
"Stop. cukup disini saja." cegah Hilya ketika mobil Mario mencoba memasuki gerbang pesantren Darul Islam.
"Aku akan mengantar dan bertemu kedua orang tuamu."
"Tidak. tidak perlu aku turun disini saja."
namun mobil Mario tetep berjalan meskipun dengan lamban karena banyak santri berlalu lalang di pelataran pesantren.
"Tidak. kamu tidak perlu turun." cegah Hilya ketika Mario sudah membuka pintu mobil hendak turun.
"Aku tidak ingin terjadi fitnah, tolong fahami posisiku. biarkan aku menyelsaikan sendiri masalah pribadiku."
Mario terdiam ia nampak menimang ucapan Hilya.
"Baiklah, tapi sore nanti kamu harus menemuiku di cafe Pelangi. jika tidak aku yang akan mendatangimu disini."
dengan rasa kuatir namun tidak ada pilihan lain sehingga Hilya menyanggupi permintaan Mario.
Hilya menundukan pandangannya setelah beberapa detik mereka saling memandang.
"Baiklah, apa kamu akan tetap disini?"
Hilya kembali menatap Mario sebelum akhirnya ia menarik handel pintu dan menginjakan kaki kananya pada ubin jalan.
"Istirahat yang cukup." ucapan Mario memperhatikan pegerakan Hilya, meskipun Hilya tidak menoleh untuk menatap lawan bicaranya namun Hilya merespon ucapan Mario dengan menahan pergerakannya untuk keluar dari mobil.
"Dan jangan keluar rumah jika aku tidak memintanya."
Perintah Mario berhasil membuat Hilya merasa tidak nyaman.
tanpa berucap Hilya menutup pelan pintu mobil ia berjalan perlahan meninggalkan Mario, sementara Mario masih tetap menatapi kepergian Hilya hingga kedua orang tua Hilya datang menghampiri.
Mario tersenyum menyaksikan Hilya dan Umi yang berpeluk haru.
beberapa kali Umi menciumi pipi Hilya.
"Maafkan Hilya Umi, Abi. Hilya sudah membuat Umi dan Abi khawatir."
Umi mengangguk karena terlalu berat untuk bersuara.
"Umi lebih baik kita bicara di dalam saja." pinta Abi.
"Iya Abi, ayo Umi kita masuk ke dalam." ajak Hilya, namun sebelum ia melangkah masuk ia menoleh pada mobil Mario.
Mario mengulas senyum kembali. sebuah senyuman yang tak mampu ia perlihatkan pada sembarang orang.
.
.
.
"Jelaskan pada kami Hilya, apa yang telah menimpahmu sehingga kamu membuat kami cemas?" tanya Abi pada Hilya dengan menggenggam telapak tangan Hilya.
"Abi, Umi. sebenarnya Hilya." Hilya terdiam ia tidak tahu harus bicara apa, sedangkan ia tidak pandai untuk berbohong.
"Apa kamu baik-baik saja Nak?" tanya Abi sementara Umi memeriksa kedua lengan Hilya.
"Apa kamu terluka Nak?" tanya Umi.
Hilya menggeleng
"Hilya pingsan saat melewati komplek perumahan dan ada keluarga baik yang menolong Hilya Mi, Bi." jelasnya.
__ADS_1
Abi dan Umi terdiam saling memandang.
"Pingsan? apa kamu sakit Nak?"
"Tidak Umi, sekarang Hilya sudah baik-baik saja. mereka mengobati dan merawat Hilya."
"Apa kamu pulang dengan diantar mereka nak?
mengapa tidak kamu ajak mereka masuk untuk bertamu."
"Mereka terlalu sibuk Bi." sanggah Hilya menutupi kejadian yang sebenarnya.
namun Umi merasa tidak puas dengan cerita Hilya, terlebih Hilya tidak bisa berbohong ia akan gugup dan berkeringat ketika mengatakan suatu kebohongan dan hanya Umi yang dapat merasakan kebohongan Hilya
"Umi, Abi. Hilya minta maaf untuk kesalahan Hilya, terlebih keluarga ustad Azis pasti merasa sangat kecewa pada keluarga kita."
"Itu bisa kita bicarakan nanti Nak, yang terpenting kamu sudah kembali dengan selamat."
Hilya mengangguk saat umi mengusab ujung kepalanya.
gadis dengan ukuran tubuh mungil ramping yang hanya setinggi 156cm dengan bola mata bening bulat dan bulu mata lentik itu tersenyum menampakan taring giginya yang gingsul.
* * *
Motor Hilya terparkir didepan tokoh bunga milik Bulek Esi, seorang wanita yang menjadi ibu Asi baginya.
namun ia menjumpai Gibran yang sedang memarahi Bulek Esi.
hingga Hilya memutuskan untuk segera masuk dan membela Buleknya.
