
"Nikah!?" Pekik Pelangi saat Kenzo selesai bercerita.
"Hem..." jawab Kenzo dengan melepas dasi yang membelit dileher, lalu membuka kancing kemeja melemparnya asal.
Pelangi bangun dari duduknya berjalan mendekati Kenzo sungguh ia tak dapat mengacuhkan begitu saja tubuh dengan otot kekar itu. Pelangi mengusab perut kotak kotak milik Kenzo.
"Kamu suka?" tanya Kenzo dengan berbisik pelan ditelinga Pelangi.
"He'hem. Sangat suka." jawab Pelangi dengan memasang wajah imut. Menatap Kenzo dengan mendongak ke atas.
Cup...
Kenzo mengecup singkat bibir ranum itu. Menatapnya dengan tatapan lembut. Tangannya melingkar pada pinggang Pelangi, mendekap tubuh Pelangi dengan erat.
"Apa Hilya tahu tentang pernikahannya?"
"Sepertinya belum."
"Lalu Oom diam saja?"
"Tidak ada yang bisa aku perbuat, mereka sudah sepakat."
"Mendengar dari cerita Oom, sepertinya janda itu tahu caranya berbinis dengan untung besar."
"Dia bukan pembisnis cil, bahkan dia hanya ibu rumah tangga yang menghabiskan sisa usianya mengurus keluarga, dia sedang mengandung 8 bulan, alasannya ia tidak ingin anaknya lahir tanpa ayah."
"Sudah aku tebak, janda itu menggunakan anaknya untuk mendapat belas kasihan dari kak Mario. Sudah tidak perlu Oom lanjutkan lagi, aku sudah tahu endingnya."
Pelangi mendorong pelan tubuh Kenzo yang hanya memakai celana dasar panjang.
Kenzo hendak menarik kembali tubuh Pelangi untuk ia peluk namun Pelangi menghidar dengan berjalan mundur.
"Kenapa?" tanya Kenzo ia bingung dengan perubahan Pelangi, padahal tadi Pelangi terlihat sangat bersemangat.
"Aku yang akan menyelsaikan masalah kakakku"
"Maksudmu?"
"Oom lupa, aku pun wanita penipu yang menukar kesucian demi harta om ceo." pelangi menyeringai, membuat Kenzo membulatkan mata.
"Jangan bertindak bodoh cil, kamu sedang mengandung anakku. Dan apa itu? Jangan menyeringai seperti itu, kamu terlihat menakutkan."
__ADS_1
"Janda gatel!" Pelangi mengepalkan tangan kanan, mengangkatnya dan memandangi kepalan tangan itu.
"Cil, jangan gunakan kekerasan. Aku tidak akan menyukainya."
"Oom tenang saja, duduk diam di kamar bersikaplah seolah tidak mengetahui apa-apa, sama seperti beberapa tahun lalu saat aku menghadapi janda yang menggoda Oom."
"Kapan? Wah aku mendadak lupa ingatan kawan."
"Menyebalkan! Apa mungkin kak Mario pun sama seperti Oom, mencuri kesempatan dari kesempitan. Alih-alih menolak dia justru berdorak hore karena dapet istri baru."
* * *
"Nona..." Anju membungkuk hormat saat ia menjumpai Hilya di lobi kantor.
"Tuan Mario, sedang tidak berada di kantor." ucap Anju dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin istri bosnya ini bertanya tentang keberadaan Mario, yang ternyata pergi bersama Badriah yang ia pun tidak tahu pasti kemana tujuannya.
Hilya berdiri dari duduknya, menatap Anju dengan serius.
"Sampaikan pada Tuanmu," Hilya memberikan amplop putih pada Anju.
"Katakan aku sudah menyetujuinya."
"Nona?"
"Nona, biarkan saya antar." Anju mengekori Hilya, namun Hilya tak menghentikan langkahnya.
Wajahnya menyimpan kesedihan namun langkahnya seperti orang yang menahan kemarahan.
Hilya menghentikan langkah tepat di depan pintu masuk lobi karena sebuah mobil menghadangnya.
Mario keluar dari mobil itu, kini mereka beradu pandang dengan saling membisu.
Sosok wanita hamil yang tak asing dimata Hilya turut keluar daei dalam mobil, dengan sangat percaya diri ia menghampiri Mario dan berdiri menjajari Mario.
Tak hanya itu ia pun melingkarkan tangannya pada lengan Mario.
Hilya masih tak bersuara. Ia menatap tajam pada Mario setelah ia melihat kedekatan mereka.
Mario menyingkirkan pelan tangan Badriah dari lengannya. Dengan tanpa mengalihkan perhatiannya pada Hilya.
"Kita perlu bicara."
__ADS_1
Mendengar itu Mario lantas maju satu langkah dan meraih tangan Hilya, menuntunnya dan memintanya masuk pada mobil Mereka pergi meninggalkan kantor.
"Dengar, aku mohon jangan berperasangka buruk tentangku, aku tidak seperti yang kamu pikirkan, aku—"
"Aku pikir kita bisa menjadi teman."
Mario terdiam menatap lurus jalanan yang nampak sepi karena mereka melaju di jalan tol.
"Aku kasian pada diriku sendiri, bahkan Alloh menginginkan aku untuk tidak memiliki teman."
"Hilya aku—"
"Tidak apa, kamu lanjutkan saja apa yang sudah kamu mulai. Sepertinya wanita itu sangat menyayangi dirimu."
"Tidak. Aku mohon dengarkan aku dulu."
"Aku akan mendoakan agar pernikahan kalian bahagia."
sifat egois Hilya sangat mendominasi.
"Hily—"
"Berhenti! Turunkan aku." pinta Hilya saat mereka telah keluar dari jalan tol.
"Tidak, kamu harus mendengar penjelasanku dulu!" Mario tak kalah ngotot, ia merasa frutasi melihat Hilya seperti ini.
"Berhenti!" pekik Hilya dengan suara yang lebih keras dari Mario.
Ctttttt ...
Mario mengerem mendadak.
"Aku moho—"
Brakkkkkk ....
Sebuah truk menabrak dari arah belakang.
Mendorong mobil Mario dengan keras hingga mobil terpental, berguling beberapa kali dan akhirnya berhenti dengan posisi terbalik.
* * *
__ADS_1
Bersambung.