolak bersalaman.
"Kita bukan mahrom, alangkah baiknya saling menjaga jarak dan tidak bersentuhan." tutur Bulek halus agar Mario tidak tersunggung.
"Baik Bule, maafkan ketidak fahaman saya."
"Pulanglah, bukankah kamu sudah ditunggu seseorang?"
"Iya Bulek, saya permisi. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam.."
Bulek menghantarkan hingga depan rumah dan melihat mobil Mario hingga menghilang di ujung gang.
"Ternyata dia sudah beristri." ucapan Bulek tanpa sadar membuat Hilya merasa gelisa.
"Bulek, aku pulang dulu ya." pamitnya dengan memakai helem lalu mencium tangan Bulek dan terburu menghidupkan motornya.
__ADS_1
ia membunyikan tlakson motor sebelum meninggalkan pelataran rumah itu.
"Semoga kamu menemukan suami yang benar-benar mencintaimu Ndok." gumam Bulek dengan menatapi kepergian Hilya.
* * *
Hilya melajukan kendaraan roda dua miliknya dengan kecepatan tinggi ia sedang mencari mobil Mario ditengah tengah pengendara lain.
bahkan Hilya beberapa kali menyalip kendaraan lain demi menyusul kendaraan Mario.
Hilya mengikuti Mario karena ia merasa penasaran dengan seseorang yang akan Mario temui.
"Itu dia." gumam Hilya saat melihat mobil Mario, Hilya menjaga jarak agar Mario tidak melihat bahwa ia sedang mengikuti.
Mobil Mario memasuki area pasar tradisional tempat dimana ia meninggalkan Susi untuk berbelanja.
Hilya menepi diantara kendaraan bermotor lainnya yang berada di parkiran.
ia tidak duduk diatas motornya, dengan mengenakan helem dan masker ia memperhatikan mobil Mario dari pantulan kaca sepion kendaraannya.
.
.
Susi mengetuk pintu mobil Mario, baru setelah itu Mario membukanya keluar dari mobil dan membantu Susi menaikan belanjaannya.
"Udah nunggu lama ya Sus?" tanya Mario.
"Tidak Tuan, saya malah baru selesai sarapan."
Hilya terus memperhatikan namun ia tidak dapat mendengar percakapan mereka, tapi Mario terlihat beberapa kali mengulas senyum.
"Jadi itu istrinya." gumam Hilya.
"tunggu sampai aku membongkar kebusukanmu didepan istrimu." Hilya marah karena ia merasa dipermaikan.
.
.
"Ayo, kita pulang sudah semuakan?" tanya Mario pada Susi.
"Sudah tuan beres."
Mario membukakan pintu untuk Susi lalu ia pun berjalan menuju pintu kemudi.
.
.
"Astafirloh.. .." Hilya memegangi dadanya ia tidak mengerti mengapa dadanya terasa nyeri.
"sakit sekali, apa aku memiliki gangguan pada jantungku?"
Hilya meremas dadanya.
"nafasku terasa sesak." keluhnya lagi.
"lebih baik aku menemui dokter." Hilya menghidupkan mesin motornya.
.
.
Hilya duduk mengantri bersama para pasien di sebuah klik kesehatan.
"Nyonya Hilya!" panggil sang Suster jaga menyebutkan nama antrin.
Hilya berjalan menuju ruangan dokter.
.
.
.
"Semua normal dan baik-baik saja. tidak ada masalah pada jantungmu." penjelasan Dokter wanita itu pada Hilya setelah ia selesai memeriksa yang dikeluhkan Hilya.
"Tapi aku yakin sekali Dokter saat tadi jantungku terasa sakit dan nafasku rasanya sesak sekali." timpal Hilya menyakinkan bahwa kondisinya dalam keadaan tidak baik.
"Lalu apa sekarang masih sakit?"
"Tidak lagi." jawab Hilya seraya menggeleng
"Baiklah, istirahat yang cukup dan jaga pola makan, jika rasa sakitnya kembali lagi, silahkan datang dan aku akan memeriksa lebih lanjut."
Pesan Dokter wanita itu.
"Baik dok terima kasih banyak, saya permisi." Hilya membungkuk hormat sebelum ia keluar dari ruangan dokter.
__ADS_1
* * *
Bersambung.