
Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam, Hilya gelisah sejak beberapa jam lalu. matanya tidak mau terpejam, bayangan asinan yang ia lihat saat Mario membawakannya terus saja menghantui pikirannya.
Rasa asam, pedas bercampur dengan buah segar sangat membuatnya harus beberapa kali menelan air liyur.
Namun disisi lain ia sangat gengsi untuk menerima pemberian dari Mario.
Beberapa waktu lalu ia sudah bertekad untuk mengambilnya dari dalam kulkas, namun niatnya ia urungkan karena ia melihat Mario yang masih terjaga di meja ruang makan.
"Jika seperti ini, aku tidak akan bisa tidur." Hilya bangkit ia berjalan tanpa ragu membuka pintu kamarnya, ia mengintip keadaan sekitar memastikan jika ia mengendap tidak akan ada yang tahu.
Sementara Mario masih fokus pada beberapa dokumen.
Bukan tidak menyadari Hilya yang berjalan di belakangnya, hanya saja Mario sengaja acuh ia tidak ingin membuat istrinya merasa tidak nyaman.
Hilya menarik pintu kulkas, saat sudah terbuka sepiring asinanlah yang hanya ia tatap. Hilya menelan silava lalu ia menoleh pada Mario yang ternyata sedang memerhatikannya.
Untuk sesaat netra mereka bertemu, namun akhirnya keduanya saling mengacuhkan kembali, Mario dengan dokumen miliknya dan Hilya dengan air mineral dalam botol.
Hilya menenggak air minum hingga habis, ia kesal mengapa suaminya itu tidak kunjung tidur, sehingga ia dapat memakan asinannya.
Hilya menutup pintu kulkas dengan sangat kasar hingga botol kaca di dalamnya terdengar bertentingan.
ia segera memasuki kamarnya kembali.
Setelah Hilya menghilang di balik pintu kamarnya.
Mario merentangkan kedua tangan guna melemaskan otot-ototnya.
ia pun nampak memijit pundak kirinya dan beberapakali memiringkan kepala guna melemaskan urat lehernya.
Rasa lelah dan ngantuknya bercampur hingga ia tanpa sadar meletakan kepalanya diatas meja dengan lengan kanan sebagai bantalan kepala.
Hilya mengintip sejak tadi ia memperhatikan menunggu Mario tertidur.
Hingga ia merasa aman untuk mengambil asinan itu.
Hilya berjalan dengan mengendap sangat pelan ia meraih pintu kulkas dan menariknya pelan dengan sangat berhati-hati.
namun Mario tidak benar-benar tidur ia membuka mata tanpa mengubah posisinya. Mario tersenyum saat melihat Hilya menutup pelan pintu kulkas dengan sepiring asinan ditangan.
Mario memejamkan mata kembali saat Hilya berjalan dengan sangat hati-hati melewatinya hingga ia menghilang di balik pintu.
Mario tersenyum bahagia ia bahkan memegangi dadanya yang berdegup kencang, entahlah hal sepele seperti ini mampu membuatnya merasa sangat bahagia seolah energi yang terkuras akibat pekerjaan mendadak terkumpul kembali.
* * *
Mario membuka mata karena suara dua santri terasa sangat mengganggu tidurnya.
"Kalian." Mario mengangkat kepala dari atas meja dan nampak menahan nyeri di lehernya.
Semalaman tidur dengan posisi duduk membuat lehernya terasa kaku
"Mas Mario kenapa tidak tidur di kamar? tanya seorang santri yang sudah Mario ketahui namanya.
"Aku, ketiduran saat bekerja." jawab Mario dengan memijit tengkuknya.
"kenapa kalian kemari?"
"Kami tidak melihat Ustadzah dan Mas Mario saat sholat subuh, kami pikir Ustadzah sakit jadi kami memutuskan untuk melihatnya." jawab Rani.
