Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Terbiasa.


__ADS_3

Hilya terpaku dengan kehadiran Mario yang berdiri dekat meja makan.


'Apa dia sudah lama berada disitu? Apa dia mendengar pembicaraanku?' pertanyaan itu menggelayut dalam benak Hilya.


Sementara Mario memasang wajah lugunya, ia tidak menyangka bahwa Hilya menunggu kepulangannya.


"Aku__"


"Jangan salah sangka" sambung Hilya memutus ucapan Mario.


"aku tidak mengharapkan kehadiranmu. Tidak akan pernah!" Hilya berlalu ia berjalan keluar.


"Meskipun kamu hanya mengharapkan apa yang aku bawa, tapi itu membuatku bahagia." gumam Mario pelan setelah kepergian Hilya. Mario mengulas senyum lalu menyisir rambutnya merapihkan dengan jari-jari.


namun ia segera mengendus setelah mencium aroma asam dari bagian ketiaknya.


Hilya berjalan menapaki jalan berpaving sembari mengayunkan kedua tangan kedepan dan belakang, sudah cukup lama ia tidak menikmati udara pagi seperti ini.


Akhir-akhir ini rasa mual dan kondisi tubuhnya sudah mulai setabil ia hanya mual ketika pagi hari saat bangun tidur saja, namun ia selalu mengantongi coklat dan cemilan, jika tidak maka rasa masam dan tidak nyaman akan ia rasakan dan berujung pada rasa mual.


Morning sickness yang dialami Hilya membaik setelah kehamilannya menginjak usia 9 minggu.


Hilya mengusab perut datarnya setelah ia menyadari ada nyawa lain dalam rahimnya, Hilya tersenyum masam menertawakan dirinya, ia sendiri tidak mengerti perasaan yang saat ini ia rasakan.


Senangkah, atau justru menyesali takdirnya.


"Nona," sapa Anju saat ia berpapasan dengan Hilya.


"Saya membawa pakaian ganti untuk Tuan. dimana saya harus meletakannya?"


"Masuk saja." ucap Hilya acuh, ia segera kembali berjalan meninggalkan Anju.


"Ganteng bangetttt...." riuh para santri yang sedang menyapu halaman sambil bergosip.


Diantara 4 santriwati Hilya melihat Loli disana.


Seorang santri yang cukup cantik dan paling terlihat menonjol diantara santriwati yang lain. Selain cantik Loli juga tergolong orang berada hingga menunjang penampilannya.


"Beruntung sekali Ustadzah Hilya, udah ganteng, kaya, baik dan senyumannya itu loh, bikin meleleh ..." ucap salah seorang santri disambut gelak tawa oleh yang lain.


"Iya, aku rela deh jadi istri keduanya." jawab yang lain dengan terkekeh.


Hilya menajamkan pandangannya, ia tidak menyukai Suaminya menjadi bahan gibha oleh para santri terutama tentang pujian yang mereka lontarkan.


"He'em..." Hilya bersuara hingga membuat para santri menoleh dan sedikit terkejut.


Mereka menunduk sopan pada Hilya.


"Selesaikan tugas kalian, dengan berpencar jangan berkumpul seperti ini." pinta Hilya dengan nada tidak bersahabat.


"Iya Ustadz." jawab mereka kompak lalu berpencar dengan membawa sapu masing-masing.


Namun Hilya mengikuti seorang santri, Hilya mengekor di belakang santri itu.


"Ustadzah?" Santri itu bingung dengan kelakuan Hilya yang mengikutinya.


"Siapa namamu?" tanya Hilya kemudian.


"Fiko Ustadz," jawab Fiko dengan perasaan gunda gulana, sepertinya Fiko mengerti mengapa Hilya mengikutinya, Fiko menunduk dengan meremas kencang gagang sapu yang ia pegang.


"Apa kamu yakin ingin menjadi istri kedua dari suamiku?" tanya Hilya kemudian.


Fiko mengangkat kepala ia menatap wajah Hilya yang nampak serius.


"Ti-tidak Ustadz, sa-saya, saya hanya becanda." jawabnya gugub.

__ADS_1


"Baguslah." Hilya tersenyum lembut, itu ia lakukan agar santri itu tidak merasa tegang dan berhasil karena Fiko nampak mengulas senyum lega.


"Selesaikan tugasmu," pinta Hilya kemudian.


"Baik Ustadz." Fiko akan berbalik untuk pergi namun Hilya kembali meraih lengannya, hingga Fiko kembali berbalik dan menatap Hilya dengan raut bingung.


"Jangan berbica ngawor lagi, karena ucapan termasuk doa, dan bebicaralah yang baik-baik saja, kamu faham maksudku?"


"Ba-baik Ustadz, ma-maaf."


"Pergilah."


"Assalamualaikum, Ustadz."


"Waalaikumsalam." jawab Hilya singkat seraya berjalan meninggalkan Fiko.


Begitu Hilya sudah berjarak cukup jauh para santri berlarian menghampiri Fiko mereka penasaran apa yang Fiko obrolkan dengan Ustadzah yang mereka kenal sangat lembut itu.


Hilya menarik nafas lelah, ia duduk pada bangku taman yang terdapat di taman lingkungan pesantren.


Seolah ia sedang melepas rindu dengan alam sekitar ia menikmati suasana pagi dengan memandangi bunga yang berjajar aneka warna terawat dengan baik.


Lagi. Hilya mengusab perut datarnya dengan sendirinya, tidak ada hal yang sedang ia fikirkan ia mengusab perutnya tanpa alasan, itu terjadi begitu saja secara alami.


Dan Hilya tidak menyadari perbuatannya itu.


