Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Mencari Cincin


__ADS_3

Mario menepikan mobil di depan sebuah mall ia keluar dari mobil setelah ajudan membukakan pintu untuknya.


Beberapa orang dengan setelan jaz hitam berjajar rapih menyambut kedatangan Mario.


mereka adalah para ajudan dan detekfit yang Mario tempatkan untuk selalu mengumpulkan informasi tentang Hilya dan keluarganya.


"Bubar. aku tidak ingin menjadi pusat perhatian." perintah Mario kepada para ajudannya.


dan memang benar setiap pengunjung yang berada di pelataran mall menatapnya dengan tatapan aneh. tak jarang diantara mereka yang menatap kagum pada Mario.


"Siap pak!" seru salah satu ajudan yang bertugas memimpin para bawahannya.


Seketika mereka berlalu berpencar.


Yuni membungkuk hormat.


"Pak mereka di lantai dua." Yuni meneruskan infomarsi yang ia dapat.


Segera Mario melangkah memasuki mall dengan Yuni dan satu ajudan yang selalu berada di dekatnya.


Ajudan itu nampak berbicara melalui earpiece


Samar namun Mario dapat mendengar saat sang ajudan meminta rekannya untuk segera mengosongkan lif agar bos mereka bisa nyaman menuju lantai dua.


itulah mengapa Mario selalu menempatkan satu ajudan disisinya agar ia lebih efektif dalam mengerjakan tugas dan beraktifitas karena baginya waktu adalah sesuatu yang sangat berharga ia mengemban tanggung jawab dari prusahaan besar dan ia tidak ingin membuang waktu luang untuk sekedar mengantri lif dan kegiatan lain yang memakan waktu untuk antri.


Lif terbuka mengantarkan mereka pada lantai dua.


Banyak pengunjung lalulalang keluar masuk dari toko lain ke toko lainnya.


dan nampak satu toko yang terlihat hanya berisi 3 orang satu diantaranya adalah Hilya.


Mario berjalan mendekat.


lalu seorang ajudannya yang berdiri didepan toko nampak membungkuk hormat ia menarik pintu toko yang terbuat dari kaca transparan itu.


"Selamat datang tuan" ucap pemilik toko setelah ia membungkuk hormat.


namun Mario tak menghirau ia lebih tertarik pada dua wanita yang sedang sibuk memilih dan mencoba beberapa pernak pernik cantik nampak Azis yang juga duduk di antara mereka.


Di depan etalase yang menyajikan berbagai perhiasan.


Mario masih berdiri di belakang mereka dengan satu tangan ia masukan kedalam saku celana.


"Mbk Hil.." ucap Qila setelah ia menyadari tidak ada pengunjung lainnya selain mereka bertiga.


"sepertinya hanya kita yang berada disini."


Qila celingukan begitu juga dengan Hilya dan Ustad Azis.


Mario mendekat.


Dan saat itu bebarengan dengan Azis yang menoleh kebelakang hingga membuat netra mereka bertemu.


Azis bangun dari duduknya berdiri tegap, melihat Azis berdiri membuat Qila turut bangkit begitupun dengan Hilya.

__ADS_1


kini mereka sama-sama menatapi sosok pria dengan setelan jaz hitam rapih berwajah blasteran dengan dua orang di belakangnya.


"Tidak apa lanjutkan saja kegiatan kalian." kata Mario mempersilahkan agar mereka tidak merasa sungkan.


"Senang bertemu anda kembali." Ustad Azis mengulurkan tangan meminta untuk berjabat tangan.


"Ini kali kedua kita bertemu, senang bertemu anda disini." ucap Mario dengan menerima jabat tangan Ustad Azis.


"hallo Hilya." sapanya pada Hilya namun Hilya hanya terdiam dengan memandang wajah Mario.


Ustad Azis mengerutkan kedua alisnya karena merasa ada yang berbeda dengan Hilya.


ia tidak pernah ditatap begitu lama oleh Hilya, sementara sekarang Hilya terlihat sedang tertegun dengan sosok pria yang berada di depan Mereka.


"Mbk." Qila menyenggol lengan Hilya hingga nembuat Hilya menoleh pada Qila dan tersadar dari lamunannya.


"Sepertinya kamu sedang sibuk Hil." ucap Mario pada Hilya namun pandangannya tetap menatap pada Ustad Azis.


Ustad Azis tersenyum getir. ia membuat kesimpulan sendiri bahwa pria di depannya ini sedang cemburu.


"Kami sedang memilih cincin untuk acara lamaran lusa." penjelasan Ustad Azis membuat Mario semakin intens menatapnya.


"Benarkah?" jawab Mario dengan tersenyum dan mengangguk.


