
Mario menelan ludahnya saat perut ratanya diusab-usab Hilya, bahkan celana dasar yang ia kenakan terasa ketat akibat rudal yang aktif di bawah sana.
Mario menunduk melihat Hilya yang berjongkok posisi itu semakin membuat pikiran Mario berkelana, ia menggelengkan kepala mengusir pikiran mesum.
"Susudah, sudah." Hilya berdiri mendengar perintah Mario namun saat ia bangkit kepalanya justru membentur dagu Mario, karena posisi Mario yang menunduk dan Hilya berdiri dengan cepat, alhasil bibir bawah Mario mengeluarkan sedikit darah.
"Maaf, maaf." Hilya semakin panik, beberapa kali hendak mengulurkan tangan guna menggapai bibir yang berdarah itu namun selalu saja ia urungkan.
"Maaf," wajahnya nampak sekali kegugubpan.
Mario meringis, ia bahkan mengaduh sakit.
Luka yang seharusnya tidak perlu ia besar-besarkan, Mario justru bersikap seolah akan kehabisan darah, hingga membuat Hilya semakin panik.
Hilya meminta Mario untuk duduk pada sofa panjang, setelah itu ia mengambil P3K yang sempat ia lihat ada di pantri.
Setelah kepergian Hilya, Mario terkekeh kecil merasa puas karena berhasil mengerjai perempuan yang menurut Pelangi adalah mantan istrinya yang memilih menjauh ketika Mario membutuhkannya ketika mengalami cedera akibat kecelakaan.
Mario tak mengingat kenangan saat bersama Hilya, ia hanya mendengar dari Pelangi saja dan menyimpulkan bahwa wanita yang kini menarik pintu ruang kerjanya adalah bukan wanita baik-baik.
"Aku obati dulu ya." suara lembut Hilya yang meminta izin pada Mario untuk mengoleskan obat merah pada sudut bibir bawahnya yang pecah. Kini mereka duduk saling berhadapan di satu sofa yang panjang.
Mario mengaduh perih saat Hilya mengoleskan kapas yang sudah dibasuh dengan obat merah.
Melihat Mario meringis reflek Hilya meniup luka itu.
Desiran aneh mengisi relung hati Mario. Ia terdiam menatap wajah lembut Hilya yang sudah tidak terlihat cemas seperti beberapa menit lalu.
Dari ujung mata Hilya dapat melihat bahwa Mario menatapnya, Hilya menghentikan tiupannya menarik kepala hingga sedikit menjauh dari jarak dekat mereka.
"Maaf." Hilya duduk tegap tak berani melihat pada Mario, kepalanya menunduk sepuluh jarinya saling beradu kuku.
"Mengapa?" pertanyaan singkat Mario membuat Hilya reflek menatapnya. Hilya mengerutkan kedua alis tak mengerti dengan satu kalimat itu.
"Mengapa, kamu berada disini? Apa kamu mencoba merayuku lagi? Bukankah hubungan kita sudah selesai?"
Wajah lembut Hilya berubah sendu, terdapat genangan air mata yang ia tahan agar tak mengalir.
"Aku, aku butuh pekerjaan dan prusahaanmu membutuhkan tenaga tambahan, jadi, jadi, aku—"
"Apa kamu nyaman dengan pakaian kecil seperti itu?" Mario menyelisik tubuh Hilya dari bawah hingga atas.
"Apa kamu tahu otakku saja traveling melihat bentuk pinggang dan pantatmu yang bohay."
Mata Hilya terbelalak dan wajahnya memerah, ia tidak menyangka Mario akan berkata sevulgar itu.
"Ak—"
"Aku sih senang-senang saja, dapat suguhan menarik dari tubuhmu. Tapi apa kamu tidak merasa risih?"
"Tidak." Mario menunjukan wajah terkejut.
"Bukan, tidak, bukan begitu, iya tidak keberatan, bukan tidak, tidak seperti itu, maksudku tidak—"
__ADS_1
Mario terkekeh kecil melihat kegugubpan Hilya apalagi wajah Hilya nampak lucu ketika sedang gugub seperti ini.
"Maaf." Hilya menunduk, bibirnya mengatup rapat saat ia sadar dengan ucapannya yang salah hingga membuat Mario terkekeh.
Sungguh Hilya tak pernah menyangka dia bisa membuat Mario tertawa seperti ini, yang ia tahu Mario tak pernah tertawa saat bersamanya dulu, hingga Hilya berfikir Mario orang yang sangat kaku.
Sekarang ia menyadari bukan Mario yang kaku tapi dirinya lah yang membuat Mario lupa caranya tertawa.
Wajar jika Pelangi sangat menginginkan perpisahan mereka karena Mario bahkan kehilangan sisi kepribadiannya yang ceria.
"Pak, ada Tuan Gio ingin bertemu." Anju masuk setelah mengetuk pintu dan mendapat ijin, Anju melirik Hilya sesaat.
"Iya minta dia untuk masuk." perintah Mario. Anju membungkuk hormat sebelum keluar.
Melihat Anju bersikap hormat pada Mario membuat Hilya sadar jika ia pun harus bersikap demikian, mau bagaimana pun pria di sampingnya ini adalah bosnya bukan lagi sekedar suami. Hilya bangkit dari duduk dan membungkuk memberi hormat pada Mario, ia berpikir segera keluar dan kembali ke pantri melayani para kariawan ketika membutuhkan minum ataupun mengepel lantai yang kotor.
