
"Abi, apa tidak terlalu memaksakan pada anak kita bi?" tanya Umi setelah meletakan secangkir kopi untuk Abi.
"Tidak Umi, Abi yakin keputusan Abi sudah yang terbaik untuk Hilya." jawab Abi.
"Lalu bagaimana dengan pertanyaan Hilya tempo hari Bi?"
Abi nampak menghela nafas panjang.
"Tidak ada yang salah dari pertanyaan Hilya Mi, mungkin memang benar Abi terlalu berambisi untuk dapat berbesan dengan kiai besar. selain itu kita sudah mengenal Sejak lama bagaimana sifat Ustad Azis bahkan, Ustad Azis sudah mengutarakan niat baiknya meskipun belum pernah melihat wajah anak kita, beliau hanya puas dengan cerita dari sifat dan ketekunan agama anak kita. tidakkah Umi merasa bahwa Ustad Azis adalah calon suami yang tepat untuk Hilya Mi?"
Umi terdiam, ia mengiyakan penuturan Abi.
Abi mengusab pundak Umi.
"Kita pasrahkan semua kepada Alloh, jika anak kita meminta waktu, Abi akan mencoba bicara pada kiai Abdul."
"Lalu bagaimana jika Hilya memberikan penolakan setelah Istihoronya Bi?"
"Semua Alloh yang mengatur Mi. untuk sesaat Abi bersikap egois. Abi yakin jika mereka berjodoh maka apapun jalannya pasti akan bersatu dan begitu juga sebaliknya."
"Assalamualaikum.." salam Hilya saat akan memasuki rumah.
"Waalaikumsalam." sahut Umi dan Abi bersama.
Hilya berjalan mendekat mencium tangan kedua orang tuanya.
"Abi, Umi. Hilya akan memantap hati menerima pinangan Ustad Azis." ucap Hilya dengan serius.
"Alhamdulilah .." jawab Umi dan Abi bersama.
"Sholat istihoro Ndok, karena dengan begitu hatimu akan merasa tenang." lanjut Abi.
"Iya Abi." jawab Hilya dengan mengangguk.
"Hilya masuk dulu Mi, Bi." pamit Hilya untuk masuk kedalam.
"Ndok, tunggu sebentar." Umi menahan lengan Hilya yang sudah akan beranjak.
"Ada apa Umi?" tanya Hilya karena Umi tak kunjung berbicara.
Umi mengambil paperbag yang terletak di atas meja lalu memberikan pada Hilya.
"Apa ini Umi?" tanya Hilya karena ia belum membukanya.
"Ada titipan dari Ustad Azis."
"Terimakasi Umi." Hilya merogo isi Paperbag berlogo toko perhiasan.
"astafirloh.." Hilya terkejut setelah membuka isi kotak kecil yang ternyata adalah cincin dengan berlian menghiasinya.
"Subehanaloh, ini indah sekali nak." ucap Umi dengan tersenyum bahagia.
"Sepertinya ini sangat mahal. segera telpon Ustad Azis katakan padanya jika kamu sudah menerima kirimannya."
"Baik Umi." Hilya menutup kotak cincin dan memasukan kembali ke dalam paperbag.
"Ingat untuk menjaga tutur kata ya nak. Kontrol bicaramu, kamu suka sekali bicara ngawor jika sudah merasa nyaman pada seseorang." pesan Umi dengan mengusap pundak Hilya.
"Iya Umi, Hilya masuk dulu ya." pamitnya sebelum masuk ke dalam kamar.
Hilya menutup pintu kamar namun ia tidak lantas beranjak dari pintu itu. ia menyadarkan tubuhnya pada daun pintu, lalu menghela nafas mengingat kembali penuturan Abi yang sempat ia dengarkan saat berada diluar rumah.
"Abi sangat menghawatirkanku lalu apa salahnya jika aku membahagiakan Abi dengan menikah bersama pria pilihannya, lagi pula Ustad Azis pria baik, dia penyayang dan sepertinya dia sangat memahamiku." Hilya menghela nafas panjang lalu ia merogo tas kecilnya untuk mengambil ponselnya lalu menekan nomer layar mencari daftar nama Ustad Azis.
namun sebuah panggilan masuk tertera nama Ustad Azis disana.
__ADS_1
"Apa dia tahu jika aku akan menghubunginya?" Hilya menarik layar ponsel menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum ustadzah." suara Uztad Azis terdengar dari sebrang sana.
"Waalaikumsalam Ustad." jawab Hilya dengan mengulas senyum.
"Maaf aku mengganggu mu. aku hanya ingin memastikan apa ini benar nomermu?" tanya Ustad Azis.
"Tentu saja"
"Ya, sekarang aku yakin kamu tidak sedang mengerjaiku dengan memberi nomer yang salah."
"Hem, ..apa aku terlihat seperti itu?" jawab Hilya dengan berjalan menuju ranjang dan duduk ditepi ranjang.
Terdengar kekehan kecil dari sebrang ponsel Hilya, membuat Hilya mengulas senyum.
"Aku pikir kamu tipe pria yang kaku, em ..sebelas duabelas dengan Abi" ucap Hilya selanjutnya.
"Apa!? kamu menghakimi diriku tanpa mencari tahu terlebih dulu bukankah itu namanya jahat." sahut Ustad Azis.
"Iya, itu semua kan baru prediksi dan sebuah prediksi bisa saja salahkan."
