Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Jalani Takdirmu.


__ADS_3

Satu persatu para pelayat meninggalkan kediaman Kiai Rozak.


Hingga kini rumah itu nampak sepi hanya menyisahkan Mario sebagai tamu serta Umi selaku tuan rumah.


"Aku." Mario menjeda kalimat guna mengumpulkan kembali keberanian.


"Maaf." Mario menatap Hilya yang juga menatapnya dengan penuh kebencian.


"Maaf, maafkan kesalahanku."


Umi mengangkat pandangan menatap Mario.


"Aku tidak akan menerimamu! kamu penyebab kehancuran hidupku dan kematian Abiku!" suara Hilya bergetar menahan tangis.


"Tolong maafkan kesalahanku."


"Pergi!" teriak Hilya.


Umi hanya diam ia terlalu lelah untuk beragumen.


"Aku akan kembali, sebanyak apapun kamu memintaku untuk pergi sebanyak itupula aku akan kembali. mungkin aku melakukan kesalahan tapi percayalah cintaku tulus, aku sangat mencintaimu."


"Jangan bicara tentang ketulusan dan cinta kamu semakin menjijikan."


"Nikahi putriku." Umi menatap Mario dengan kemarahan diwajahnya namun matanya sayub terdapat genangan airmata.


"Umi! apa maksud Umi?"


"Menikahlah dengannya." Umi masih menatapi Mario.


"Tidak! apa Umi tahu selain dia seorang pemerkosa, dia juga berhati kejam, pemabuk dan Umi tahu dia suka sekali memukuli orang, apa Umi akan menyerahkan aku pada pria seperti dia. aku akan memasukannya kedalam penjara, agar tidak ada wanita lain yang menjadi korbannya" tangan Hilya gemetar dengan memegang sebuah ponsel ia sibuk mencari nomer kantor polisi.


Brak ...


Umi melempar ponsel yang Hilya pegang.


seketika membuat Hilya bangkit dari duduknya.


"Umi." gumam Hilya pelan, pasalnya ia tidak pernah sekalipun melihat Umi emosi seperti ini apalagi menyakiti hatinya.


"Menikah dengannya!" pekik Umi. kini Umi turut berdiri dengan menatap kesal pada Hilya.


"Tidak!" Hilya sedikit berteriak, kini kekecewaan dan rasa sedihnya bertambah dengan sikap Umi yang justru tidak berpihak padanya.


"Apa!" pekik Umi lagi.


"apa yang akan kamu katakan pada polisi, apa yang akan kamu jelaskan ketika semua orang menghujatmu!"


Hilya terdiam ia tercekat dengan ucapan Umi.


"Tidakah kamu memikirkan nama baik almarhum Abi, beliau sudah pergi jauh apa kamu akan membiarkan gunjingan jelek tentang Abimu?" emosi Umi meredah berganti derai airmata.


"Menikahlah, jalani takdirmu, terima pria dari anakmu." Umi meninggalkan ruangan itu dengan langkah lemahnya.


kedua kaki Hilya sudah tak dapat menopang tubuhnya ia lemah dan terduduk dilantai.


sedangkan Mario hanya diam meratapi kesalahannya.


.

__ADS_1


.


.


jalanan ramai saat sore karena disaat itu para pekerja baik kariawan swasta maupun negri telah kembali dari rutinitasnya masing-masing.


"Dimana kamu saat kejadian itu?"


Anju menjadi kelagapan, gugup harus menjawab apa.


"Katakan. dimana kamu saat itu?"


"Tuan, saat itu mobil mogok saya telah memberi tahu anda bahwa akan mencari air untuk mengisi radiator yang kosong." jawab Anju dengan raut tegang.


Mario memejamkan mata ia mencoba mengingat kejadian saat itu dan ia membenarkan ucapan Anju yang memang sudah mengatakan sebelum ia pergi.


namun ingat baru kembali muncul, yaitu saat Anju membantunya bangun dari bawah kursi mobil dan Anju membantunya mengenakan pakaian.


"Berhenti." lanjut Mario.


"Kamu tuli ha!" pekiknya kemudian.


Anju mengerem mendadak, lalu Mario turun dari mobil dan membuka pintu kemudi setelah itu ia menarik kera kemeja Anju menyeretnya hingga keluar dari mobil.


"Kamu berbohong hah!!" pekiknya seraya mencengkram kera baju Mario.


"Tuan maafkan saya."


Buuukkk...


Anju tersungkur ketanah akibat pukulan yang Mario berikan pada wajahnya hingga berdarah.


Mario kembali meraih kera baju Anju menariknya hingga Anju terbangun.


Bukk...


Mario melayangkan tinjuannya pada perut Anju.


"Aku pikir anda sengaja melakukannya untuk memberi pelajaran pada wanita itu__"


Bukk...


Anju kembali tersungkur.


"Aaaaakkk...!" teriak Mario melampiaskan kekesalannya.


* * *


Mario membuka pintu rumah, langkahnya lemah wajahnya pucat.


"Aishh ..." gumamnya saat menjumpai Kenzo dan Pelangi sedang berciuman di sofa depan tivi.


ia melangkah meninggalkan ruangan itu menaiki tangga menuju kamar.


"Leppas ..." Pelangi mendorong tubuh Kenzo agar melepaskan ciumannya.


"nakal." keluh Pelangi.


"Mumpung Safira masih di rumah Abang Ray sayang, jika Safira sudah pulang dia tidak akan membiarkan aku mendekatimu." ungkap Kenzo.

__ADS_1


"Selamat malam tuan." Anju membungkuk hormat hingga membuat Kenzo dan Pelangi tersentak kaget.


"Sejak kapan kamu berada disini?"


"Lumayan lama tuan."


"Aishhh ..." Pelangi pergi meninggalkan tempat itu, ia merasa jengah pada Kenzo karena sudah membuatnya malu.


Kenzo menyelisik wajah lebam Anju.


"Apa terjadi sesuatu?"


"Tuan, sebenarnya Tuan Mario sedang mengadapi suatu masalah. maafkan saya tuan, saya tidak bisa menjaganya."


"Apa yang terjadi?" Kenzo memasang wajah serius yang seolah tidak tersentuh.


"Tuan, tuan Mario telah menghamili seorang perempuan."


"Apa?!"


.


.


.


Kenzo membuka pintu kamar Mario mendapati Mario yang sedang berdiri pada balkon kamarnya.


Kenzo mendekat menepuk bahu kanan Mario.


"Jadi siapa wanita yang bernasip sial itu?"


Mario menoleh dan menyibakan tangan Kenzo dari pundaknya.


"Anju bercerita padamu?"


"Kamu pikir aku cenayang yang bisa tahu tanpa ada yang memberi tahu."


Mario menghela nafas berat.


"Hilya Humairah."


"Gadis berhijab itu?"


Diamnya Mario menjadi jawabpan bagi Kenzo.


"Aku tidak mengerti mengapa aku setega itu, aku bahkan tidak menyadari perbuatan jahatku padanya, bahkan hatiku sangat terluka jika membayangkan betapa ketakutannya dia saat itu."


Kenzo menarik nafas panjang ia mampu melihat penyesalan dalam diri Mario.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


"Entahlah aku tidak tahu harus bagaimana, rasa bencinya terhadapku sudah sangat menyiksa."


"Ayo kita siapkan lamaran." ajak Kenzo hingga membuat Mario terpaku menatapnya.


"Bagaimana bisa bahkan dia sangat ingin membunuhku."


"Kamu tetap harus bertanggung jawab, pikirkan tentang bayi mu yang ada dalam kandungannya."

__ADS_1


* * *


Bersambung.


__ADS_2