__ADS_1
"Ini kebetulan aku bawa minyak gosok," timpal loli dengan meletakan minyak gosok diatas meja.
"balurkan ke leher yang kaku agar terasa hangat."
"Siapa, yang sepagi ini sudah ia rayu." dari dalam kamar Hilya menempelkan kuping pada daun pintu ia menguping percakapan mereka.
"Seperti suaranya Rani dan Loli. pria jahat itu! tidak akan aku biarkan para santriku menjadi korban kejahatannya!" gumam Hilya dengan berapi-api.
"Kalian, pagi-pagi sudah masuk ke rumah orang!" pekik Hilya secara mendadak hingga membuat kedua santri juga Mario merasa terkejut.
"Maaf Ustadzah." jawab Rani dan Loli bersamaan. ada raut cemas dari keduanya mereka tidak pernah melihat ataupun mendengar Hilya bersuara dengan nada tinggi, seperti sekarang.
Dan hal ini membuat keduanya merasa bersalah, mungkin benar jika mereka telah melakukan kesalahan karena bertamu di pagi hari, bahkan pemilik rumah belum mengijinkan masuk namun mereka justru sudah mengganggu.
"Saya tekankan dan katakan pada semua santri, baik wanita atau pria. Dilarang keras memasuki rumah, faham?" tegas Hilya.
"Iya Ustadzah."
"Termasuk bicara dengan suami saya."
"Apa?" Rani bertanya maksud dari ucapan Hilya.
Namun Mario justru nampak tersenyum, rasa bahagia semalam bertambah saat ia mendengar Hilya menyebut kalimat suami.
"Menjauh dari suamiku." Hilya masih tegas dalam bersikap hingga membuat kedua santri itu semakin merasa takut.
"Baik Ustadzah, kami permisi " pamit keduanya.
Rani dan Loli meninggalkan ruangan dengan derap langkah setengah berlari.
"Ganjen." gumam Hilya dengan menatapi punggung Mario.
Karena sejak tadi Hilya berdiri di belakang Mario, dan Mario tidak sekalipun menoleh pada Hilya, kelakuan Mario itu membuat Hilya semakin merasa jengah.
Hingga waktu malam menjemput, sudah pukul 7 malam.
Biasanya Mario akan pulang tepat saat sholat magrib namun sudah lewat dari biasanya Mario tak kunjung pulang.
"Ada yang berbeda, sejak pagi pun pria jahat itu tidak menatapku, atau bicara padaku, sekarangpun sudah lewat jam pulang kerja. Pria itu, apa yang sedang dia sembunyikan? apa dia mulai bosan dan memiliki wanita selain aku? Bahkan dia merayu santriku aishhh ... Pantas saja kemarin dia mengajak Rani dan Loli bersama dan membelikan mereka banyak makanan, seharusnya aku menyadari kelicikannya sejak kemarin." Hilya mengepaljan tangan meninju pelan meja makan.
Bunyi perut yang keroncongan ia abaikan begitu saja, rasa lapar mengeruak sejak pagi namun entah mengapa ia enggan menyantap nasi, hanya beberapa cemilan yang ia gunakan untuk menghilangkan rasa lapar.
Jika saja ada Umi mungkin situasinya berbeda, dan Umi akan memarahinya menyuruhnya untuk makan teratur seperti yang biasa Umi lakukan.
Hilya menarik nafas lelah 30 menit sudah berlalu adzan isya sudah berganti dengan iqomah, pandangannya masih saja menatapi pintu depan berharap sosok yang sedang ia tunggu muncul dari balik pintu itu.
Hilya bangkit dari duduk, suara iqomah membuatnya beranjak untuk sholat isya bersama di masjid.
Hilya menepis segala argument yang muncul dalam diri.
Mengapa sekarang kamu menunggunya?
Jawabpannya adalah ia khawatir wanita lain menjadi korban kejahatan Mario. Terlebih para santrinya.
Tidak ada hal lain yang ia pikirkan selain kejahatan Mario.