"Wahhh ..Ustadzah kita sangat pandai berbicara."
"Tentu saja aku ini lulusan alhazar di kairo." timpal Hilya.
"Wahhh ..lihat siapa ini yang sedang menyombong."
Hilya terkekeh kecil begitupun dengan Ustad Azis.
tanpa mereka sadari sudah mengobrol selama 30menit.
hingga akhirnya Ustad Azis berpamit dan menutup panggilannya.
"Assalamualaikum Ustad." Hilya terdiam guna mendengar jawabpan salam dari Ustad Azis.
"Tidak Ustad, aku lupa berterimakasi soal cincinnya," Hilya kembali terdiam mendengarkan Ustad Azis bicara.
"benarkah?" jawab Hilya setelah mendengar penjelasan dari Ustad Azis.
"tidak, tidak ada yang terjadi, baik Ustad. waalaikumsalam." Hilya menutup sambungan Telponnya.
Hilya terdiam dengan melihat paperbag di atas nakas.
"Jika ini bukan dari Ustad Azis, apa mungkin ini dari Pria arogan itu." Hilya berdiri meraih paperbag lalu berjalan terburu.
* * *
"Tuan" Ajudan membungkuk hormat setelah ia selesai dengan panggilan di aerpiece yang selalu ia kenakan.
sementara itu Mario tetap fokus pada layar leptopnya berusaha menyelsaikan pekerjaan meskipun hari sudah lewat jam pulang kantor.
"Jam berapa sekarang?" tanya Mario
"Sudah pukul 8 malam Tuan." jawab sang ajudan.
"tuan saat ini Nona Hilya berada di kediaman Anda."
Mario sontak menghentikan aktifitasnya dan menatap ajudan itu.
seketika ajudan menundukan pandangan.
"Siapkan mobil." perintah Mario seraya berjalan keluar.
Ajudan nampak menekan aerpiece dan mengomando sopir untuk menyiapkan mobil di depan lobi.
__ADS_1
Yuni bangkit dari duduknya lalu berjalan mengekor pada Mario dan Detektif yang kerab ia panggil Anju.
.
.
.
Mobil milik Mario mamasuki pelataran lalu disusul dengan mobil yang dikendarai oleh Anju dan Yuni.
"Tuan." sapa buk Sri dengan membungkuk hormat.
Mario acuh dan terus berjalan masuk hingga ia sampai pada ruang tamu menampakan Hilya yang kini duduk diantara Kenzo dan Pelangi.
Mario terpaku ditempat berdiri di ambang pintu, pasalnya ia tidak tahu bahwa kedua sahabatnya ini sudah kembali ke rumah.
"Fulgoso kemarilah!" seru Kenzo hingga membuat Hilya dan Pelangi menoleh ke arah pintu.
"Kenapa mereka kembali disaat yang tidak tepat." gumamnya pelan dengan melangkah mendekat.
"Kakak..." Pelangi berdiri dari duduknya lalu berhambur kepelukan Mario bahkan pelukan itu sangat erat, ia mencurahkan rasa rindunya.
Mario menangkup kedua pipi Pelangi menatapnya dengan lekat.
"Kapan kembali, kenapa tidak memberi kabar dulu?" tanya Mario dengan mata berbinar karena rindu.
Kenzo tiba-tiba saja mendorong tubuh Mario.
"Jangan sembarangan menyentuh istri orang. duduk." perintah Kenzo pada Mario seketika itu Mario duduk di kursi panjang yang juga di duduki oleh Hilya, membuat Hilya menggeser duduknya hingga berada di ujung kursi.
tingkah Hilya menarik perhatian Pelangi dan Kenzo.
"Hilya." panggil Kenzo kemudian, hingga membuat dua dintaranya ikut melihat pada Kenzo.
"namamu Hilya kan?" tanyanya kemudian.
"Iya pak." jawab Hilya datar dengan menatap sekilas wajah yang terlihat lebih tua dari Mario.
"Panggil aku Kenzo saja, atau mas juga boleh. kebetulan istriku tidak mau memanggilku dengan sebutan Mas."
"Benarkah? ck ..apa dia sudah tahu jika suaminya itu sangat ingin dipanggil Mas?" tanya Pelangi kemudian.
"Ya, apa dayaku jika istriku lebih menyukai pria lain." sindir Kenzo pada Pelangi dan Mario.
"Hentikan drama rumah tangga kalian." pinta Mario jengah pada pasangan suami istri yang beda usia ini.
"sungguh aku tidak pernah berharap kalian akan kembali secepat ini."
"Gue tersanjung, benar-benar tersanjung." ungkap Kenzo pada Mario.
"Ckk...Fulgoso, kapan lue akan mengerti bahasa manusia?" keluh Mario.
Hilya nampak mengerutkan kedua Alisnya.
"Helly ayo kita tinggalkan saja mereka, aku sudah sangat rindu sentuhanmu." ajak Kenzo dengan berdiri dan mengulurkan tangan pada Pelangi.
"Brengsek!" Mario melempar Kenzo dengan bantal di dekatnya.
namun Kenzo cuek saja bahkan ia menggendong di belakang tubuh mungil istrinya menaiki anakan tangga menuju kamar.
"Aishh ... mereka selalu saja begitu." keluh Mario dengan menatapi kepergian Kenzo dan Pelangi.
* * *
Bersambung.
__ADS_1