
Mario nampak serius membahas pekerjaan dengan dua rekan kerjanya. namun perhatiannya teralih saat sosok yang ia rindukan tengah berjalan dari arah pintu masuk restoran.
Mario terpaku memandangi wajah Hilya yang sedang tersenyum ceria pada seorang wanita di sampingnya.
dengan sendirinya Mario turut mengulas senyum.
namun senyumannya memudar dikala sosok Ustad Azis terlihat pula berjalan di belakang Hilya.
segera Mario kembali dapat menguasai dirinya.
ia kembali fokus pada dua rekan yang duduk berhadapan dengannya.
satu diantara nya nampak serius menjelaskan beberapa materi pembahasan.
Hilya berjalan melewati Mario, kemudian Ustad Azis menarikan kursi agar Hilya duduki.
Senyuman Hilya memudar disaat ia sudah duduk dan netra mereka bertemu.
kini mereka terdiam saling menatap dengan jarak satu meja memisahkan mereka.
Hilya tersadar dari diam saat suara Qila terdengar memanggilnya.
lantas Hilya kembali tersenyum merespon ucapan Qila dan menjawabnya dengan gelak tawa.
begitupun dengan Mario yang juga turut acuh dengan kembali membahas pekerjaan.
mereka sudah memutuskan untuk saling mengacuhkan seolah tidak mengenal satu sama lain.
"Terima kasih pak atas kerjasamanya." ucap seorang rekan dengan berdiri lalu berjabat tangan.
"Sama-sama pak, semoga kedepannya kita bisa saling menguntungkan." balas Mario dengan mengulas senyum ramah.
"Semoga saja pak." jawab satu diantaranya.
Hilya kembali melihat ke arah Mario namun kali ini Mario tidak melihatnya Mario sedang beramah tama pada kedua rekannya yang nampak akan berpamit.
dan benar saja mereka bertiga sama-sama berjalan meninggalkan restoran mewah itu.
.
.
.
Mario membungkuk hormat begitupun kedua rekannya ketika sudah berada di depan lobi dan mobil mereka nampak berjajar rapih siap untuk menghantarkan mereka.
.
.
.
"Apa masih ingat gue?" tanya seorang wanita berpakaian seksi hingga membuat Hilya menarik senyum simpul seraya mengangguk.
__ADS_1
"Qila, Mas, ini temen aku Rose." ucap Hilya memperkenalkan Rose pada Qila dan Azis.
"Teman?" Rose memandang remeh pada Hilya.
"lu pikir gue sudi berteman dengan perempuan murahan yang sok alim kaya lu."
ucapan Rose membuat Ustad Azis dan Qila saling memandang.
"Mbk, bukankah sudah saya katakan jika mbk salah faham dengan situasi saat itu." ucap Hilya lembut.
"Salah atau benar, gue udah gak peduli lagipula gue udah gak berminat sama Mario yang sok kaya itu. justru gue lebih tertarik sama elu."
"Apa maksud mbk?" tanya Hilya kemudian.
"Gue belum puas jika belum melepas hijab elu!" pekik Rose dengan kebencian.
"Astafirloh al'adzim.." ucap Hilya, Qila dan Azis bersamaan.
"Mbk apa yang mbk katakan." Hilya tidak ingin menanggapi dengan emosi.
"Ayo buka!" seru Rose.
"lagipula hijab itu tidak pantas dikenakan oleh wanita munafik dan penggoda seperti elu!"
"Ya Alloh mbk. kenapa mbk berkata seperti itu? memakai hijab dan menutupi aurot adalah suatu kewajibpan bagi wanita yang beragama islam."
"Helehhhh ...nasehat itu tidak pantas keluar dari mulut elu yang busuk itu, yang hanya bisa merayu pacar orang lain." sanggah Rose.
Qila dan Azis hanya diam mereka belum mengerti dengan situasi diantara Hilya dan wanita berpakaian seksi ini.
namun Hilya sigab menolak ia memagani tangan Rose agar tidak menarik hijabnya sementara Qila turut membatu memegangi hijab Hilya agar tidak terlepas dari kepala Hilya.
Azis nampak bingung ia bingung harus berbuat apa dan saat itulah Mario tiba-tiba datang.
