
Ada tiga hal yang tidak dapat kembali meskipun kamu menginginkannya.
Waktu yang sudah berlalu.
Ucapan.
Penyesalan.
sekeras apa pun, sekuat apa pun rasa penyesalanmu, tidak akan mengembalikan waktumu.
* * *
hallo... mungkin kalian jengkel ya, karena terlalu lama menunggu otor. eitdah, otor larat ya. karena otor yakin bukan otor yang kalian tunggu, tapi kelanjutan bab baruππ.
mohon pengertian ya.
karena banyak kesibukan otor tidak bisa update bab baru setiap hari.
semoga kalian sabar menanti.π
yok votenya yok. tinggalkan like dan komen.
πππ
Hilya bergeming di depan pintu ketika pintu itu terbuka menampakan Pelangi dengan masih memegangi daun pintu.
"Assalamualaikum, kak." sapa Hilya, ia mengulurkan tangan guna bersalaman, namun harus ia tarik kembali karena tak kunjung disambut oleh Pelangi.
Hilya mengulas senyum canggung dan kikuk.
"Akuβ"
"Kamu siapa? Mau cari siapa? Ada perlu apa?" pertanyaan Pelangi membuat Hilya mengerutkan keningnya.
"Bingung?" sambung Pelangi lagi dan Hilya masih bergeming.
__ADS_1
Menatap Pelangi dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kak, aku ingin berteβ"
"Siapa kamu?" tanya Pelangi lagi kali ini Pelangi melipat kedua tangannya kedepan.
Ia menatap Hilya dengan penuh remeh.
Dari tatapan itu akhirnya Hilya mengerti, bahwa wanita yang lebih muda darinya ini dengan perut yang buncit, sedang menyinggung dirinya.
"Kak, aku hanya ingin bertemu suamiku."
"Suami? Suamimu yang mana?"
"Kak, sekali lagi aku katakan aku ingin bertemu suamiku." nada bicara Hilya berubah tegas, meskipun suara lembutnya masih mendominasi.
Pelangi mendengus kesal ia memutar bola matanya sebal.
"Wanita labil." sindir Pelangi dengan bergumam namun dapat Hilya dengar.
"Pulang sono! Lagipula kak Mario gak butuh istri yang gak bisa menerima dia apa lagi sampai mengurus keperluannya."
"Siapa ngi...!" suara ibu terdengar dari arah dalam. Pelangi menoleh saat Ibu berjalan mendekatinya Mata Hilya berkaca -kaca saat ia melihat Mario pada kursi roda yang sedang Ibu dorong.
Ibu berjalan mendekati namun ia tinggalkan Mario ditempatnya.
Hilya hendak masuk kedalam rumah namun Pelangi segera membentangkan lengan hingga Hilya menurungkan niatnya.
"Assalamualaikum, ibu." Hilya bertegur sapa dengan Ibu ia mengulurkan tangan untuk bersalaman, lega karena Ibu mau menerima uluran tangannya.
ia mencium punggung tangan Ibu.
"Waalaikumsalam. Hilya kamu disini Nak?"
Pertanyaan Ibu membuat Hilya mengulas senyum, ia sangat lega karena sikap Ibu tidak sedingin Pelangi.
***
Hilya berjalan menyusuri terotoar dengan langkah lemah. Sedih, kecewa dan menyesal mengeruak menjadi satu. Ucapan Ibu seolah bagai belati untuknya.
__ADS_1
Dan sialnya ucapan itu terus saja terngiang ditelinga Hilya.
'Ibu benar, bagaimana aku bisa berfikir dangkal untuk kembali pada Mas Mario? Aku sudah menyakitinya. Terlalu menyakiti dirinya. Ibu benar kini saatnya kita menjalani kehidupan normal, tanpa paksaan dan beban dari rasa bersalah.'
Tinn! ..
Hilya tersentak kaget saat telakson mobil memintanya untuk minggir.
Karena tanpa sadar Hilya sudah berjalan keluar dari terotoar.
"Mau mati jangan disini!" teriak sang sopir mobil pick up, pada Hilya setelah Hilya kembali menginjak terotoar.
Hilya mengela nafas lelah.
"Bahkan malaikat maut pun menolakku. Aku gadis egois, tanpa pendirian teguh dan plin plan." Hilya tersenyum miris pada nasipnya dan sikapnya selama ini.
Ia kembali mengingat ucapan Ibu yang memintanya agar hidup bahagia, karena Mario pun akan bahagia bersama keluarganya.
Tiba-tiba air mata lolos begitu saja ia terisak dan berjongkok ia melipat kedua lengan dan bertumpu menenggelamkan wajahnya, bahunya naik turun bertanda ia sedang terisak.
Ia menangisi kebodohan, serta keegoisannya.
Hilya teringat kembali saat ia meminta pada Mario untuk berpisah setelah melahirkan.
'Bagaimana bisa aku sangat bodoh.'
Tangisnya semakin kencang seiring rasa penyesalan.
'Bagaimana bisa, aku bersikap egois ketika dia menunjukan perasaan pedulinya' Hilya teringat saat Mario memasakan hidangan korea, justru Hilya tolak dan mengutamakan egoisnya.
"Aku jahat." lirihnya disela tangis penyesalan.
"Wajar saja jika sekarang dia melupakan aku." sambungnya.
Penyesalannya sudah tidak berarti, terlebih Ibu mengatakan akan segera mengurus surat dipengadilan untuk hubungan mereka.
Rasa sakitnya bertambah dikala mengingat raut wajah Mario yang bergeming menatapnya.
Tak ada tatapan seperti dulu untuknya, Hilya mengangkat wajahnya mengusab kedua pipi yang basah lalu meremas dadanya, tak cukup ia pun memukul mukul dadanya berharap sesaknya akan hilang dengan pukulan itu.
__ADS_1
* * *
Bersambung.