Dan ia menghubungkan dengan sikap acuh Mario padanya sejak pagi.
"Loh, Ustadzah seharian tidak makan?" tanya seorang wanita paru baya yang biasa bertugas di dapur pesantren.
__ADS_1
"Ini masih utuh loh nasinya." ia berkomentar karena saat hendak .engambil nasi untuk menggantinya dengan yang baru, nasi itu masih utuh.
"Saya siapkan makan malam ya?" tanyanya kemudian seraya berjalan meninggalkan ruang makan.
Hilya kembali duduk pada kursi kayu tempat biasa yang Mario duduki saat akan menyantap makanan. ia meletakan mukenah keatas meja yang kemudian ia gunakan sebagai alas kepalanya.
Sudah lebih dari jam 8 malam. Namun Mario tak kunjung pulang, membuat mood Hilya semakin buruk.
Kehamilannya membuat suasana hati Hilya mudah sekali berubah. Terkadang ia merasa marah hanya dengan sedikit kesalahan orang disekelilingnya, terkadang ia ingin sekali diperhatikan seperti saat ini, tapi tidak ada seorangpun yang bisa ia andalkan. Jika biasanya Umi yang akan selalu mendengarkan keluh kesahnya dan menuruti keinginannya bahkan saat ini pun Umi tidak ada didekatnya.
"Bakso." gumam Hilya pelan dengan menatapi pintu.
"Aku pingin makan bakso."
Matanya berbinar seketika ia menegakan kepala duduk dengan sempurna disaat sosok yang ia tunggu menutup pintu dan berjalan mendekatinya.
"Maaf aku terlambat, tadi ada__"
"Aku gak tanya." pangkas Hilya membuat Mario mengatubkan bibir.
"Loh Mas Mario baru pulang." ucap Bu odah wanita paru baya yang mengurus dapur pesantren.
"Mbak Hilya nungguin loh." lanjutnya, dengan meletalan nasi hangat diatas meja beserta lauk pauknya.
"sampek gak doyan makan."
"Apa sih bu' enggak. Bohong banget ih."
Mario mengulas senyum namun ia membuang wajah, ia tidak ingin Hilya ataupun orang lain melihatnya tersipu seperti sekarang.
"Looohh... Kan menyangkal, lah wong ibu lihat dari pagi kerjaan Mbak Hil itu cuma memandangi pintu itu." lanjut ibu Odah seraya menunjuk pintu depan.
"Apa sih Bu. gak lucu" jetus Hilta seraya berlalu meninggalkan ruangan itu dan menutup pintu kamar.
Ibu Odah terkekeh melihat tinfkah Hilya yang seperti sudah tertangkap saat sedang mencuri.
"Mas." panggil Ibu Odah membuat Mario mengalihkan pandangannya dari pintu kamar Hilya.
"Ada apa Bu?"
"Sepertinya ustadzah sedang ingin makan bakso. Tadi ibu sempat dengar dia bergumam."
Mario tersenyum seraya mengangguk.
Perasaan bahagianya belum hilang, bahkan sepanjang hari mood nya terjaga dengan baik, hingga membuat para kariawan merasa sejahtera karena Mario bersikap baik tidak mudah tersulut emosi bahkan pada kariawan yang melakukan kesalahan ia dengan mudah memaafkan tanpa syarat dan sangsi kusus.
Mario mengetuk pintu kamar Hilya, dengan baki berisi semangkok bakso yang masih mengepul.
"Aku membelinya saat pulang tadi." ucap Mario saat Hilya sudah berdiri di depannya dengan masih memegangi daun pintu.
Hilya membuang wajah.
"Aku tidak mau."
"Baik." dengan nada dan raut wajah kecewa Mario berbalik dan beranjak pergi.
"Aku mau makan ditempat angkringan."
Ucapan Hilya menghentikan langkah Mario.
__ADS_1
* * *
Bersambung.