
"Lepaskan aku Mas." pinta Hilya dengan ketakutan dan rasa khawatir.
Mario memeluk tubuh Hilya sangat erat.
"Tidak! lepaskan aku!" pekik Hilya ia terus meronta dalam pelukan Mario.
Mario membalik posisi hingga Hilya berada dibawahnya dengan beralas bangku, tempat yang sempit itu membuat Hilya semakin sulit bergerak sedangkan Mario merangkup tubuhnya posesif dengan memegangi kedua tangan Hilya dan tidur diatas tubuh Hilya.
Mario menyeringai jahat saat Hilya terisak.
Mario mulai menciumi wajah Hilya dengan sangat rakus.
ia menikmati bibir ranum Hilya dengan sangat bergairah.
Mario menyibakan hijab Hilya.
membuat Hilya semakin menangis merontah dan merintih namun ia tidak dapat melawan ia hanya berharap ada seseorang yang akan datang membantunya.
"Tidak! aku mohon, lepaskan aku!" pinta Hilya dengan suara bergetar.
"emm emmm..." keluh Hilya saat bibirnya dikunci oleh ciuman rakus Mario.
Mario melepas ikat pinggang dan celananya dengan satu tangan sementara tangan satunya ia gunakan untuk memegangi kedua tangan Hilya.
setelah itu Mario pun menyibakan gamis Hilya.
"Tidak!!!! jangan...tolong aku...!!" jerit Hilya meminta tolong.
Brukkk...
Botol yang Anju pegang terjatuh begitu saja.
Tubuhnya lemah saat itu juga.
bahkan kakinya bergetar, ia melihat dari balik kaca mobil tentang perbuatan bejat Mario.
Jeritan Hilya sangat jelas saat itu.
Anju mundur beberapa langkah lalu menoleh pada motor metik berwarna merah, kini ia baru yakin itu adalah suara Hilya.
karena ia tahu benar motor yang sering Hilya pakai.
Anju berjalan lemah ia bersembunyi dibalik pohon yang berada di pinggir jalan.
Anju menutup telinganya dan memejamkan mata.
ia menyandarkan tubuh pada pohon besar itu.
Mario melemah setelah ia mengeluarkan lahar panasnya kedalam tubuh Hilya, Hilya segera mendorong tubuh Mario hingga Mario terjatuh pada sela-sela bangku.
Hilya terisak, tubuhnya gemetar hingga ia tidak dapat berkata-kata.
dengan tangan gemetar Hilya membenarkan Hijab dan pakaiannya.
Sementara Mario sudah sangat lemah dan ia sudah kembali tidak sadarkan diri.
Anju menatapi kepergian Hilya dengan metik merah miliknya.
setelah dirasa Hilya sudah cukup jauh Anju menampakan diri dari balik pohon.
* * *
Hilya berlari memasuki kamarnya, lalu menutup mengunci pintu ia duduk dilantai dengan bersandar pintu ia menangis terisak-isak dengan menutup mulut agar tidak terdengar oleh orang lain.
airmatanya seolah tidak ada habisnya, ia terus mengalir begitu saja.
Hilya bangkit ia memutuskan untuk mandi.
berjalan dengan lemah ke kamar mandi, lalu menghudupkan shower dan berdiri dibawah air mengalir.
Kakinya lemah hingga ia kembali terduduk.
ia memejamkan mata dengan menangis dibawah shower yang mengalir.
Hilya menarik narik bajunya yang basah ia marah pada dirinya sendiri.
__ADS_1
bahkan ia memukul mukul lantai yang basah.
"Aaaaakkkk...!" Hilya berteriak namun ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. ia tidak ingin mengejutkan penghuni pondok dengan triakannya dimalam hari.
Hilya menangis merintih tiada henti, hingga badannya terasa menggigil.
* * *
Anju menutup pintu kamar Mario setelah ia membantunya berbaring di kamar.
"Apa dia mabuk lagi?" tanya Kenzo membuat Anju terkejut.
Anju membungkuk hormat.
"Iya tuan."
"Apa kamu tidak bisa mencegahnya?" protes Kenzo pada Anju.
"Maaf tuan. saya selalu berusaha melarang tapi Tuan Mario sangat bersikeras."
"Apa dia sedang dalam kesulitan?"
"Maaf Tuan, saya..." Anju ragu untuk bicara.
"Ada apa?" tanya Kenzo.
Namun Anju tetap diam.
"Apa yang sebenarnya membuat Mario begini?"
"Tuan, sebenarnya tuan Mario sedang patah hati, wanita yang tuan Mario cintai memilih menikah dengan pria lain." jujur Anju.
namun Kenzo justru terkekeh.
"Jadi dia ditolak?"
Anju membungkuk hormat.
"Tuan, ada sesuatu yang harus saya katakan." sambung Anju dengan menatap Kenzo.
"Tuan Mario dia. ..." Anju menggantungkan ucapan ia ragu untuk bicara.
