Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Pilu


__ADS_3

Mario termenung di depan jendela kamarnya.


Perasaannya tidak nyaman setelah ia mendapat informasi yang Anju berikan beserta rekaman cctv dari apotik tempat Hilya membeli tespek.


"Ada apa denganku. mengapa aku terus saja memikirkan wanita itu, lagipula itu hanya mimpi mengapa terasa sangat nyata." gumam Mario dengan menatapi rintikan hujan yang terjatuh dari atap rumahnya.


.


.


.


Hilya masih menangisi takdirnya dengan meringkuk di atas ranjang tatapannya kosong menatap luar jendela dengan air hujan yang membasahi kaca jendela kamar.


ia berada di dalam dilema yang besar, ia bingung harus berbuat apa, tidak mungkin ia berkata jujur kepada orang tuanya dengan kondisi Abi yang sakit-sakitan.


namun ia pun tidak ingin membohongi Ustad Azis membuat Ustad berwatak lembut itu menanggung dosa dari kesalahannya.


Hilya menyentuh perutnya yang datar lalu meremasnya dengan kencang.


"Aku tidak ingin bayi ini." gumamnya dengan isakan pelan.


.


.


.


Dan disisi lain Gibran pun sedang memandang rintikan hujan dari jendela kaca toko bunga tempat ibunya mengais rejeki,


luka yang ia dapatkan sudah mulai mengering dan ia sudah kembali beraktifitas normal.


Gibran tertegun dengan rintikan hujan itu, ia menengadah menatap atas langit.


ia teringat kembali mimpinya.


"Mimpi itu sungguh menyeramkan, sepertinya hanya aku satu-satunya manusia yang hidup disana.


* * *


cuaca pagi terasa sangat dingin akibat hujan yang mengguyur seluruh kota tak henti sepanjang malam.


Umi membuka pintu kamar Hilya yang tidak terkunci, mendapati anak gadisnya itu masih meringkuk di bawah selimut.


sementara kumandang lantunan ayat alqur'an dari imam sholat subuh menggema dari arah masjid.


Umi mendekat masuk lalu duduk di sisi tubuh Hilya ia mengusab pelan kepala Hilya dengan menatapi wajah yang sedang terpulas itu.


"Nak, sudah waktunya sholat subuh ayo bangun."


Perlahan Hilya membuka matanya menatap Umi yang kini pun sedang memandanginya.


"Mi, jam berapa ini?" tanya Hilya lemah.


"Sudah waktunya sholat subuh sayang."

__ADS_1


Hilya menyibakan selimut.


"Huuekkk__" Hilya berlari ke dalam kasmar mandi karena ia merasa sangat mual.


Hingga Umi menatap kepergian Hilya dengan aneh.


"Hilya ..." Umi mengetuk pintu kamar mandi namun Hilya tak kunjung membukanya.


"Hil__" belum sekesai Umi memanggil pintu itu sudah kembali terbuka.


"Apa kamu masih sakit nak?"


"Iya Umi Hilya sedikit nyeri pada ulu Hati, mungkin asam lambung Hilya naik lagi." Hilya beralasan dengan berbohong sebaik mungkin.


"Umi akan mintakan obat pada dokter UKP kamu mandi dan lekas sholat subuh ya."


Hilta mengangguk seraya tersenyum simpul menutupi perasaan yang berkecamuk, hingga Umi berlalu dari kamar itu.


.


.


.


Hilya melipat mukenah setelah ia menyelsaikan kewajibpan 2 rokaat dipagi hari.


"Kenapa aku sangat ingin makan tahu bulat." Hilya melenal silava takala bayangan tahu bulat berkelibat di dalam pikirannya.


Segera ia terburu-buru merapikan kamar dan menuju dapur guna mencari Umi.


"Umi" panggilnya pelan saat sudah berada di dapur dan Umi nampak sibuk meracik sayuran.


Hilya menutup indra penciumannya disaat ia aroma bawang mengeruap.


"Ada apa ndok, apa kamu ingin membantu Umi?"


"Kenapa Umi tidak istirahat saja biarkan abdi dalem yang memasak."


"Kamu lupa kalo Abi itu rewel tentang masakan." Umi menghela nafas panjang lalu berbalik menghadap Hilya.