"Gibran, apa yang kamu lakukan? kamu menyakiti ibumu."
"Aaaa berisik!" Gibran mendorong Hilya.
"Hilya! .." bulek membantunya untuk berdiri kembali.
"Kamu terluka nak?" keluh Bulek saat telapak tangan Hilya mengeluarkan darah karena lecet.
"Tidak bulek, ini hanya luka kecil."
"Ck..." Gibran memincingkan lengan ia semakin sebal melihat Hilya.
"Gibran kamu tidak perlu mendorong Hilya seperti itu!" pekik Bulek tak terima dengan kelakuan kasar Gibran pada Hilya.
"Belain aja terus Buk. anak ibu itu aku, bukan dia!"
"Jika sadar kamu anak Ibu tunjukan!" Ibu sudah tidak bisa bersabar lagi.
"Setidaknya hormati kami, sayangi kami sebagai orang tua nak."
suara bulek mulai bergetar karena menahan tangis.
"Aaaa....!" Gibran justru mendorong tubuh Bulek beruntung Hilya menahan tubuh Bulek hingga tidak terjatuh.
"Gibran!" pekik Hilya namun Gibran tidak menghirau dan tetap berjalan meninggalkan tokoh.
"Gibran dengarkan aku.." Hilya memegang lengan Gibran hingga Gibran menghentikan langkahnya.
"Gibran aku mohon, sekali ini saja tinggalkan pergaulanmu yang salah." suara lembut gadis itu mampu membuat Gibran terdiam namun tak bertahan lama hatinya terlalu keras untuk menerima nasehat dari Hilya hingga ia mengibaskan lengannya membuat pegangan Hilya terlepas dan tubuhnya terhuyung tak seimbang.
"Urusi saja hidupmu sendiri. kali ini aku memaafkan mu tapi lain kali jika kamu mencampuri urusanku aku tidak akan segan memberi pelajaran padamu."
Peringatan pelan dari Gibran membuat Hilya terdiam menatap pria yang masih saudara Asi dengannya.
__ADS_1
Gibran meninggalkan tokoh dengan mengendarai motor besar yang bersuara bising.
Hilya menghela nafas dengan menatapi kepergian Gibran.
* * *
"Pak ini informasi yang dapat kami kumpulkan." Yuni meletakan sebuah map biru.
Mario mengangkat map dan Yuni membungkuk sebelum ia keluar dari ruangan.
"Hilya Humairah," ucap Mario dengan tersenyum disaat ia menatapi foto Hilya.
ia membaca seluruh data mengenai Hilya yang ia dapatkan dari seorang detektif.
"Kau akan bertekuk lutut padaku. lihat saja kau akan jadi milikku."
Mario bangkit dari kursi lalu meraih ponselnya dan berjalan keluar.
"Pak " Yuni membungkuk hormat disaat sang CEO melewati meja kerjanya.
"Siapkan mobil." pintanya dengan berjalan dan Yuni mengekori.
"Tapi Pak, 10menit lagi ada rapat penting mengenai pembangunan proyek baru kita."
Langkahnya berhenti mendadak hingga Yuni menabrak punggung Mario segera Yuni mendur dua langkah dan membungkuk hormat.
"Maafkan saya pak." pinta Yuni dengan suara takut.
"Sih tua mesum itu selalu saja membuatku sibuk." gerutu Mario terhadap Kenzo yang selalu saja memberinya pekerjaan lebih.
"Jika seperti ini terus aku benar-benar akan menjadi bujang kadarluarsa!"
Yuni terlihat menahan tawa dan menunduk mendengar ucapan sang Bos.
* * *
Hilya menahan perih saat Bulek Esi mengoleskan obat luka pada telapak tangannya.
"Hilya, tolong maafkan Gibran." pinta Bulek dengan menatapi luka Hilya.
"Apa Bulek menghawatirkan Gibran?"
"Entahlah, Bulek sungguh tidak mengerti dengan pola pikirnya."
"Sejak kapan Gibran seperti ini Bulek? saat Hilya tinggalkan dulu dia masih baik-baik saja."
"Tepatnya 3tahun yang lalu Nak, saat pertama kali dia mengenal wanita itu."
"Wanita?"
"Ya, seorang wanita pekerja__. ." ucapan Bulek menggantung membuat Hilya menatapnya serius.
"PSK?" tebak Hilya karena wajah Bulek sudah terlihat sedih dengan mata berkaca kaca.
bulek mengangguk hingga Hilya menghela nafas berat.
namun detik berikutnya Hilya merangkuh tubuh tua dengan hijab syari itu.
"Insya Alloh jika kita selalu berpasrah diri Alloh akan menunjukan jalannya, Bulek yang sabar ya dan tetap berdoa semoga Gibran mendapat hidayah."
"Amin" seru Bulek.
* * *
__ADS_1
Bersambung.