
Umi terduduk di lantai dengan kepala bersandar pintu UGD.
Dokter nampak sibuk beberapa kali memberikan epek kejut pada dada Abi, layar monitor menunjukan gravik detak jantung Abi semakin melemah, hingga akhirnya suara dengung beserta garis lurus nampak disana.
"Waktu kematian pukul 11 tepat dok." seorang suster mengkonfrimasi.
Dokter itu menarik nafas panjang berharap lelah dan sedihnya berkurang.
"Segera kabarkan pada pihak keluarga." ucap sang dokter pria berpawakan jangkung itu.
Umi berdiri begitu pintu terbuka.
"Suster, bagaimana suami saya?"
Persaan takut dan bersalah menggelayut pada Hilya hingga kakinya terasa berat untuk mendekati Umi.
"Maaf buk kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi__." ucapan suster itu menggantung disaat tubuh Umi terjatuh begitu saja.
"Umi!" Hilya berlari mendekat, airmata sudah membanjiri kedua pipinya.
"Umi bangun Umi. maafkan Hilya" Hilya bersimpuh memeluk tubuh lemah Umi yang sudah tidak sadarkan diri.
.
.
.
"Tuan, saya mendengar kabar duka dari keluarga Nona Hilya."
Seketika Mario menjatuhkan pena yang ia pegang, wajahnya menjadi tegang dan nampak kesedihan dimatanya.
"Kiai Rozak meninggal dunia tuan." sambung Anju.
Mario mengusab wajahnya dengan satu telapak tangan berharap penat dan rasa terkejutnya berkurang.
"Tuan, bagaimana dengan rapatnya?" Anju berjalan mengekor di belakang Mario.
"Hubungi Kenzo, sudah saatnya dia bekerja." perintah Mario pada Anju.
"Tuan." Anju melirik kaca sepion memperhatikan tuannya yang nampak termenung dengan menatapi jalanan kota melalui jendela kaca.
"Tambah kecepatan." perintah Mario
bayangan Hilya yang menangis saat di pasar dan betapa Hilya memandangnya dengan penuh kebencian sungguh sangat mengganggu perasaannya.
__ADS_1
rasa sedihnya bertambah dengan kabar duka mengenai Kiai Rozak.
"Dia sangat lemah hatinya sangat lembut, bagaimana bisa dia menghadapi duka sebesar ini." gumam Mario yang meratapi perasaan Hilya.
Mario memejamkan mata menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
namun bayangan tentang dirinya yang memperkosa Hilya kembali hadir hingga membuat Mario semakin gelisah.
"Ada,apa denganku mengapa mimpi itu selalu saja menggangguku." gumamnya lagi.
Anju hanya memperhatikan dari balik kaca sepion.
"Tuan, apa ada yang mengganggu anda?"
"Tidak." Mario membenarkan posisi duduknya serta merapikan jaz karena mereka mulai memasuki area pesantren.
Anju memakirkan mobil diantara kendaraan para pelayat yang lain.
setelah itu ia membuka pintu mobil untuk Mario.
"Kita pulang saja Nju." Mario hendak masuk kedalam mobil kembali.
ia merasa bingung harus bersikap bagaimana di depan Hilya ia teringat kembali saat Hilya mengusirnya memintanya untuk menjauh.
Ustad Azis berjalan mendekat begitupun Mario yang berbalik badan menghadap Ustad Azis.
"Awalnya aku pikir kamu pria baik-baik. aku merasa memiliki saingan berat atas Hilya, dan ternyata kamu tidak lebih dari bajingan busuk tidak berguna!"
Anju naik pitam tangannya sudah mengepal dan hendak menfhajar Azis namun Mario mencegah menahan Anju untuk maju.
"Kita tidak memiliki dendam satu sama lain aku harap kedepannya kamu dapat menjaga ucapanmu."
Azis tersenyum sarkas.
"Ucapanmu manis tapi kelakuanmu busuk! Kamu puas sekarang, aku tidak akan menikahi wanita yang mengandung, dasar picik!"
Mario melangkah mendekat ia meraih kera baju Ustad berkulit bersih itu.
"Jaga bicaramu." Mario memberi penekanan pada suaranya.
Ustad Azis berganti meraih kera kemeja Mario meremasnya dengan penuh penekanan kini mata mereka saling beradu memberikan tatapan sengit.
"Bajingan!"
Brakk...
__ADS_1
Mario tersungkur akibat pukulan pada wajahnya.
Anju membantu Mario untuk bangun, nampak darah segar mengalir dari sudut bibir Mario.
Ustad Azis kembali tersenyum namun nampak sebuah ledekan bagi Mario.
Anju akan bergerak untuk membalas pukulan Ustad Azis namun lagi-lagi Mario mencegahnya ia memegang lengan Anju.
Suasana menjadi riuh saat Ustad Azis memukul Mario hingga kabar itu tersampaikan pada Hilya dan keluarga.
Hilya berjalan dengan terburu-buru.
hingga kini ia berhadapan dengan Mario.
Plakk...
Satu tamparan mendarat pada pipi Mario.
Hilya menatapnya dengan mata memerah dan berkaca, tangan dan rahang Hilya mengeras menahan emosi dan luka.
"Aku__" belum genap bicara tamparan Hilya kembali mendarat.
"Pergi!" pekik Hilya seraya mendorong beberapa kali tubuh kekar Mario, namun Mario tidak bergerak ia masi ditempat dengan berusaha mencerna, memahami situasi yang ia hadapi.
"Pergi!!!" Hilya berteriak dengan menangis hingga kini menjadi pusat perhatian para pelayat.
ia memukul beberapa kali dada Mario dengan kepalan kecil miliknya.
"Aku benci kamu! Pergi jangan menyentuhku!" pekik Hilya karena saat ini kedua tangannya telah Mario pegang.
Mario terdiam menatapi wajah Hilya yang penuh airmata kesedihan namun nampak emosi pada netranya.
Mario meraih tubuh Hilya membawanya kedalam pelukan.
Dengan merontah Hilya terus menolak pelukan Mario namun Mario justru mengeratkan pelukannya.
akhirnya ia menyadari maksud ucapan Ustad Azis, perilaku sengit Hilya dan kejadian yang ia anggap mimpi.
"Maafkan aku." lirih Mario pada telinga Hilya.
"Aku benci kamu! aku benci!" Hilya melemah dan berujung tak sadarkan diri dalam pelukan Mario.
* * *
Bersambung.
__ADS_1