"kamu kenapa?" tanyas Umi ketika mendapati Hilya yang menutupi hidung serta mulutnya.


"Bau bawang Hilya tidak suka Mi."


"Mendadak?" Umi bertanya kembali.


"Umi Hilya akan keluar sebentar" alih-alih menjawab peetanyaan Umi yang ia sendiri tidak tahu jawabpannya, Hilya memilih berpamit.


"Kemana Ndok?"


"Em ... ke warung sebentar Mi." jawab Hilya dengan berjalan meninggalkan Umi, ia tidak ingin menambah kesulitan dalam menjawab pertanyaan Umi.


Umi menatapi punggung Hilya dan mengerutkan kedua alis.


"Kenapa nampak berbeda apa berat tubuhnya naik?" gumam Umi karena perubahan bentuk tubuh Hilya yang terlihat sedikit berbeda.

__ADS_1


* * *


"Rame sekali." gumam Hilya saat ia sampai pada sebuah pasar tradisional.


Hilya menuruni motor kesayangannya, melepas helem menggantungkannya pada kaca sepion.


Nampak disisi lain Mario sedang memperhatikan Hilya dari dalam mobilnya.


"Tuan, apa ada yang ingin dibeli lagi?" tanya Susi setelah ia meletakan semua belanjaan kedalam mobil.


"Turunkan belanjaanmu dari mobil." jawab Mario dengan tanpa mengalihkan pandangan dari Hilya.


"Apa?"


"Kamu ingin aku mengulangi perintah hah!" jawab Mario lagi dengan mengikuti arah pandang pada Hilya yang mulai memasuki area pasar tradisional.


"Tuan!" panggil Susi.


karena Mario kini telah berladi kecil mengejar Hilya.


"Apa dia kerasukan jin pasar, tuan sangat anti dengan pasar tradisional." gumam Susi dengan menatapi kepergian Mario dengan gaya casualnya.


Mario celingukan mencari Hilya diantara para pengunjung pasar, ia sempat melihat Hilya berjalan kearah yang kini ia jajaki.


"Sedang apa dia disana?" gumam Mario setelah melihat Hilya yang turut antri bersama para pembeli di depan grobak tahu bulat.


Mario memperhatikan dari jarak yang tidak dapat Hilya jangkau.


Senyuman Hilya mengembang dikala ia menerima sekotak paket tahu bulat dengan extra pedas.


Hilya kembali menapaki jalanan pasar yang berpaping berbaur diantara para pengunjung dengan Mario yang mengekorinya.


Hingga ia sampai pada tempat parkir, Hilya membuka isi kotak itu merasa sudah sangat ingin menyantapnya, hingga menunggu sampai di rumah terasa sangat tidak sabaran.


Aroma tahu bulat yang hangat mengeruap kedalam indra penciuman Hilya hingga ia memejamkan mata merasapi aroma lezat itu.


Hilya tersenyum ia meraih satu buah tahu bulat, mengarahkannya pada mulut namun seketika pergerakannya terhenti disaat ia menyadari keanehan dalam dirinya.


ia termenung berfikir keras mengapa ia sangat bahagia ketika mendapatkan makanan yang sering ia jumpai di pinggiran jalan.


"Apa ini yang disebut ngidam?" gumamnya pelan.


Brak ...


Hilya membuang kasar kotak berisi tahu bulat itu.


"Aku benci ini!" Hilya turun dari motornya lalu menginjak injak kotak itu hingga isinya turut berantakan di tanah. ia menangis lalu berjongkok dengan neremas perutnya.


"Aku tidak ingin bayi ini!" gumamnya pelan dengan menangis ia tidak bisa berpikir jernih lagi hingga ia lupa bahwa ia menarik perhatian para pengunjung parkir meskipun hanya beberapa orang yang nampak disana dan tidak terlalu tertarik dengan kelakuan Hilya namun tak dipungkiri juga bahwa mereka saling bergumam dengan kelakuan Hilya.


Mario berjalan mendekat hingga kini berdiri tepat di depan Hilya yang sedang terduduk dengan menunduk.


Bahunya bergerak naik turun karena isakan tangisnya.


"Apa yang kamu lakukan disini!?" tanya Mario.

__ADS_1


* * *


Bersambung.


__ADS_2