
"Pak, ini pesanan makan siang anda." Yuni memasuki ruang kerja Mario setelah ia mengetuknya.
"Letakan." perintah Mario agar Yuni meletakannya pada meja tempat biasa ia menerima tamu saat di kantornya.
"Pak apa butuh sesuatu lagi?
"Tidak." Mario tetep fokus pada laptopnya yang menunjukan grafik saham Leon Home Living.
Sudah dua hari ini Mario selalu sibuk bekerja bahkan ia kerap kali meninggalkan sarapan pagi dan ia akan makan saat siang hari, itupun selalu makan di dalam ruang kerjanya.
"Tuan Mario, Nyonya beserta Tuan besar sudah sampai di indonesia dan sedang berjalan menuju pesantren." Anju memberikan infomarsi setelah ia nampak berbicara melalui aerpiece yang selalu ia kenakan.
"Apa?!"
Mario terkejut karena ia belum menceritakan bagimana hubungannya dengan Hilya.
Mario hanya meminta ijin untuk menikah dengan Hilya selebihnya Mario menutupi alasan dibalik pernikahannya.
"mengapa mereka ke pesantren dan bukan pulang ke rumah?" sambung Mario.
"Kabarnya Nyonya besar ingin segera bertemu dengan Nona Hilya, Tuan."
Mario semakin nampak cemas, segera ia bangkit dan pergi dari ruangan kerjanya.
"Tunda rapat hari ini dan atur ulang jadwalku." ucap Mario pada Yuni yang berjalan mengekor di belakang Mario.
"Baik pak." jawab Yuni sigap.
"Hubungi Umi dan Hilya. tidak, tidak perlu menghubungi mereka." sambung Mario setelah ia menimang.
Lif terbuka di lantai utama dan mobil Mario sudah menunggu di depan pintu lobi.
Yuni membungkuk hormat saat Mario memasuki mobilnya bersama Anju.
tugas Yuni hanya sebatas di kantor sedangkan Anju hampir 24jam berada di samping Mario.
"Ck... beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya." gumam Yuni dengan mebatapi kepergian mobil Mario.
.
.
.
"Assalamualaikum." ucap Mario ketika ia memasuki rumah kediaman Umi dan Hilya.
"Waalaikumsalam." jawab Umi dan kefua orang tua Mario.
"Ibu, Ayah." Mario mencium kedua tangan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kenapa tidak mengabari dulu jika sudah sampai, Mario kan bisa menjemput di bandara.
"Lihatlah Bu, siapa yang berbicara, baru beberapa hari menikah dia sudah bersikap lebih tua dari pada Ayah." ledek Ayah
Ibu tersenyum dengan mengusab rambut Mario.
"Kami tidak ingin mengganggu pekerjaanmu."
"Kalo begitu mengapa kalian kembali?"
"Mario." timpal Umi tidak setuju dengan ucapan Mario meskipun Umi tahu itu hanya bercanda.
"Aih ... watak palsumu tidak bertahan lama nak." sahut Ayah yang memang senang sekali menyudutkan Mario.
Hilya datang dengan membawa baki berisi beberapa cangkir teh dan cemilan.
Umi tersenyum memandangi wajah lembut nan ayu milik Hilya.
"Kemarilah nak." pinta Ibu saat Hilya akan duduk di bangku dekat Umi.
Ibu meminta agar Hilya duduk bersebelahan dengannya.
dengan wajah yang nampak sayup Hilya menerima permintaan Ibu.
Ibu menggenggam kedua tangan Hilya menumpuhkan kedua tangannya menjadi satu seraya tersenyum penuh kebahagiaan.
"Ibu sangat bahagia mendapatkan menantu secantik dan sebaik dirimu. Ibu selalu berdoa berharap kamu menjadi menantu ibu. ibu menyukaimu sejak pertemuan pertama kita."
"Iya Umi, saat Hilya pingsan ditengah jalan Ibu lili yang menolong Hilya, Hilya sudah pernah bercerita pada Umi." jawab Hilya segera, ia tidak ingin Ibu atau Mario menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Umi, terlebih tentang penyebab Hilya pingsan.
Mario menyentuh punggung Ibu saat ia tahu bawasannya Ibu sudah hendak berkomentar.
Mario menggeleng kecil ketika Ibu menoleh padanya.
"Terima kasih banyak Ibu Lili karena sudah menolong putri kami, kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika Ibu Lili tidak menolong Hilya waktu itu."
"Tidak Umi tidak perlu berterima kasih saya sangat bersyukur karena dapat membantu."
"Huuukk..." Hilya tiba-tiba saja mual ia segera berlari kedalam guna menuju kamar mandi.
"Apa__" ucapan Umi menggantung dengan menoleh pada Mario dan Umi bergantian.
"Hilya__..." Mario tidak mampu melanjutkan ucapannya.
"Iya Ibu, saat ini Hilya sedang mengandung."
"Apa!?" Ibu dan Ayah nampak terkejut.
"Bu, sebaiknya kita kembali ke rumah." ajak Mario
__ADS_1
"Tapi_"
"Bu, Mario akan menjelaskan saat di rumah."
"Saya harap apa pun penjelasan Mario nanti tidak mengurangi rasa bahagia dan sayang Ibu untuk putri saya." pesan Umi.
Prang ...
Sebuah suara dari arah dalam terdengar seperti benda terjatuh.
"Hilya!" gumam Mario dan Umi, segera mereka bergeges masuk kedalam guna mengecek kondisi Hilya.
"Hilya ..." Mario yang sampai dahulu segera memegang lengan Hilya yang sudah duduk di lantai dengan tangan yang berlumuran darah.
namun Hilya menyibakan tangan Mario ia tidak ingin disentuh oleh Mario saat itulah Ibu, Umi dan Ayah melihat penolakan Hilya terhadap Mario.
Ibu dan Ayah saling menatap sementara Umi sudah berada di samping Hilya dan nampak sudah membalut luka Hilya dengan sebuah kain.
"Ayo bangun nak." ajak Umi dengan memapa tubuh ringkih Hilya.
Sementara itu Mario hanya terdiam dengan menatapi kepergian Hilya bersama Umi.
Ibu dan Ayah sudah menatapi Mario dengan raut wajah yang sangat menuntut penjelasan.
* * *
Plakkk...
Ayah menampar pipi Mario.
kini mereka sudah kembali pada kediaman keluarga Dimas selaku Ayah dari Mario.
"Ayah, sudah." cegah Ibu dengan memeluk tubuh Mario disaat Ayah sudah mengangkat tangan guna kembali menampar Mario.
"Ayah sangat malu mempunyai anak sepertimu!" pekik sang Ayah, ia merasa sangat marah ketika Mario menceritakan tentang masalahnya dengan Hilya.
"jika tahu seperti itu lebih baik Ayah tetap di jerman!" sambungnya lagi dengan wajah memarah karena marah.
"Maafkan kesalahan Mario Ayah." jawab Mario penuh sesal, namun penyesalan itu sudah tidak ada artinya nasi sudah menjadi bubur basih yang tidak dapat dimakan meskipun telah dibumbui.
"Pulanglah nak, meskipun istrimu menolak kehadiranmu tapi kamu tidak boleh meninggalkannya terlebih dengan kondisinya saat ini." pinta Ibu.
"Mario mohon Bu, saat bertemu Hilya bersikaplah sewajarnya, jaga perasaannya."
"Anak bodoh!" pekik Ayah kembali.
"apa kamu mengajari kami sekarang hah!"
"Ayah sudah yah." relai Ibu karena ia sudah sangat lelah dengan semua permasalan yang ada.
__ADS_1
* * *
Bersambung.