
Seluruh sembako sudah dikemas rapih dan siap mereka berikan pada orang yang membutuhkan. Sudah beberapa bulan sejak ngidam baru kali ini Hilya kembali ikut sibuk dalam menyiapkan keperluan sembako.
Antusias Hilya mengalahkan rasa lelahnya, ia sangat senang saat bisa kembali aktif dalam kegiatan rutin bulanan yang biasa ia lakukan.
Tidak ada yang tahu pasti penyebab Hilya sakit berbulan-bulan. Hingga memutuskan off mengajar dan kegiatan pesantren lainnya, kehamilannya pun belum terlihat karena usia kandungan masih sangat muda. Namun ia merasakan morning sikness yang ia alami sudah berangsur membaik, pola makannya sudah kembali normal bahkan ia mulai bisa memakan semua jenis makanan.
"Ustadzah, sepertinya Mas Mario sedang bicara serius pada kedua tamu itu" ucap Loly saat melewati pelataran pendopo.
Jarak antara taman pendopo dengan jalan yang Hilya dan para santri lalui lumayan jauh hingga mereka tak dapat mendengar percakapan antara Mario, Kenzo dan Badriah.
"Biarkan saja, jangan pedulikan. Ayo kita sudah kesiangan." Hilya berjalan mendahului mereka.
"Ustadzah, mengapa tidak ajak Mas Mario untuk turut membantu kita?" tanya Loli saat mobil mereka sudah meninggalkan pesantren.
"Mengapa harus mengajaknya, bukankah kita sendiri sudah cukup."
"Bilang saja jika kamu cuma ingin mandangin wajah ganteng Mas Mario." sahut Rani hingga mendapat kekehan dari 3 santri lainnya.
"Kalian ini, apa bagi kalian wajah itu lebih penting dari pada ahlak? Mengapa sangat menyukai wajah tampan dari pada ahlak mulia?" tanya Hilya hingga menghentikan kekehan pada para santri.
"Ustadzah benar, tampan belum tentu ber'ahlak mulia." timpal sopir mereka.
"Tapi kalo Mas Mario itu paket lengkap Mang." jawab Sisi membuat anggukan setuju dari 4 temannya.
"Udah ganteng, pinter, baik hati dan ber'otot." sahut Rani hingga terdengar kekehan dari para santri.
"Benar juga sih." Pak Sopir membenarkan
"Dan jangan lupa, orang yang kalian puja2 itu sudah menikah." wajah Hilya berubah serius saat itu juga.
Hingga membuat mereka terdiam seketika.
"Ran, bukannya kamu bilang rela jadi istri ke duanya." ucap Susi gadis berusia 17 tahun yang terkenal sangat lugu. tidak mengerti perubahan suasana mobil yang mendadak senyap, hingga Hilya menatap pada Rani dengan sangat intens.
"E...itu, itu." Rani menjadi sangat gugub.
"Lo-Loli juga, dia mau misal jadi istri kedua Mas Mari...o." Rani menjadi bertambah khawatir.
"Ti-tidak, tidak aku tidak sungguh-sungguh waktu itu, hehehe benarkan Ran, kita hanya becanda."
"I-iya, Ustadzah." Rani mengiyakan dengan perasaan tak karuan.
"Jangan menilai seseorang hanya dari luarnya saja." Hilya akhirnya bersuara setelah ia terdiam dengan wajah seriusnya.
__ADS_1
"yang kalian lihat baik di luar belum tentu dalamnya juga baik. Jadi jangan terburu buru dalam menilai seseorang hanya karena tampilan luarnya, terlebih itu seorang pria yang akan kalian nikahi nantinya."
"Baik Ustadzh" mereka mengiyakan agar permasalahan tidak berbuntut panjang. Bagaimanupun setatus mereka hanya sebatas murid dan guru.
Setelah berjalan sekitar satu jam dari pesantren mobil berhenti di tanah lapang di sebuah pemukiman warga padat penduduk di pinggiran kota, sudah banyak warga yang menunggu disana dengan kupon masing-masing.
Mereka berbaris rapih bukan hanya kali pertama untuk mereka sehingga mereka dapat tertib tanpa harus dikomando.
Satu persatu mendapat giliran. Tak jarang pula mereka bertanya pada Hilya karena sudah 4 kali pertemuan Hilya tak terlihat.
Tidak ada tanggapan serius dari Hilya ia hanya tersenyum setiap kali ada orang yang bertanya.
"Ustadzah, apa sedang hamil ya?" ucap seorang wanita paru baya pada beberapa ibu-ibu setelah mendapat giliran menerima sembako.
Mereka berjalan meninggalkan lokasi dengan menenteng plastik besar yang cukup berat.
