
Mario duduk pada kursi roda menengadah menatap langit berwarna jingga dari balkon kamar.
Kecelakaan 3 bulan lalu membuatnya harus berjuang untuk kembali pulih, ia menjalani trapi pada kedua kakinya sedangkan trauma pada kepala menyisahkan dampak yang cukup serius. Ia kehilangan sebagian daya ingatnya tak hanya itu Mario juga kehilangan sebagian kemampuan berbahasa dan bicara.
Kondisinya berangsur membaik setelah mendapatkan pengobatan, hingga pada saat ini kemampuan bicara dan berbahasa sudah mulai normal, meskipun tidak sebaik dulu tapi dokter meyakinkan bahwa kondisi Mario mengalami kemajuan yang baik.
Keputusan memilih berpisah ditetapkan oleh kedua belah pihak dari keluarga Mario dan Hilya.
Menimbang banyak hal tentang hubungan mereka, memang berpisahlah jalan terbaik.
Terlebih dengan kondisi Mario saat 3 bulan lalu, bahkan namanya sendiri ia tidak ingat, lalu kakinya pun mengalami cedera hingga membuatnya harus memakai kursi roda.
Ibu meminta Umi untuk membawa Hilya menjauh dari Mario, itulah satu-satunya jalan agar Hilya dapat memulai kehidupan baru dan bahagia. Dengan pertimbangan itu Umi menyanggupi, karena Umi pun merasa Hilya tidak pernah menginginkan pernikahan ini, terlebih kandungan dan rahim Hilya sudah tidak seperti dulu.
Umi takut mengecewakan keluarga Mario, bahkan Umi memiliki prasangka bahwa orang tua Mario hanya beralasan, agar Hilya dapat pergi karena sudah dipastikan Hilya tidak dapat memberi mereka keturunan.
Umi memikirkan perasaan mereka, dan menimbang kembali kebahagian Hilya.
Hilya tak memberi jawabpan atas permintaan Umi. diamnya Hilya, Umi anggap sebagai persetujuan.
Hingga akhirnya mereka memilih pulang ke solo.
"Mario, kenapa masih disitu?" Ibu menarik kursi roda Mario. Karena hari mulai petang dan Mario sudah cukup lama berada di teras kamar.
"Kenzo sudah menunggumu untuk makan malam." Ibu mendorong kursi roda kian menjauh dari teras memasuki lif guna membawa Mario menuju lantai bawah.
"Bu. Siapa wanita yang difoto ini?" Mario memberikan bingkai foto yang sedari tadi ia pangku.
"Ingatanku masih lemah, aku tidak mengingat wanita ini."
Ibu meraih foto itu, suara dentingan lif terdengar dan pintunya terbuka.
"Ayo kita makan dulu." Ibu mendorong kursi roda kian mendekat pada meja makan yang sudah terisi oleh beberapa wajah yang Mario klaim sebagai keluarga, karena mereka selalu membantu dan baik terhadapnya.
Ingatan itu bersih, Mario kembali memulai awal baru dengan mengisi kekosongan ingatannya. Ia belajar hal baru dari berbahasa, cara bicara dan nengenali seseorang.
Tidak ada yang menyinggung sosok wanita dalam foto itu.
Semua diam saat Mario bertanya tentang wanita dalam foto itu.
"Tuan biarkan saya yang mengurus janda itu." Anju membungkuk hormat saat akan bicara pada Dimas dan Kenzo.
"Hem, pastikan kamu membuatnya jerah. Aku sudah lelah dengan ocehan tidak masuk akal darinya." Ucap Kenzo dingin.
"Baik Tuan." Anju membungkuk hormat sebelum pergi.
"Nah, gitu dong Om." suara Pelangi tiba-tiba saja terdengar dari arah dapur. Sosok itu kian mendekat pada meja makan dengan sepiring potongan buah ditangan.
__ADS_1
Perutnya sudah mulai menonjol pada usia kandungan 5 bulan. Berat badannya semakin bertambah bahkan kedua pipinya terlihat sangat gembul, Kenzo menyebutnya pipi bakpao.
"Aku 'kan sudah bilang, wanita seperti itu tidak pantas dikasih jeroan. Yang ada dia ngelunjak. Rumah udah, tunjangan udah, masak dia masih mau minta Kakak."
"Ya! seharusnya memang seperti ini. Kita harus melawan." sahut Ibu tak terima putranya menjadi korban keserakahan janda bolong.
"Anju dan pengacara akan mengurusnya, kita akan membuat pengaduan pada pihak polisi."
"Apa semua ini benar Zo? Apa tidak masalah karena kita memainkan hukum negara dengan uang?" timpal Ayah.
