
'Karena dari mencintaimu aku merasakan kebahagian. Segala sesuatu yang ada padamu mampu membuatku merasa sangat bahagia, hingga aku ingin hidup selamanya dengan berada di dekatmu dan membahagiakanmu. Karena kebahagiaanmu menjadi tujuan hidupku.'
🍂 🍂 🍂
Udara pagi terasa sangat dingin mendung menutupi langit, meskipun waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi tetapi masih terlihat gelap. Hujan ringan sejak subuh tak kunjung reda, hingga membuat Mario memilih kembali bersembunyi di balik selimut usai menunakan sholat subuh.
Hilya mengetuk pintu kamar Mario. sudah kesekian kali namun tak juga mendapat jawabpan dari pemilik kamar.
Hilya iseng memutar knop pintu, ternyata tak terkunci, meskipun ragu Hilya tetap saja melangkah masuk.
"Mas." panggil Hilya ia melihat seseorang yang meringkuk didalam selimut dengan menutupi semua tubuh dari kaki hingga kepala.
Hilya berjalan semakin dalam. Ia mendekati Mario berdiri disamping ranjang.
Dengan ragu ia menarik selimut yang menutupi wajah Mario.
"Mas."panggil Hilya lagi.
"Hem.." Mario bergumam dalam tidurnya, ia belum sepenuhnya terbangun.
"Umi menelpon beliau sudah menunggu di bandara, apa aku harus menelpon taksi atau mas bisa suru Anju menjemput?"
Hilya terdiam ia menyelisik wajah pulas Mario.
"Apa dia masih tidur?" Hilya bertanya pada dirinya sendiri."
Tak ada reaksi dari Mario. Hilya ragu untuk menyentuh lengan Mario.
Tapi ia harus lakukan itu, karena benar benar sulit membangunkannya jika hanya dipanggil saja.
Hilya menggoyang goyang lengan Mario beberapa kali dengan memanggil namanya.
Namun percuma Mario tetap tak bangun.
"Apa dia selalu seperti ini saat tidur?" gumam Hilya dengan menatapi wajah pulas Mario.
Hilya mengedarkan pandangan keseluruh kamar yang sebelumnya merupakan perpustakasn milik Abi. Tak jauh berbeda karena ia tak mengganti cat temboknya putih polos. Tak ada satu pun lukisan atau poto yang menghiasi dinding kamar itu.
Hilya terpaku saat pandangannya mengarah pada sebuah bingkai poto kecil di atas nakas. Hilya meraih poto itu memandangi dengan terpaku.
ia baru melihat poto pernikahannya mengenakan kebaya putih berpadu dengan kain batik senada dan Mario dengan setelan jas hitam serta peci sebagai pelengkap.
Diam. Hilya terdiam menatapi poto itu, ia mengusab wajah Mario di dalam poto.
"Aku tahu, kamu sangat meyayangiku, tapi aku terlalu membencimu perbuatanmu padaku belum dapat aku terima, maaf jika aku menyakitimu." gumam Hilya berbicara pada poto itu.
Hilya meletakan kembali bingkai poto itu. Ia beralih menatap Mario.
Lalu ia beranjak meninggalkan kamar dengan menutup pelan pintu kamar seolah tidak ingin Mario terbangun dari tidurnya.
Setelah kepergian Hilya, Mario membuka mata ia tidak benar-benar tertidur ia sudah bangun sempurna saat Hilya menyentuh lengannya.
Namun Mario terlalu gugup untuk membuka mata, ia pun kuatir jika Hilya akan merasa tidak nyaman karena hanya berada berdua dengannya dalam ruangan tertutup.
Mario menyibakan selimut yang menutupi separuh tubuhnya, ia duduk dengan posisi kaki menyentuh lantai.
Mario meraih bingkai poto pernikahannya ia memandangi dengan tertegun.
Ucapan Hilya beberapa menit lalu sangat mengganggu perasaannya, rasa penyesalan itu kembali mengeruak.
Mario memukul mukul dadanya pelan berharap rasa sesaknya berkurang.
