
"Innalilahi wainna illaihirojiun. Baik Mas, waalaikumsalam." Umi menutup panggilan telponnya.
"Ada apa Umi?" tanya Hilya yang sudah sejak tadi berdiri di ambang pintu kamar Umi.
Umi berdiri dari duduk lalu menghampiri Hilya, menatap penuh keraguan pada putrinya.
"Ndok, Bude kamu meninggal dunia sesaat setelah melahirkan."
"Innalilahi wainnailaihi rojiun, lalu Umi akan ke surabaya?"
"Apa kamu bisa Umi tinggal Nduk?"
Hilya terdiam, meskipun berat ia tetap mengangguk.
Umi meraih telapak tangan Hilya menggenggamnya erat.
"Tidak akan lama. Hanya dua sampai tiga hari saja."
"Umi akan pergi sendiri?" tanya Hilya kemudian.
Umi terdiam ia nampak berfikir.
semenjak menikah Umi tidak pernah berpergian sendiri apalagi hingga harus pulang ke jawa umi selalu ditemani Abi.
"Sepertinya memang harus begitu Nduk. Kamu pesankan tiket lewat online ya." pinta Umi, dengan mengotak atik ponsel genggamnya.
"Umi akan bicara sebentar pada suamimu."
"Mi, dia belum pulang sejak kemarin."
"Apa? suami kamu tidak pulang dan kamu tenang tenang saja Nduk."
Hilya terdiam. Meskipun ia mengerti alasan Mario tidak pulang. agar tidak tidur di kamar yang sama dengannya, namun Hilya enggan mengatakan hal itu pada Umi.
"Dia sudah mengatakan akan berangkat keluar kota Umi." bohong Hilya. Karena sebelum ke kantor Mario mengatakan akan menginap di rumah Kenzo untuk beberapa hari.
"Kamu berbohong Nduk?" tanya Umi dengan menyelisik wajah risau Hilya.
"Umi akan menelpon." Umi segera menekan layar ponselnya.
"Umi, biarkan saja Umi, lagipula apa yang akan Umi katakan padanya."
"Umi akan memintanya untuk pulang."
"Biarkan saja Umi. Biarkan dia melakukan apapun yang dia suka. "
Umi menatap wajah Hilya dengan tatapan serius.
"Kamu benar-benar ingin menjadi istri durhaka Ndok?"
"Umi! kenapa Umi berkata seperti itu?"
"Hilya, saat ini dia adalah suamimu, suami sah kamu secara hukum dan agama, tidak dibenarkan jika kamu selalu saja memperlakukannya tidak adil. bahkan kamu faham jika suami adalah jembatan untuk surganya Alloh."
"Cukup Umi! Hilya tidak ingin mendengarnya lagi."
"Astafirloh." Umi mengusab dadanya.
"Sepertinya Umi dan Abi telah gagal mendidik kamu Nduk"
Umi pergi meninggalkan Hilya yang masih mematung di ambang pintu.
"Assalamualaikum, Nak." ucap Umi setelah sambungan telponnya terhubung dengan Mario.
Umi terus berjalan menjauhi Hilya.
Hilya nampak menarik nafas panjang lalu mengusab air mata yang tanpa sadar ia teteskan.
.
__ADS_1
.
.
Anju membukakan pintu mobil untuk Mario, segera Mario berjalan terburu memasuki lobi bandara.
Setelah obrolannya dengan Umi beberapa menit lalu, Mario meminta sopir untuk menjemput mertuanya itu dan mengantarkan ke bandara.
Dengan kekayaan dan fasilitas yang disediakan oleh Kenzo membuat Mario tidak kesulitan dalam segala transpotasi, termasuk jika mengharuskannya untuk terbang keluar kota ataupun keluar negri.
Mario mengusulkan pada Umi agar menggunakan pesawat pribadi milik Kenzo yang biasa ia gunakan, Umi mengiyakan dengan segala pertimbangan.
"Umi. ini kapten pilot yang akan menerbangkan pesawat." Mario memperkenalkan seorang kapten dan dua rekannya bersama dua pramugari berdiri di sisinya.
Umi tersenyum seraya membungkuk sopan.
"Terima kasih, dan maaf karena sudah merepotkan kalian."
"Tidak Umi, ini memang sudah tugas kami." jawab sang pilot.
"Mari." ajaknya kemudian dan berjalan meninggalkan Umi dan Mario.
"Umi titip Hilya, Nak"
Mario mengangguk, lalu mencium tangan Umi sebelum akhirnya Umi meninggalkan Mario.
* * *
Hari mulai gelap saat mobil milik Mario memasuki pelataran pesantren. Mario tak lantas menuruni mobilnya, ia menatapi
lalu lalang dari santri yang sepertinya baru saja melaksanakan sholat magrib.
