
Hilya menutup rapat mulutnya ketika baru saja ia duduk di meja makan.
"Hilya kamu kenapa nak?" tanya Umi karena melihat Hilya yang seperti merasa tidak nyaman.
"Tidak Umi, Hilya__...huuk..." Hilya mual tak tertahan ia berlari ke kamar mandi.
"Apa dia sakit lagi Umi?" tanya Abi.
"Sepertinya begitu bi, Umi perhatikan Hilya pun jadi jarang makan."
"Abi akan meminta dokter untuk memeriksanya."
"Hilya tidak ingin di periksa Bi." ucapan Umi menghentikan bergerakan Abi yang akan bangun dari duduknya.
"Tapi jika sakit harus diobati Umi."
"Entahlah Bi, Umi sudah berkali-kali membujuknya tapi Hilya selalu mengatakan akan membaik dengan sendirinya."
Abi menghela nafas panjang.
"Apa Hilya tidak bahagia dengan rencana pernikahannya Mi?"
"Sepertinya bukan itu Bi, karena sebelumnya Hilya terlihat baik-baik saja, bahkan ia sangat bersemangat saat melakukan prewed tempo hari."
"Apa mereka sudah sedekat itu Mi?"
Umi mengangguk mengiyakan pertanyaan Abi.
.
.
.
Hilya menatapi wajahnya dari pantulan cermin kamar mandi.
ia masih terdiam di depan westafel dengan kedua tangan bertumpuh diatasnya.
Hilya terburu buru keluar dari kamar mandi segera ia berjalan menuju kamar melewati begitu saja kedua orang tuanya yang masih menyantap sarapan pagi.
Hilya mengunci pintu kamar lagi-lagi ia tergesah meraih ponsel di atas nakas lalu membuka layar mencari aplikasi kalender.
Matanya membulat sempurna saat ia melihat tanggal kalender.
tanpa sadar airmata sudah membasahi kedua pipi.
ia melemah bahkan tangannya tidak mampu memegang ponsel hingga benda pipih itu terlepas dari genggamannya.
Hilya mengusab kedua pipi yang basah lalu menarik nafas panjang menguatkan dirinya.
kemudian meraih kontak motor di atas nakas dan tas kecil yang selalu ia bawa.
.
.
.
"Hilya, kamu mau kemana?" tanya Umi saat Hilya melewati mereka begitu saja tanpa menegor atau pun berpamitan.
Langkah Hilya terhenti ia berbalik badan menghadap kedua orang tuanya.
"Umi, Abi, Hilya akan keluar sebentar ada beberapa keperluan yang Hilya butuhkan."
"Jangan berlama-lama nak, kamu sedang kurang sehat." pesan Abi.
"Baik Abi." Hilya bergantian mencium tangan kedua orang tuanya.
"assalamualaikum..." pamitnya kemudian sebelum ia meninggalkan ruangan makan itu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." jawab Abi dan Umi bersamaan.
.
.
.
"Tuan sudah saatnya ke kantor." Ucap Anju dengan melirik kaca sepion melihat wajah Mario dari pantulan kaca.
"Tunggu 5 menit lagi." sahut Mario dengan menatapi gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi itu.
"Apa Tuan butuh informasi?" pertanyaan Anju membuat Mario menatap padanya meskipun hanya belakang kursi kemudi dan kepala Anju yang nampak oleh Mario.
namun Anju dapat melihat wajah Mario melalui pantulan kaca sepion.
"Jangan melakulan apapun jika aku tidak memerintahmu."
Anju membungkukan tubuhnya.
"Baik Tuan." ucapnya seraya melirik sepion.
Seorang satpam datang mengetuk kaca jendela mobil, hingga Anju membuka kaca jendela itu.
"Maaf pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya satpam itu.
"kami perhatikan sudah sejak beberapa hari lalu anda selalu memarkirkan kendaraan anda dan seperti sedang memperhatikan pesantren kami."
"Tidak pak kami hanya kebetulan lewat dan beristiraharat sebentar." jawab Anju beralasan.
"Maaf jika kami kurang sopan, tapi perbuatan anda ini dapat memicu kesalahfahaman, mengingat dimalam haripun anda melakukan hal yang sama."
"Maaf pak, jika sudah mengganggu kenyamanan disini. kami permisi." ucap Anju sebelum ia melajukan mobilnya.
"Ikuti dia Nju." perintah Mario, saat Hilya nampak keluar dari pesantren dengan metik merahnya.
Anju mengemudikan mobil mengikuti Hilya dari jarak yang Hilya tidak sadari.
"apa dia sakit Nju?" tanya Mario kembali saat ia melihat Hilya yang memasuki sebuah apotik.
"Tuan, Nona sudah akan pergi, apa kita akan mengikutinya lagi?" tanya Anju saat Hilya sudah menduduki metiknya dan mengenakan helem bermotif Hellokity.
"Ikuti dia." perintah Mario.
"Tapi Tuan, bagaimana dengan kantor?" Anju mengingatkan.