"Om, jika tidak bermain curang dengan menyuap hakim dan penghancuran barang bukti kita akan membuat Mario menanggung resiko, kita tidak bisa membiarkan hidupnya hancur ditangan janda serahkah." sahut Kenzo.
Dan mendapat anggukan dari Pelangi. Karena ide curang itu bersumber dari Pelangi.
"Kita selesaikan saja dengan yang sudah kita mulai, media tidak akan berani memberitakan pengaduan dari janda itu karena saya sudah mengancam semua awak media. Yang jelas kita sudah memberikan tunjangan finansial padanya hingga anak-anaknya masuk perguruan." timpal Kenzo lagi.
Mario tak berkomentar, ia mengamati percakapan mereka. seperti sedang belajar mengenali karakter dari anggota keluarga itu.
"Kak. Setelah makan ikut aku keruang medis ya, aku mau tunjukin sesuatu sama kakak."
Mario tersenyum dan mengangguk. Diantara anggota keluarga hanya Pelangi yang paling sering membuatnya tersenyum. Mario selalu mencari Pelangi saat Pelangi tak terlihat olehnya.
"Modus!" pekik Kenzo tak suka pada Mario.
"Jangan cemburu." kalimat itu keluar dari mulut Ibu.
"St ...berisik." Pelangi mendelik tajam, lantas ia beranjak mendorong kursi roda Mario. Kenzo tak tinggal diam dia mengikuti arah Pelangi dan Mario.
Dokter mengoleskan jel lembut pada area perut Pelangi, lalu menempelkan alat pendeteksi detak jantung pada janin.
Suara detak jantung dari janin itu terdengar disertai gemuruh kecil.
Layar monitor menunjukan pergerakan janin dalam kandungan yang sudah berbentuk bayi namun ukurannya masih kecil.
Takjub. Itulah yang tersirat pada wajah Mario.
Sesangkan Kenzo, ia tak henti mengusab kepala Pelangi yang saat ini terlentang diatas ranjang pemeriksaan.
"Mas, aku yakin Safira akan senang jika melihat ini." Pelangi memeringkan wajah menoleh pada Kenzo.
"Bayinya sehat Nyonya dan perkembangannya baik." Dokter wanita itu menyela ucapan Pelangi dan mengakhiri pemeriksaan.
"Terima kasih Dokte." ungkap Pelangi seraya dibantu Kenzo untuk duduk.
"Mas, kapan kita menjemput Safira?"
Mario mengerutkan kening. Mungkin ia masih asing dengan nama Safira, karena memang mereka belum menceritakan tentang Safira.
__ADS_1
"Tidak sayang, bukan kita yang menjemput tapi mereka yang akan mengantar. Kak Reidan sudah menyanggupi akan mengantar Safira 3 hari lagi."
"Peyukkk..." Pelangi memeluk tubuh kekar Kenzo dengan sangat manja.
"Auh ..."Pekik Kenzo.
"Kenapa?" Pelangi menatap wajah Kenzo.
"Ada yang bangun." Kenzo berbisik pada telinga Pelangi, sehingga Pelangi memukul lengan Kenzo.
Jika sudah seperti itu, Dokter dan Mario memilih keluar dari ruangan medis itu.
Dokter membantu Mario mendorong kursi rodanya.
Cup ...
Kenzo mencium bibir ranum Pelangi.
"Ih." Pelangi kembali memukul lengan Kenzo.
"Kok cuma sebentar sih?" ucapan Pelangi membuat Kenzo terkekeh, ia pikir Pelangi akan protes dan marah karena mencium sebarangan.
Tapi ternyata Protesnya itu karena ciumannya singkat.
"Mau lagi?" tanya Kenzo dan segera mendapat anggukan dari istrinya.
"Kita ke kamar?" tanya Kenzo lagi. Dan Pelangi segera mengangguk semangat.
"Siap," Kenzo menangkat tubuh mungil itu. Berjalan melewati koridor.
Pelangi mengalungkan tangannta pada leher Kenzo.
ia menciumi pipi Kenzo gemas.
Tawa mereka menggema di koridor rumah besar milik Kenzo.
* * *
Hilya menutup lembar Al'quran berdoa menegadahkan tangan lalu mengusabkan pada wajahnya.
fikirannya kembali mengingat sosok Mario yang kini sudah jauh darinya.
"Apakah dia masih mengerjakan sholat? siapa yang menuntunnya untuk ibadah? apakah dia masih belum mendapatkan ingatannya? benarkah aku jika memilih melepaskannya?" Hilya terdiam dalam pertanyaan yang ia tujukan pada dirinya sendiri.
Cintanya terlalu dangkal untuk bersanding dengan cinta milik Mario.
* * *
__ADS_1
Bersambung.