Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Takut


__ADS_3

Hening....


ruang tamu yang berisi 2 anggota keluarga itu terasa senyap.


tidak ada yang memulai percakapan setelah beberapa jam lalu terjadi perdebatan kecil.


Suara jarum jam dinding terdengar mendominasi ruangan yang berikuran 10x10 persegi itu.


sajian di atas meja nampak masih utuh tak tersentuh.


Kiayi Abdul melihat jam di pergelangannya.


"Sudah pukul 9 malam, dan putri kiayi belum juga kembali, apakah memang dia terbiasa pulang larut?"


"Tidak kiayi, tidak biasanya Hilya seperti ini." jawab kiai Rozak.


Umi semakin khawatir karena ponsel Hilya aktif namun panggilannya tidak terjawab.


sedangkan ia sudah menelpon bulek dan mereka mengatakan Hilya sudah kembali sejak bagda magrib lalu.


"Jika demikian, kami harus kembali memikirkan tentang perjodohan ini kiayi." ucap Kiayi Abdul pada Kiayi Rozak.


"Mohon maafkan kesalahan kami kiayi."


Pinta Abi Rozak.


"Kami permisi."


pamit Kiayi Abdul, tanpa menerima uluran tangan tangan Abi Rozak.


ia keluar rumah begitu saja, bersama sang istri dan Azis yang mengekor di belakangnya.


"Bi, sepertinya mereka kecewa pada kita bi."


keluh Umi. lalu menghela nafas panjang, begitupun Abi.


"Maafkan umi Abi."


"Sudahlah Mi. lebih baik kita cari putri kita."


Abi berjalan keluar rumah.


meskipun Abi tidak berkata apapun namun dari sikap dinginnya Umi tahu bahwa suaminya ini sedang kesal.


terlebih ia tidak meminta izin pada Abi dahulu saat ia menginzinkan Hilya untuk keluar rumah.


Mobil Kiayi Rozak mulai meninggalkan pekarangan pesantren.


dan memasuki area pembangunan perumahan yang terletak dipinggiran jalan.


"Bi, .." ucap Umi saat ia melihat sebuah motor metik putih yang terparkir dipinggir jalan.


"Bi itu seperti motor Hilya Bi."


Abi menepi dan mereka tergesah menuruni mobil lalu menghampiri motor metik itu.


"Bi, lihat ini tas Hilya bi." Umi mengambil tas kecil yang tergantung di motor.


ia membuka isi tas dan terdapat ponsel serta dompet Hilya.


"Bi, ayo kita cari mungkin Hilya berada disini." ajak sang umi seraya berjalan penuh dengan kepanikan, ia mengedarkan pandangan keseluruh arah, dengan memanggil-manggil nama putri tercintanya.


"Umi! . . ." triak sang Abi ketika ia mendapati jam tangan Hilya yang berada di pinggiran lobang tempat dimana Hilya terjatuh.


Umi yang berjarak sekitar 12meter dari Abi, segera berlari menghampiri.


"Bi, ini ...ini ...ini milik anak kita Bi!" seru Umi, seketika itu tubuh tuanya jatuh ketanah tak sadarkan diri.


* * *


Ibu duduk disamping Mario di sisi tubuh Hilya yang masih tak sadarkan diri, diatas ranjang king size milik Mario. dengan kain kompres menempel pada kening Hilya untuk meredahkan suhu tubuhnya yang panas.


"Bu, apa dia akan baik-baik saja?" tanya Mario pada sang Ibu namun pandangannya masih menatapi wajah lembut nan cantik dengan bibir tipis yang berwarna peach.


"Kamu sudah 99x menanyakan pertanyaan yang sama Yo. kamu dengar sendirikan dokter Reza berkata apa tadi?"


"Hem.." Mario menanggapi dengan malas.


karena hatinya terasa gelisah.


"Bu. apakah dia akan membenci Mario?"


"Untuk apa dia membencimu tanpa alasan?"

__ADS_1


"Mario sangat mencintainya Bu." Mario menatap serius wanita yang sudah melahirkannya 25tahun silam itu.


Ibu tersenyum.


"kamu lelaki baik dan dari keluarga baik-baik, kamu sukses dengan karirmu, masih muda, tampan dan singgel, tidak ada alasan bagi wanita untuk tidak menerimamu nak. apa yang kamu takutkan?"


"Ada kebencian di matanya Bu! " jawab Mario dengan masih memandangi wajah Hilya.


"Jika memang begitu pasti ada alasannya kan nak?" Umi bertanya dengan menyelisik wajah Mario.


Mario terdiam, mengingat kembali kejadian saat dia berbuat kasar pada wanita dan mungkin Hilya melihat itu sehingga ia menjadi syok dan takut saat melihat Mario, namun Mario tidak bisa berkata jujur pada Ibunya.


* * *


Kumandang adzan subuh membangunkan Hilya dari tidurnya,


ia menyingkirkan kain kompres yang menempel di kening lalu memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Kepalaku," lirih Hilya dengan memijat pelan keningnya.


"dimana ini?" Hilya mulai bingung dengan situasinya saat ini, ia mengedarkan pandangan menyelisik isi kamar.


dan mencoba mengingat kejadian terakhir kali.


"Pria itu. pria jahat itu"


Hilya menyibakan selimut ia hendak turun dari ranjang, namun pergerakannya terhenti saat ia mendengar pintu kamar itu terbuka.


Hilya terdiam, dengan tangannya yang meremas selimut dengan kencang.