Pandangan Hilya beralih pada Mario yang berjalan dengan tergesah berserta Anju mengekor di belakangnya.


Pakaiannya sudah kembali rapih dengan setelan jas seperti biasa.


Anju mendahului Mario saat sudah dekat pada mobil untuk membuka pintunya. Namun Mario tak lantas memasuki mobil karena ia justru merogo saku celana dan mengangkat panggilan telpon.


Hilya tersenyum melihat kesibukan Mario yang nampak jelas.


"Ustadzah!" panggil Rani, ia berlari kecil menghampiri Hilya, nampak raut lelah pada wajah Rani, bahkan nafasnya tersenggal.


Karena lelah berlari berkeliling pesantren untuk mencari Hilya.


"Bu Odah__"


"Ada apa?" sambung Hilya tak sabar karena lagi lagi Rani menarik nafas menjeda kalimatnya.


Dari kejauhan, Anju memperhatikan interaksi Hilya dan Rani. Sementara Mario masih sibuk berbicara di telpon dengan mengadap arah lain.


Hilya berjalan mengekori Rani dengan menggandeng tangan Rani.


Cara berjalan yang nampak tergesah itu menarik perhatian Anju.


Mario memberikan ponselnya pada Anju.


"Ada apa?" tanya Mario karena Anju nampak akan bicara namun enggan.


"Tuan, sebaiknya anda berpamit pada Nona." saran Anju, ia hanya beralasan agar Mario kembali dan memastikan semua dalam kondisi baik-baik saja.


"Apa harus?" tanya Mario ia merasa tidak yakin Hilya akan menanggapinya.


"Bisa anda coba Tuan."


"Mungkin dia akan kembali menghardikku dengan suara lembutnya" Mario tersenyum membayangkan hal itu.


"Sepertinya anda merasa senang ketika Nona menghardik dengan caciannya."


Mario tersenyum kembali pikirannya berada diawang awang.


"Mari Tuan." ajak Anju mempersilahkan.

__ADS_1


"Mas Mario!" Loli berlari menghampiri.


"Alhamdulilah, Mas belum berangkat."


"Ada apa?" Mario melihat kecemasan dari wajah Loli.


"Ustadzah , dia__"


Mario berlari meninggalkan Loli dan Anju, tanpa menunggu Loli menyelsaikan ucapannya.


Loli menarik nafas lelah saat Anju menatapnya.


"Apa tidak bisa dia menungguku menyelsaikan ucapanku?" tanya Loli pada Anju.


Dan Anju nampak menggaruk satu alisnya.


Mario tiba di dalam rumah, kecemasannya semakin bertambah saat beberapa orang nampak berkerumun, seperti mengerumini sesuatu.


"Hilya!" Pekik Mario seraya berlari mendekati.


Rasa malu tiba-tiba menjelma saat ia menjadi perhatian 5 orang wanita, dan Bahkan Hilya sampai berdiri akibat teriakan Mario yang memanggil namanya.


"Mas, Mario." Rani berdiri menghampiri.


hingga membuat Hilya memincingkan bibir atasnya.


"Syukurlah Mas Mario belum pergi," ucap Rani yang sudah berdiri di depan Mario.


"Bu Odah, butuh bantuan." sambung Rani kemudian.


"Rani!" suara Hilya meninggi dengan sendirinya.


Hilya berjalan mendekat. Tanpa ia sadar bahwa sedang menjadi objek perhatian yang lain.


Suara yang biasa lembut dan selalu berbicara dengan nada rendah, tiba-tiba saja nada suaranya meninggi. Tentu saja itu sangat mengejutkan mereka.


"Kamu tidak perlu sedekat ini." Hilya menarik lengan Rani agar menjeda jarak dengan Mario.


Yang sebenarnya tidak terlalu dekat juga, tapi entah mengapa jarak itu bagi Hilya masih kurang jauh hingga ia membuat Ustadzahnya bertriak seolah telah marah.


"Dan, kamu tidak perlu memberitahu padanya. Ada aku disini, kamu faham maksudku?" tanya Hilya dengan menatap wajah Rani dan masih memegangi lengan Rani.


"Faham Ustad, maaf." Rani menunduk sesal, lalu Hilya melepas pegangannya pada lengan Rani.


Hilya maju dua tiga langkah demi menghadap dan berbicara dengan Mario.


Namun Hilya nampak mengepalkan tangannya, ia mengumpulkan keberanian untuk menatap wajah Mario.


"Mas," suara lembut Hilya memanggil Mario.


'Apa ini? Jantungku, seperti akan terlepas.' batin Mario ia sibuk menahan diri agar tidak terlihat bahwa sedang gerogi.


"Bu Odah, butuh bantuan kamu. Cucunya meninggal dunia. Dan dia butuh kendaraan untuk pulang ke kampung halaman. Jika menggunakan jasa angkut akan memakan waktu dan__"


"Ayo." ajak Mario namun ia berjalan meninggalkan Hilya mendekat pada Bu Odah yang nampak terduduk di lantai dengan masih menangis tanpa mengeluarkan suara, hanya isakan kecil yang terdengar.


"Saya dan keluarga, turut berduka cita Bu, mari saya akan mengantar Ibu untuk pulang kampung."


"Terima kasih Mas."


"Hilya, sebaiknya kamu tunjuk seorang guru untuk menemani Bu Odah, sekaligus mewakili pesantren."


Hilya nampak berfikir, sedangkan saat ini saja pesantren sudah kekurangan tenaga didik, bagaimana jika harus libur satu tenaga didik lagi, mereka akan sangat kualahan mengatur jadwal mengajar.


"Biarkan saya yang menemani Mas,"

__ADS_1


* * *


Bersambung.


__ADS_2