Netra coklat miliknya tengah memupuk genangan airmata.
Mario terus memukul pelan dadanya, alih-alih menghilangkan sesak ia justru menangis.
Tring...
Notif pesan dalam ponselnya berbunyi menunjukan nama Kenzo.
Mario mengusab pipinya yang basah bahkan ia tidak sadar kapan airmata membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Mario menghubungi Kenzo dengan tergesah setelah membaca pesan.
"Aku segera kesana." ucap Mario singkat lalu segera mematikan sambungan ponselnya.
Mario lekas memakai celana panjang karena saat ini ia hanya memakai sarung saja.
ia memakai jaket denim guna menutupi kaos pendek yang ia kenakan.
"Mas," panggil Hilya yang sedang duduk di meja makan.
Mario berhenti dan berjalan menghampiri.
"Ibu dan Ayahku mengalami kecelakaan mobil saat perjalan dari bandara."
"Astafirloh..." gumam Hilya seraya berdiri.
"Aku akan ke rumah sakit sebentar."
"Aku ikut mas,"
"Tidak apa, mereka tidak terluka serius."
"Tidak, aku akan ikut."
"Tapi—" Mario menghentikan ucapannya, ia ragu untuk bertanya, prihal keadaan yang mengharuskan mereka berdua saja saat berada di dalam mobil nanti.
Hilya terdiam ia mengerti khawatiran Mario.
"Aku akan mengikutimu dengan motor." ucap Hilya kemudian.
"Tidak. itu tidak baik bagi kandunganmu." cegah Mario, dengan menatap lembut raut wajah Hilya yang terlihat agak kurus itu.
"Baiklah, aku akan menunggu di rumah saja."
Mario mengangguk dengan mengulas senyum.
"Anju akan segera tiba, aku memintanya menjemput Umi."
"Aku pergi dulu, Assalamualaikum..." ucap Mario.
Mario hendak berbalik namun Hilya justru menahannya dengan menarik ujung jaketnya.
"Aku ikut."
Mario berbalik dan menatap Hilya ragu. namun ia tak dapat lagi menolak ketika Hilya bersikeras.
'Biarkan aku tetap mencintaimu seperti ini, karena dari mencintaimu aku merasakan kebahagiaan, segala sesuatu yang ada padamu mampu membuatku bahagia, hingga aku ingin hidup selamanya dengan berada di dekatmu dan membahagiakanmu. karena kebahagianmu menjadi tujuan hidupku.'
Mario membagi fokusnya pada laju mobil dan perasaan yang tak menentu, ia merasa akan mati karena detak jantungnya sungguh kacau, saat ini Hilya tengah duduk di samping kemudinya.
Laju mobil melambat dan tiba-tiba saja berhenti.
Mario meminta Hilya tetap duduk didalam mobil, sedangkan ia akan keluar untuk memeriksa mesin mobil.
Langit masih menyembunyikan matahari di balik awan putih. Hujan gerimis sejak subuh belum juga reda membuat jalanan nampak sedikit lenggang, mungkin juga karena ini hari minggu, banyak yang memilih bermalas- malasan di rumah. beberapa toko di pinggir jalan pun masih banyak yang tutup meskipun sudah menunjukan pukul 10 pagi.
Hilya tak dapat melihat Mario karena kap mobil menutupi jendela kaca di depannya.
Hilya menoleh ke samping ia melihat pada jendela kaca, nampak jalanan yang basah dan beberapa orang pejalan kaki menggunakan payung.
"Apa dia akan baik-baik saja," gumam Hilya dengan melihat lalu lalang pejalan kaki. ia sedang memikirkan Mario yang keluar mobil tanpa menggunakan payung.
Mengingat mu gkin saja Mario akan terserang demam jika terus terguyur hujan.
Hilya memutuskan untuk keluar dan menghampiri Mario.
Ia bertanya tentang letak payung di dalam Mobil, namun sayangnya Mario tak pernah membawa persedian payung di mobilnya.