"Ada apa?" tanya Kenzo penasaran.
"Tidak tuan, tidak ada hal penting, saya permisi." Anju membungkuk hormat sebelum ia meninggalkan Kenzo.
* * *
Pagi-pagi sekali Hilya sudah berjalan dikoridor rumah sakit dengan membawa rantang makanan dan beberapa ganti untuk Umi.
Hilya menarik nafas dalam-dalam sebelum ia membuka pintu ruangan rawat Abinya.
namun dengan sendirinya airmata menetes begitu saja.
"Bagaimana ini, aku tidak ingin menangis di depan Umi apalagi dengan kondisi Abi saat ini." gumam Hilya dengan mengusab air matanya.
"Umi dan Abi pasti akan sangat terluka jika aku bercerita." Hilya kembali mengusap airmata yang seolah tidak bisa berhenti mengalir, meskipun ia sudah berusaha untuk menahannya.
Hilya menarik kenop pintu namun belum sampai terbuka seseorang sudah menarik lengannya.
Hilya membulatkan mata sempurna saat telapak tangan seseorang itu menarik lengannya.
rasa takutnya menjadi trauma, ia menjadi sangat sensitif jika di pegang seseorang.
"Hilya." Umi terus memanggil tetapi Hilya tidak merespon.
Hilya terlalu takut untuk berbalik badan, bahkan kakinya sudah gemetar
rasa takutnya kembali mengeruak.
"Hilya..." panggil Umi lagi.
Umi berpindah kesamping Hilya lalu menatap wajah Hilya yang sedang termenung.
"Umi." gumamnya pelan.
__ADS_1
"Hilya, kamu kenapa sayang?" Umi mendekat dan menangkup pipi Hilya.
"Umi." ucapnya seraya memeluk erat Uminya.
Umi mengusab punggung Hilya,
"Semua akan baik-baik saja nak."
Hilya melepas pelukan umi dan menatap wajah umi seraya mengangguk.
"Ayo kita masuk, Abi sudah menanyakanmu." ajak Umi dengan tersenyum berharap dapat memperbaiki perasaan putrinya ini
.
.
.
"Assalamualaikum..." ucap Hilya saat memasuki ruang rawat Abi.
"Waalaikumsalam. ..." jawab Abi dan Umi.
"Abi..." Hilya memeluk Abi dengan sangat erat, bahkan ia sudah menangis.
"Sudah tidak apa-apa Abi baik-baik saja nak." ucap Abi dengan mengusab lembut Punggung Hilya, berharap dapat meredahkan kekhawatiran putrinya.
"Abi harus sehat kembali karena Abi ingin segera pulang dan mempersiapkan pernikahanmu yang tinggal beberapa hari lagi." sambung Abi.
Hilya mengangkat kepala menatap Abi lalu berganti menatap Umi.
Abi mengusab airmata Hilya.
"Jangan bersedih lagi, Abi baik-baik saja." ucap Abi dengan tersenyum.
namun tangisan Hilya semakin menjadi ia terisak dengan sangat pilu.
"Sudah... tidak apa, Abi baik-baik saja." kata Abi dengan mengusab airmata Hilya.
"Sudah jangan menangis lagi, Abi akan baik-baik saja sayang." ucap Umi dengan mengusab pelan punggung Hilya.
Hilya menatap Umi dan Abi bergantian lalu ia tersenyum dan mengangguk.
'Umi, Abi. apa yang harus Hilya lakukan, apakah kalian akan baik-baik saja jika Hilya mengatakan bahwa__...' batin Hilya berkecamuk.
"Sayang, Abi bertanya kenapa kamu diam saja?" tanya Umi dengan menggenggam tangan Hilya membuat Hilya menatapnya dengan bingung karena ia tidak mendengar apa yang ditanyakan Abi.
"Iya Umi, maaf Hilya merasa sangat lelah." jawabnya beralasan.
Umi tersenyum hangat dengan menggenggam telapak tangan Hilya.
"Wajahmu terlihat sangat pucat, sebaiknya kamu beristirahat ya."
"Tidak Umi, Hilya baik-baik saja."
"Istirahat lah bak, ayo kemari." pinta Abi dengan menggeser tubuhnya agar Hilya dapat berbaring disampingnya.
"Abi serius meminta Hilya tidur disamping Abi?" tanya Umi terkejut.
"Memangnya kenapa?" jawab Abi menjeda kalimatnya.
"bukankah dia juga putri Abi."
Hilya terkekeh dengan kehangatan kedua orang tuanya yang sudah lama ia rindukan.
"Ayo sini," pinta Abi lagi.
"mungkin setelah kamu menikah Abi sudah tidak bisa memintamu tidur bersama Abi."
Hilya terdiam menatap sendu wajah Abi.
namun detik berikutnya Hilya segera baik keatas ranjang tempat Abinya dirawat.
"Umi cemburu loh ini." sindir Umi, hingga membuat Hilya dan Abi terkekeh.
* * *
__ADS_1
Bersambung.