"boleh aku ikut bergabung, sepertinya kalian belum menemukan yang cocok."


"Tidak!" jawab Hilya dengan cepat.


"kami sudah selesai. Qila, Ustad mari kita pulang." ajaknya dengan berjalan mendahului.


"Hilya .." Mario memegang lengan Hilya saat Hilya melewatinya.


"Jangan sentuh saya!" pekik Hilya dengan nada gemetar, matanya nampak berkaca dan memerah.


Azis dan Qila terdiam mereka sedang mencerna situasi diantara Mario dan Hilya.


"Maaf." sesal Mario.


"Ustad ayo kita pulang saja." ajaknya namun ia tetap menatap Mario.


"Tidak. tidak perlu biar aku saja yang pergi." Mario berbalik menghadap pada Ustad Azis.


"silahkan lanjutkan saja, pilih yang terbaik untuknya."


Ustad Azis tersenyum.


"Tentu saja aku akan memberikan yang terbaik untuknya."


"Aku sudah membeli semua isi toko ini, kau tinggal memilihkannya saja."


"Wah ternyata anda berlimpah uang, sungguh aku beruntung mengenal seseorang seperti anda, tapi maaf aku tidak terbiasa menerima sesuatu yang gratis. Qila ayo kita cari toko lain." Ustad Mario meraih tangan adiknya dan meninggalkan toko itu menyusul Hilya yang terlebih dulu keluar.


"Maka kau tidak akan pernah mendapatkannya." gumam Mario pelan.


"ikuti dia. aku tidak ingin dia mendapatkan cincin meskipun dia mencarinya ke ujung Dunia sekalipun."

__ADS_1


"Baik Pak." sahut Ajudan lalu ia kembali berbicara melalui earpiece miliknya.


* * *


"Terimakasi Ustad sudah mengantarkan saya." ucap Hilya saat telah keluar dari mobil milik Azis yang terparkir di pelataran pesantren.


"Tidak perlu berterimakasi Ustadzah, bukankah memang sudah menjadi tugas saya"


Hilya mengulas senyum begitupun dengan Ustad Azis.


sementara Qila nampak nyaman berada didalam mobil dengan masih memainkan ponsel genggamnya.


"Maaf jika hari ini anda kurang nyaman Ustad."


"Harusnya saya yang meminta maaf karena belum mendapatkan cincin untuk Ustadzah."


"Tidak Ustad, jika harus ada yang meminta maaf maka Pria arogan itulah orangnya. aku tahu dia yang melakukan ini hingga semua toko tidak bersedia menjual dagangan mereka pada kita. aku benar-benar sangat membencinya."


Ustad Azis terpaku dengan penuturan Hilya.


ia tidak menyangka Ustadzah cantik didepannya ini mampu mengubah cara bicaranya yang lembut.


"Aku akan memberinya pelajaran. Ustad tahu bahkan dia berbuat kasar pada seorang wanita dimalam hari, dan beberapa hari lalu dia memukuli pria remaja di jalanan, aku tidak abis fikir mengapa aku harus bertemu pria arogan seperti dia."


Hilya menghirup udara ia hampir kehabisan nafas karena bicara panjang lebar tanpa ada jedah.


ia tidak tahu bahwa Ustad yang berwajah manis itu tengah menatapinya dengan wajah yang tidak biasa.


Ustad Azis tersenyum setelah Hilya menghentikan ocehannya.


"Maaf Ustad, aku kehilangan kontrol." sambung Hilya setelahnya karena ia baru menyadari ucapannya yang panjang membuat Ustad Azis terkekeh kecil.


"Tidak. tidak apa Ustadzah, aku justru beruntung bisa melihat sisi lain dari dirimu."


Hilya tersenyum kaku campur malu. ia membuang wajah kesamping agar menghindari tatapan dari Ustad Azis.


"Aku pulang dulu Ustadzah, sepertinya akan turun Hujan."


"Tidak sholat asar dulu di masjid Ustad?"


"Tidak aku sholat di rumah saja lagipula masih jam 3."


Hilya mengangguk.


"Sekali lagi terima kasih untuk novel dan kaosnya ustad."


"Tidak perlu sungkan ustadzah itu hanya hadiah kecil yang ku beri untuk Ustadzah sebagai tanda terima kasih karena Ustadzah sudah menerima niat baikku untuk mengkhitbah Ustadzah."


Hilya terdiam menatap serius netra Ustad Azis.


"Assalamualaikum Ustadzah." pamit Ustad Azis kemudian.


"Waalaikumsalam." jawab Hilya sebelum Ustad Azis memasuki mobilnya.


Hilya masih tertegun menatapi kepergian mobil berwarna hitam yang berasal dari negara sakura.

__ADS_1


* * *


Bersambung.


__ADS_2