"Iya, bentuk tubuhnya berbeda." jawab salah seorang ibu.
Loli membungkuk sopan saat mereka melewatinya.
Loli mengerutkan kening saat ia melihat pada Hilya, karena loli sempat mendengar ucapan dari ibu-ibu itu.
"Hamil?" gumam Loli. ia memandangi Hilya baginya tidak ada yang berbeda bahkan perutnya saja datar tidak terlihat sedang hamil. lalu apa yang mereka lihat hingga membuat asumsi bahwa Hilya hamil.
Paket sembako sudah tak tersisah begitupun para warga, hanya beberapa bapak-bapak saja yang tersisah nampak masih mengobrol.
Mobil yang Hilya dan santri tumpangi meninggalkan pemukimam itu.
Baru berjalan beberapa meter dari lokasi dan kini nampak berhenti ketika Hilya memintanya.
Hilya melihat Anju tengah berdiri di depan rumah salah seorang warga.
"Ustad, benar Ustad itu Mas Anju asisten Mas Mario." ucap Susi. Membuat keyakinan Hilya bertambah, karena jarak mereka cukup jauh sekitar 15 meter dari jalan.
"Mungkin itu rumah Mas Anju Non." pak sopir ikut berpendapat.
"Ayo kita pergi." pinta Hilya
Belum mobil berjalan. Mario sudah terlihat keluar dari rumah itu.
Hilya kembali menoleh saat suara Rani yang memberitahunya.
Hilya mengerutkan keningnya hingga kedua alis hampir bertautan.
__ADS_1
Pertanyaan mengapa Mario ada di rumah itu bersama wanita dengan hamil besar tersimpan dalam benaknya, karena ia tahu bertanya pada santri pun tidak akan mendapat jawabpan pasti.
Mario dan Anju pergi menaiki mobil, dan wanita itu justru turut ikut bersama mereka.
"Pak ikuti mereka." pinta Hilya.
Namun segera ia sadar dengan para santri yang bersamanya, ia tidak mungkin melibatkan mereka dalam urusan pribadinya.
"Pak, kita kembali ke pesantren saja. Lagi pula santri ada jadwal pelajaran dari Ustad Musa 2 jam lagi."
"Baik Ustadzah." jawabpan pak sopir membuat para santri terlihat kecewa, karena mereka pun penasaran pada sosok wanita hamil itu, meskipun begitu mereka tak dapat berasumsi jauh karena dapat menimbulkan fitnah.
'Mungkin itu kerabat Mas Anju' Hilya kembali meyakinkan dirinya, karena dari apa yang ia lihat Mario nampak acuh pada wanita hamil itu.
Justru Anju yang menuntun dan membukakan pintu mobil. Mario pun nampak memilih duduk di bangku depan membiarkan wanita itu duduk sendiri di belakang.
Hilya dapat bernafas lega, setelah ia menimangnya. Khawatir yang sempat ia rasakan kini menghilang.
Sudah 3 jam sejak Hilya kembali ke pesantren. Meskipun ia berfikir positif namun ia kembali teringat wajah wanita itu, wanita hamil yang ia jumpai pagi tadi di pendopo bersama Kenzo.
"Assalamualaikum, Umi." ucap seorang santri.
Hilya berada di kamarnya dan dapat mendengar suara Umi yang menjawab salam dari santri.
Hilya berjalan keluar karena ia mendengar berbincangan ketua RT pada Umi.
Hilya duduk di kursi panjang dekat Umi.
"Tapi bukankah pernikahan putri saya sudah terdaftar di KUA pak? mungkin bapak salah rumah?" jawab Umi setelah pak RT menyerahkan sebuah amplop putih yang tertutup.
"Tapi ini benar, sesuai alamat Mi dan saya menerima surat permohonan ini dari KUA setempat."
Umi lantas meraih amplop putih itu membuka isi surat permohonan ijab kabul pada tanggal 15 okteber, yang artinya 4 hari dari sekarang.
Hilya meraih kertas putih itu dari tangan Umi, ia membacanya dengan genangan air mata bahwa terdapat nama Mario sebagai pemohon.
"Tolong sampaikan pada Mas Mario untuk mendatangininya setelah itu berikan lagi pada saya, agar saya menyerahkan pada Pak Bejo untuk diproses, dan ini" Pak RT memberikan selembar surat pada Hilya." mohon tanda tangan Ustadah Hilya sebagai persetujuan istri pertama. saya permisi Umi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab Umi lirih, hampir tak terdengar.
"Astafirloh..." Umi mengusab dada saat Hilya beranjak dari duduknya. Ia tatapi punggung putrinya yang berjalan dan menghilang di balik pintu kamar.
***
__ADS_1
Bersambung.