"Aihh kamu benar, aku mulai jengah dengan sih tua mesum itu, dia menjadikanku CEO untuk memperbudak diriku." ucap Mario kesal mengerutuki Kenzo.
"ayo ke kantor." perintahnya kemudian.
"Baik Tuan." jawab Anju dengan membungkuk hormat.
.
.
.
Hilya memasuki rumah tanpa mengucab salam, belum sempat Umi menegur namun Hilya sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
"Ada apa dengannya belakangan ini tingkahnya sangat aneh." gumam Umi dengan menatapi pintu kamar Hilya yang tertutup.
Hilya segera mengeluarkan test pack dari dalam tasnya.
tangannya gemetar memegang benda kecil berbentuk panjang itu.
ia membaca cara menggunakannya.
setelah dirasa cukup Hilya segera masuk pada kamar mandi.
__ADS_1
dengan perasaan khawatir dan takut Hilya menatapi test pack yang baru saja ia gunakan.
ia menunggu beberapa menit.
berharap garis merah yang terterah disana tetap satu garis.
"Tidak." gumamnya seraya menjatuhkan test pack yang ia pegang.
mendadak kakinya lemas hingga ia bersandar pada dinding kamar mandi dan tubuhnya berangsur terduduk di lantai.
"Tidak." Hilya memungut kembali test pack sekali lagi dengan tangan gemetar ia mengangkat dan melihat dua garis merah disana.
"Tidak!" pekik Hilya seraya melempar test pack itu hingga membentur dinding.
Hilya benar-benar merasa hidupnya telah hancur.
"Tidak. aku tidak ingin bayi ini!" dengan terisak dan suara gemetar Hilya mengepalkan tangan memukul-mukul perutnya.
"aku tidak ingin bayi, aku tidak ingin, mengapa harus aku, mengapa harus aku!" keluh Hilya dengan rintihan dan tangisan.
"ya Alloh... mengapa harus aku, aku tidak ingin bayi ini, aku tidak ingin..." Hilya memukul-mukul lantai kamar mandi dengan kepalan tangan.
ia juga menarik narik baju yang ia kenakan.
"Engkau tidak adil ya Alloh! aku selalu berjalan di jalanmu! aku mematuhi perintahmu! aku menjauhi laranganmu! aku selalu membahagiakan orang tuaku! aku bersedekah! aku infak di jalanmu! aku mencari ridhomu! tapi mengapa!? kenapa ya Alloh, kenapa engkau memberikanku kehidupan yang buruk!? kenapa ya Alloh..." Hilya bersimpuh ia bersujud.
dengan kembali memukul lantai,
melampiaskan emosi dan kekesalannya. hingga ia tidak mampu berkata kata hanya terisak dengan tergeletak di lantai.
* * *
"Tuan..." panggil Anju pada Mario karena Mario terdiam tidak merespon ataupun menjawab pertanyaan dari rekan kantor yang saat ini sedang melakukan rapat.
"tuan." panggil Anju lagi dan kali ini disertai sentuhan pada lengan Mario.
"A ... Iya ada apa?" tanggapan Mario sepontan hingga membuat para rekan kerjanya saling memandang.
"Pak, apa bapak sedang kurang sehat?" tanya Koko selaku direktur pemasaran.
"Tidak, aku baik-baik saja." sanggah Mario
"Tapi sepertinya ada sesuatu yang sedang mengganggu anda." tanya joy selaku team kreatif.
Mario menarik nafas panjang.
"Baiklah kita akhiri pertemuan hari ini, sepertinya aku memang sedikit sakit kepala." Mario berdiri begitupun para staf kantor yang turut berdiri dan memberikan hormat pada Mario.
"Yuni, segera minta laporan penjualan bulan ini dan kirimkan kepada saya." pesannya sebelum ia pergi.
"Baik pak." Jawab Yuni dengan membungkuk hormat.
.
.
"Antar aku pada apotik yang Hilya kunjungi pagi tadi." perintah Mario pada Anju saat mobil mereka sudah melaju.
"Tapi Tuan, untuk apa kita kesana?" tanya Anju kemudian.
"Aku tidak tenang apakah dia sedang sakit, mengapa dia mencari obat jika memang dia sakit mengapa tidak menemui dokter bukankah akan lebih baik jika diperiksa oleh dokter." jawab Mario panjang kali lebar.
"Apakah itu yang mengganggu anda, hingga tidak dapat bekerja Tuan?" tanya Anju kembali dengan sangat hati-hati, nampak Anju melirik kaca sepion guna melihat wajah bosnya itu.
Mario terdiam dengan pertanyaan Anju, dia sendiri tidak mengerti situasinya saat ini.
"Dan mengapa mimpi itu terasa sangat nyata" gumam Mario setelahnya,dengan menatapi suasana jalanan dari balik kaca mobilnya.
Anju kembali melihat kaca sepionnya, ia dapat mendengar apa yang Mario gumamkan.
__ADS_1
* * *
Bersambung.