"Apa yang lue lakuin." tanya Mario dengan suara geram seraya memegang lengan Rose namun Rose terlihat mengaduh.
"Aaakk..sakit!" pekik Rose karena Mario tak hanya memegang dia justru meremas lengan kecil Rose.
"Lepaskan dia, atau tangan lu akan patah!" ancam Mario pada Rose hingga Rose melepas tarikannya dari hijab Hilya.
Rose menatap tajam pada Mario.
"Anju!" panggil Mario segera Anju sigab mendekat.
"ajukan pengaduan pada polisi, aku tidak ingin wanita gila ini membuat kegaduhan." sambung Mario.
"Baik pak." jawab Anju sigab.
Rose pergi meninggalkan restoran itu dengan langkah jengah dan perasaan marah.
setelah Rose pergi Mario pun turut berlalu tanpa mengucabkan sepatah kata pada Hilya dan yang lain bahkan Mario tidak melihat wajah Hilya. Mario sungguh mengacuhkan Hilya.
"Maafkan untuk pelayanan kami yang kurang membuat anda nyaman Nona." Anju membungkuk hormat pada Hilya.
__ADS_1
Hilya menatapi kepergian Mario, ada desiran aneh yang sedang ia ratapi.
Sementara Azis menatapi raut wajah Hilya yang nampak sendu. dan Qila justru terpaku pada sosok pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam rapih yang ia ketahui namanya Anju.
"Ini kedua kalinya kita bertemu." tiba-tiba Qila bersuara.
"aku Aqila Ahzara." sambungnya seraya tersenyum hingga menampakan gigi kelincinya.
Anju terdiam dengan perkenalan Qila. namun detik berikutnya Anju kembali membungkuk hormat.
"Permisi." pamitnya kemudian.
* * *
Suara bising alunan musik beserta suara biduan karaoke sangat memekan telinga. kelap kelip lampu menambah suasana ruangan semakin gemerlap.
Disinilah Mario bersama para wanita yang ia bayar untuk menemaninya menghabiskan minuman berakohol yang harganya terbilang cukup mahal bagi sebagian orang.
Meja saji di hadapannya sangat penuh dengan aneka jajanan, botol minuman dan beberapa bungkus rokok.
"Tuan." Anju menyapa dengan membungkuk hormat.
namun yang disapa tetap saja acuh. Mario memilih menghabiskan sisah minuman berakohol yang sudah hampir habis itu.
Sementara seorang gadis dengan pakaian seksi nampak duduk di sisinya dengan memeluk erat lengan kiri Mario.
kepalanya ia sandarkan mesra pada bahu Mario.
"Tuan, sudah pukul 2 malam anda pun sudah terlalu banyak minum, mari tuan saya antar anda pulang." pinta Anju dengan sangat sopan.
Mario berdiri namun tubuhnya sangat lunglai bersyukur Anju sigap menopangnya hingga Mario tak sampai terjatuh.
"Mari tuan." Anju memapa tubuh Mario berjalan keluar, melewati koridor yang setiap pintunya tertutup rapat.
Mobil yang dikemudikan Anju melaju mulus di jalanan, karena memang sudah cukup larut hingga jarang sekali ada kendaraan yang melintas.
beberapa kali Anju akan melirik sepion guna memastikan keadaan tuannya yang tergeletak di kursi belakang dalam kondisi baik-baik saja.
"Sudah satu minggu berlalu tapi bos masih saja begini." gumam Anju dengan mengatur laju kendaraan.
"entah apa yang dikatakan oleh wanita itu hingga membuat tuan Mario terlihat menyedihkan." Anju menghela nafas panjang.
namun kelibatan wajah manis Qila mendadak muncul dalam pikirannya hingga membuatnya terpaksa menepis pikiran itu dengan menggelengkan kepala.
"Aqila, nama yang cantik." gumamnya tanpa sadar.
"Hilya.." suara Mario terdengar.
"Kasian pak bos, cintanya harus berakhir tanpa ada awal mula." keluh Anju seraya melirik sepion menampakan Mario yang sedang tergeletak asal di kursi belakang dengan mata terpejam.
"bahkan dengan kondisi tidak sadar bos selalu menyebutkan nama wanita itu." sambung Anju merasa iba dengan takdir yang sedang Mario jalani.
* * *
__ADS_1
Bersambung.