Mario menatapi sebuah buku panduan sholat yang tergelerak di dashbrod mobil.
Lalu ia menarik nafas panjang.
"Apakah aku bisa mendapatkan kembali kepercayaannya." Mario menatapi Hilya yang berjalan bersama dua santriwati yang akan menuju masjid.
Mario mengulas senyum saat melihat Hilya yang tersenyum pada dua santri disisinya yang seperti menanggapi obrolan mereka.
"Mengapa senyuman itu sangat indah?" gumam Mario.
"tapi aku justru membuatnya menangis"
"Ustadzah itu mobil Mas Mario. Ayo ustadzah." santri itu menarik tangan Hilya menghampiri mobil Mario.
"Tidak, tidak." tolak Hilya dengan berjalan karena tangannya ditarik oleh santri itu.
Mario membuka jendela kaca mobilnya setelah ketukan kecil dari santriwati yang bersama Hilya.
"Mas, ini loh Ustadzah lagi pingin makan asinan mangga."
"Iya Mas, jangan-jangan Ustadzah sedang ngidam." sahut santri yang lain.
Ucapan kedua santri itu membuat Hilya dan Mario saling memandang, pasalnya mereka tidak mengetahui tentang kehamilan Hilya yang sudah memasuki bulan kedua.
"Kalian ini ada-ada aja Ustadzah kalian tidak sedang hamil, bagaimana dia bisa ngidam?" tanya Mario dengan menutupi kondisi Hilya.
"Iyakan, barang kali Mas,"
"Batu dong."
"loh kok batu?"
"Barang kali ya batu, emang apa?"
"O'iya ya..." kedua santri itu nampak terkekeh kecil.
"Udah sana kalian harus bersiap sebentar lagi pelajaran dimulai." perintah Hilta pada kedua santri itu.
__ADS_1
Namun salah satu diantaranya justru membuka pintu mobil dan satunya mendorong tubuh mungil Hilya memaksanya masuk kedalam mobil.
"Apa-apaan kalian." Hilya menolak hendak keluar namun selalu dicegah oleh kedua santri itu.
"Mas, tolong bawa jalan-jalan ya. Ustadzah sudah terlalu lama berdiam di rumah."
"Tidak, aku ingin istirahat saja."
Mario memperhatikan raut gelisah Hilya ada rasa khawatir dan takut disana.
Nario menarik nafas dalamnya, ini kali kedua ia melihat wajah khawatir Hilya saat memasuki mobil.
Pertama saat ia menjemputnya dari rumah sakit dan sekarangpun tetap sama seperti itu.
Mario menyadari kekhawatiran Hilya, karena di mobil inilah ia merenggut kesucian Hilya.
"Kalian berdua, ayo ikut." ajak Mario pada kedua santri itu.
"Tapi Mas, kami ada pelajaran bagda isya ini."
"Sebelum isya kita akan kembali." jawab Mario lagi meyakinkan agar mereka mau diajak.
Mungkin dengan adanya kedua santri itu akan membuat Hilya merasa aman.
"Okay kalo Mas memaksa." jawab salah satu santri dengan hijab merahnya ia segera membuka pintu belakang dan memasukinya disusul satu santri berikutnya.
Mario kembali melirik pada Hilya yang duduk disamping kemudi.
Nampak kelegaan diraut Hilya.
"Dimana penjual Asinan yang paling enak?" tanya Mario dengan melajukan mobil meninggalkan area pesantren.
.
.
.
Hilya membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Sementara Mario sibuk mengeluarkan asinan dari kotaknya memindahkan kedalam piring.
Mario mengulasan senyum, rona bahagia nampak diwajahnya.
ia merasa senang karena ini kali pertamanya dapat memberikan apa yang Hilya inginkan.
Mario mengetuk pintu kamar Hilya dengan sepiring Asinan dibaki.
Setelah ketukan kedua pintu itu terbuka menampakan Hilya berdiri dengan memegangi daun pintu.
"Aku, aku." ungkap Mario dengan gugup.
"Aku tidak ingin memakannya," ungkap Hilya.
Mario terdiam dan menarik napas pelan.
"Kamu buang saja, dan jangan lakukan ini lagi, aku tidak menyukainya. kamu bisa menipu orang dengan topeng kebaikanmu tapi tidak denganku."
Brakkk ...
Hilya menutup pintu dengan kasar.
Kecewa.
Pasti, Mario sudah sangat bahagia saat mengingat ia telah memberikan apa yang diinginkan Hilya. Tapi kebahagian itu hanya sebatas harapan tanpa kenyataan.
Mario membuka lemari pendingin lalu memasukan piring berisi asinan itu kedalam kulkas.
* * *
Bersambung.
__ADS_1