"Aku akan membelinya." ucap Hilya dengan menunjuk sebuah toko yang selalu buka 24 jam dan tidak memiliki hari libur.
"Tidak perlu, kamu akan kebasahan jika terus berada di luar Mobil." tolak Mario pada Hilya, Mario lantas membuka jaket dan menutupkan pada kepala Hilya.
__ADS_1
"Masuklah kedalam, bajumu bisa basah nanti."
Hilya mengambil jaket yang menutupi kepalanya, ia berikan lagi pada Mario.
"Pakailah, aku tidak apa. Aku akan membeli payung sebentar."
"Tidak, biar aku saja. Kamu masuk." Mario kembali menutupi kepala Hilya dengan jaket denim miliknya.
Hilya akan membuka suara namun Mario sudah berjalan meninggalkannya menuju toko.
Hilya menatapi kepergian Mario, tanpa ia sadari tangannya kembali mengusab perutnya yang datar.
"Awas!" pekik Hilya saat sebuah Motor hampir saja menabrak Mario, beruntung reflek Mario cepat hingga tak terjadi hal buruk padanya.
Hilya bernafas lega saat itu juga. Namun ia menjadi murung ia terdiam, ia sedang mencoba menguasai dirinya agar tidak menangis mengingat kembali cara tuhan mempersatukan dirinya dengan pria yang ia anggap kurang baik itu.
Beberapa hari ini ia merasakan hal aneh, ia akan merasa badmood ketika tak melihat Mario. Aneh karena biasanya mood nya itu akan buruk ketika melihat Mario, namun beberapa hari ini justru berbeda.
Itulah mengapa ia pun menyiapkan kamar untuk Mario.
Hilya bertanya pada sistem androit pintar tentang perubahan hormon ibu hamil, dan menurut yang ia baca yang ia alami ini merupakan hal wajar yang tidak perlu ia khawatirkan, seiring perkembangan usia kandungan hormonnya pun akan terus berubah.
Mario menghampiri dan berdiri di bawah payung yang sama dengan Hilya.
"Aku sudah memintamu untuk kembali masuk, lihat bajumu mulai basah karena grimis"
Hilya melihat lengannya saja yang sedikit basah karena jaket Mario menutupi kepala dan sebagian pakaian atasnya.
Sedangkan Mario kaos yang ia kenakan sudah benar-benar basah.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Hilya dengan mengacuhkan ucapan Mario.
Mario tercengang dengan pertanyaan Hilya, ia berusaha senormal mungkin dalam bersikap, ia menyembunyikan rona bahagia sebab pertanyaan Hilya.
"Aku melihatnya, saat kamu hampir tertabrak motor."
"Ti—tidak aku tidak apa."
"Alhamdulilah," Hilya Memegang gagang payung yang juga di pegang oleh Mario.
"biar aku memeganginya, kamu bisa mengecek mesin."
Mario terpaku, namun ia segera menguasai kembali kesadarannya.
"Ba—baik." Mario kembali mengotak atik mesin mobilnya.
Tidak ada yang bersuara. cukup lama, Hilya memperhatikan setiap usaha Mario dalam memperbaiki mesin mobil.
Setelah dirasa cukup Mario berjalan dan menghidupkan mobilnya.
Butuh beberapa kali usaha sebelum akhirnya mesin benar-benar menyala.
"Alhamdulilah," Hilya tersenyum lega.
ia belum pernah merasa selega dan sebahagia ini sejak peristiwa na'as itu.
Mario berjalan memutar dan membuka pintu mobil untuk Hilya.
Mario duduk dan siap kembali menghidupkan mesin.
Deg ...
Jantungnya seolah berhenti berdenyut nadinya membeku, saat Hilya memakaikan seatbelt untuknya. Wajah Hilya begitu dekat hingga deru nafas Hilya terasa menyapu wajahnya.
Mario bahkan lupa untuk bernafas.
'Sepertinya aku benar-benar akan terbunuh oleh cinta' batin Mario saat Hilya sudah kembali pada posisi duduknya yang benar.
* * *
Bersambung
__ADS_1