Mario berjalan mendekatinya, namun Hilya menggeleng dengan memberi tatapan takut pada Mario.


"Tidak. jangan mendekat!"


Hilya sangat ketakutan begitu melihat Mario.


"Tidak, tidak aku tidak akan menyakitimu." ungkap Mario seraya berjalan mendekat.


Hilya segera bangkit ia berlari dan meraih pena diatas meja lalu ia mengarahkannya pada Mario


"Dengar. aku tidak segan-segan menyakitimu jika kamu mendekat!"


ancam Hilya pada Mario dengan menggunakan ujung pena.


"Tidak. kamu salah faham aku tidak akan menyakitimu. sungguh!"


Mario melangkah hendak mendekat.


"Berhenti! aku bilang berhenti disitu!" pekik Hilya dengan kepanikan.


"Tidak, kamu salah faham sungguh."


"Apa kamu membunuhnya, setelah, selah kamu menodainya, aju akan menelpon polisi!"


Hilya meraih telpon rumah diatas meja, tangannya gemetar saat menekan nomer.


Mario benar-benar bingung harus berbuat apa.


ia menarik nafas dalam, sementara Hilya berbicara pada polisi.


"Aku, aku tidak tahu ini dimana" ucap Hilya ketika polisi menanyai keberadaannya.


"Jalan cendana nomer 114" sahut Mario, dan Hilya segera menyampaikannya pada polisi.


lalu ia menutup sambungan telponnya.


"Polisi akan segera datang dan menangkapmu!" seru Hilya dengan masih menodongkan ujung pena ke arah Mario.


Mario memijat keningnya, karena Hilya masih saja tidak mengerti dengan penjelasan yang ia berikan.


.


.


.


"Selamat pagi nyonya Sastriaji." sapa seorang polisi dengan dua diantaranya.


"Selamat pagi. ada apa ya pak?" jawab Ibu dengan masih berdiri di depan pintu.


"Mohon maaf karena telah mengganggu pagi anda di jam seperti ini. kami mendapat laporan kejahatan dari rumah anda."


"Apa?" Ibu terjekut dengan penjelasan itu.

__ADS_1


"Dengan segala hormat ijinkan kami memeriksa kediaman anda Nyonya."


"Baik, silahkan pak."


Hilya berlari menuruni tangga. dan langkahnya semakin kencang saat ia melihat polisi di depan pintu.


"Pak. tolong saya pak, saya, saya.."


pinta Hilya pada 3polisi itu.


"Tenang Nona." pinta salah satu polisi pada Hilya, yang terlihat sangat cemas.


"Selamat pagi tuan Mario." polisi itu membungkuk memberi hormat.


"Maaf karena bertamu dipagi buta, namun kami hanya melayani panggilan masyarakat."


"Selamat pagi pak, silahkan. lakukan kewajibpan kalian."


"Kami mendapat pengaduan bahwa.."


"Dia pak!" Hilya memutus ucapan polisi itu dan menunjuk Mario.


"Dia sudah melakukan kejahatan pak! aku melihatnya. dia menganiaya seorang wanita pak. tangkap dia pak!"


Ibu merasa bingung dengan penjelasan Hilya sementara Mario memijit kembali keningnya.


"Ada apa ini?" tanya Ibu pada Mario.


"Mario apa yang kamu lakukan nak? apa kamu melakukan kejahatan?"


"Iya aku saksinya dia, dia."


"Nona tenanglah."


"Aku melihatnya pak dia menganiaya wanita,"


"Apa itu benar tuan?" tanya polisi pada Mario.


"Ya."


Ibu sangat terkejut dengan membuka lebar matanya.


"Mario!"


"Bu, dengarkan dulu, aku memang menakut-nakuti dan mengancam wanita itu."


"Tangkap dia pak, tangkap!"


"Tenanglah nona."


Mario menatap Hilya sementara Hilya nampak memberikan tatapan sengitnya.


"Aku sudah menyerahkan wanita itu pada polisi, kalian bisa memeriksanya."


ucap Mario pada polisi itu.


Membuat Ibu dan Hilya nampak bingung dengan jawabpan Mario.


"Bu, wanita itu yang menjadi tersangka penggelapan uang prusahaan, dan mencuri beberapa dokumen rahasia milik Leon Home Living. aku terpaksa mengancam, menakutinya agar ia jerah dan mengakui kesalahan serta dalang dibalik kerusuhan ini."


Hilya masih tak percaya ia beberapa kali nampak ingin menyela ucapan Mario.


"Bohong pak! dia bohong. cepat tangkap dia pak."


"Maaf nona, tapi informasi yang tuan Mario berikan sudah kami konfirmasi, dan kami sedang menangani kasus beliau."


"Nak, ayo ibu antar ke kamar." ibu menggenggam tangan Hilya dan memberi tatapan hangat hingga hilya terdiam lalu mengikuti langkah ibu menaiki tangga, dengan bergandeng tangan.


* * *


"Bersihkan tubuhmu, dan gantilah pakaianmu." perintah ibu pada Hilya setelah mereka sampai di dalam kamar.


"Terimakasi bu."


Ibu tersenyum dengan mengusab ujung kepala Hilya yang terbungkus hijab yang sudah lusuh dan kotor.


"Bu, apa ada mukenah saya belum sholat subuh."


"Mukenah?" ibu nampak berfikir.


"Akan ibu tanyakan pada pembantu, mungkin mereka punya."


Hilya tersenyum datar dan mengangguk.

__ADS_1


* * *


Bersambung.


__ADS_2