"Mau kemana?" tanya Mario saat Hilya terlihat akan pergi.
"Say—"
"Ambilkan kemejaku di ruang ganti." Mario selalu memotong pembicaraan Hilya sebelum ia menyelsaikan ucapan.
Mario menunjuk sebuah pintu kayu yang berada di sudut ruangan.
Hilya mengikuti arah ibu jari Mario, ia segera berjalan menuju pintu itu.
Dari belakang Mario terus memperhatikan liyukan tubuh dengan pakaian pas body itu.
"Ini Pak," Hilya memberikan kemeja berwarna abu-abu untuk mengganti kemeja putih yang basah akibat terkena tumpahan kopi.
Mario mengerutkan kedua alis, lalu menyeringai ia bangkit dari duduknya berdiri tegap di depan Hilya.
"Buka."
Hilya reflek mendonga guna menatap wajah pria yang entah bermaksud apa.
Hilya mencari kejelasan dengan menatap wajah pria tinggi di depannya itu.
"Bukain kemejaku, kan kamu yang buat ini basah, ayo tanggung jawab dong." pinta Mario.
Segera Hilya menyampirkan kemeja yang ia bawa, pada sisi lengannya agar kedua tangannya leluasa melepas kancing kemeja Mario.
Tangannya nampak gemetar Hilya harus mengontrol detak jantungnya agar tak semakin membuatnya kesulitan bernafas.
Dua kancing kemeja terbuka, menampakan dada putih milik Mario.
Mario menyeringai merasa puas dengan wajah gugup Hilya bahkan Mario sadar saat ini Hilya mengalami tremor.
Seluruh kancing telah terbuka, meskipun tak ada keinginan untuk melihat bentuk kotak-kotak perut Mario namun mau tidak mau Hilya harus melihatnya.
Hilya menarik lengan kemeja, hingga terlepas dari lengan Mario, lagi-lagi lengan itu nampak sangat seksi dengan otot yang menonjol kekar dan kokoh.
Mengapa saat bersama dulu Hilya tidak pernah melihat hal ini.
__ADS_1
Apakah kini ia menyesalinya.
Perlahan Hilya mengancingkan kemeja yang sudah terpasang di tubuh Mario.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Mario, Anju masuk bersama seorang pria yang merupakan direktur pemasaran prusahaan.
Hilya akan pergi ia sudah selesai dengan tugasnya, namun Mario menarik lengannya saat ia akan berbalik.
"Tunggu." cegah Mario hingga Hilya mengurungkan niatnya dan kembali tatapan mereka bertemu.
Mario meraih jas hitam miliknya di atas sofa.
"Jangan berkeliaran dengan pakaian yang membuatmu tidak nyaman." Mario menggantungkan jas miliknya pada kedua bahu Hilya.
"pakai ini," bisik Mario lirih di kuping Hilya.
"setidaknya lenggokan pantatmu tidak terlihat."
Hilya menegang. Wajahnya memerah lagi-lagi ia dibuat malu dengan perkataan vulgar Mario padanya.
"Cepat pergi" masih berbisik
"Mereka melihat wajah merahmu."
Hilya terbelalak, ia lantas membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan itu.
\* \* \*
Dengan mengenakan jas yang kebesaran milik Mario, Hilya melayani permintaan kariawan untuk sekedar membuat kopi dan sesekali membersihkan gelas kotor atau menyapu lantai.
Kepala HRD sempat menegurnya tentang jas yang ia pakai, tapi ia berdalih kemeja yang ia kenakan sobek di bagian ketiak, hingga atasannya membiarkan Hilya bekerja dengan memakai jas besar itu.
Hari sudah sore, jam kantor sudah berakhir sejak 30 menit lalu. Gedung itu mulai sepi, tapi tugas Hilya belum selesai wanita dengan pasmina dan jas yang kebesaran itu masi nampak membersihkan pantri sebenarnya ini tugas Rindu tapi lagi-lagi gadis remaja itu melimpahkan pekerjaannya pada Hilya, hingga Hilya harus bekerja sedikit lama.
Hilya keluar dari kamar mandi setelah ia berganti baju, ia nampak menjinjing sebuah plastik putih berisi seragam kerjanya.
Tiba-tiba terjadi pemadaman listrik, Hilya bersyukur karena ia sudah keluar dari kamar mandi jika tidak, maka dia pasti sudah menjerit ketakutan.
Hilya tidak suka gelap, ia segera merogo tas selempangnya mencari ponsel untuk penerangan.
"Gelap sekali, apakah sudah tidak ada orang?" Hilya membuang rasa takutnya, ia menggunakan ponsel untuk melihat arah.
Koridor itu nampak sangat panjang, langkahnya terhenti saat cahaya senter lain mengarah padanya dari jarak yang tidak jauh.
"Si—siapa disana?" tanya Hilya karena ia tidak dapat melihat wajah di balik cahaya yang mengarah padanya.
Lampu menyala kembali dan Hilya terdiam menatap Mario yang juga menatapnya.
Mario mengulas senyum.
* * *
Bersambung.
__ADS_1