
Hilya membenamkan wajahnya pada kedua lutut. ia masih terisak meskipun tidak sekencang tadi.
"Apa yang kamu lakukan disini?" suara Mario membuat Hilya diam seketika.
Hilya tak berani mengangkat wajah untuk menatap pemilik suara berat itu.
ia semakin membenamkan wajahnya serta memeluk erat kedua lutut.
tangisnya tak terdengar lagi berubah menjadi rasa takut dengan tubuh gemetar dan jantung yang berdetak sangat kencang.
Mario turut berjongkok ia memegang bahu Hilya hingga membuat Hilya tersentak kaget, reflek menyibakan tangan Mario lalu berdiri.
"Apa kamu sedang sakit?" tanya Mario.
Hilya melangkah mundur hingga tubuhnya membentur sebuah motor yang terparkir.
"Jangan. jangan mendekat!" pekik Hilya dengan air mata yang kembali membasahi kedua pipinya.
"Pergi!" timpalnya lagi.
"Maaf mbk, mas ada keributan apa ini?" tanya seorang juru parkir yang baru saja tiba.
Mario terdiam dengan masih menatapi Hilya yang sedang menghidupkan motornya.
Merasa tidak ada yang nenhawab juri parkir itu menggelengkan kepala dan meninggalkan Mario.
"Apa yang harus aku lakukan ya Alloh?" gumam Hilya seraya mengatur laju kendaraannya.
Hilya berhenti di depan sebuah klinik. ia memegangi perutnya lalu turun dari motor memasuki klinik itu, langkahnya terhenti diambang pintu yang sudah ia buka Hilya berpikir keras meskipun dengan ragu Hilya tetap saja melangkah masuk.
Hilya melakukan pendaftaran, karena masih pagi membuat pengunjung belum terlalu ramai.
Setelah beberapa menit menunggu suster menyebutkan nama Hilya, segera Hilya memasuki ruangan dokter spesialis kandungan.
Suara detak jantung dari janin terdengar disaat dokter meletakan alat pendeteksi kandungan pada perut Hilya.
"I ...itu suara apa dok?" tanya Hilya bingung.
"Ini detak jantung janin anda Bunda. usianya baru dua minggu."
Hilya tertegun menatapi layar monitor menampilkan janinnya yang masih berbentuk embrio.
"Aku ingin menggugurkannya dok."
Dokter wanita itu sedikit terkejut, namun baginya hal seperti ini sudah sering ia dengar.
Hilya kembali melaju di jalanan bersama metik merahnya.
__ADS_1
ucapan Dokter wanita yang beberapa menit lalu ia temui kembali terngiang di telinganya.
"Alloh menjadikan kaum wanita sebagai mahluk yang istimewa dibandingkan pria. bahkan nama ibu disebut hingga 3x baru setelah itu nama ayah." dokter itu menjeda kalimatnya untuk menatap wajah Hilya menunggu reaksi dari Hilya.
"Tapi bayiku ini hasil perbuatan zina dokter." suara Hilya bergetar karena menahan tangis.
"Alloh selalu memiliki rencana dan tujuannya sendiri untuk setiap mahluk cibtaannya. percayalah tidak ada sesuatu yang sia-sia."
Hilya menghentikan laju motornya di depan sebuah cafe yang ia ketahui masih milik Ustad Azis.
"Assalamualaikum, Ustadzah pagi-pagi sekali." sapa Ustad Azis disaat Hilya baru saja menarik pintu kaca cafe itu.
"Waalaikumsalam Ustad, aku__" Hilya menjeda kalimat ia ragu dengan keputusannya.
"Mari duduk dulu," ajak Ustad Azis dan mereka memilih duduk dibangku dekat jendela.
"aku akan buatkan minum"
"Tidak perlu Ustad, aku hanya sebentar, aku mohon duduk dan dengarkan aku."
Azis kembali duduk setelah ucapan Hilya nampak serius.
"Ustad, aku. aku ingin berkata jujur padamu."
Ustad Azis tersenyum dan mengangguk.
"Hilya mengangkat wajahnya guna menatap netra Ustad berwajah lembut itu.
"Ustad, aku. aku, aku hamil."
"Apa?" Ustad Azis tak percaya ia justru terkekeh kecil.
namun detik berikutnya Hilya meletakan sebuah amplop putih berlogo klinik tempat ia periksa beberapa menit lalu.
"Itu hasil pemeriksaan saya Ustad."
Azis mulai serius menanggapinya ia meraih amplop itu dan membukanya.
"Aku minta maaf tapi tolong aku Ustad, aku mohon jangan batalkan pernikahan kita."
"Ustadzah tolong jelaskan maksud semua ini?"
"Aku, aku menjadi korban pemerkosaan oleh seorang pria yang mabuk." suara Hilya bergetar bahkan air mata sudah jatuh begitu saja.
"aku mohon Ustad tolong aku, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, apa yang harus aku katakan pada Abi dan Umi, aku mohon hargai kejujuranku Ustad."
Ustad Azis menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Pulanglah Ustadzah, aku akan memikirkan perkataanmu."
"Tolong jangan batalkan pernikahan kita Ustad"
"Ustadzah begitu takut aku membatalkan pernikahan, bukankah dengan tetap menutup mulut akan jauh menguntung anda, lalu mengapa anda memberi tahu saya."
"Nuraniku melarang untuk membohongi Ustad."
"Dan apa Ustad lupa bahwa pria muslim dilarang menikahi wanita yang hamil dengan pria lain?"
Hilya menengada menatap wajah Ustad Azis.
"Dan tidak dibenarkan jika aku menikahi wanita yang berzinah."
Sakit. itulah yang kini Hilya rasakan ia seolah telah menggali lukanya sendiri.
* * *
Motor Hilya memasuki area pesantren darul islam ia membawa metiknya hingga belakang gedung dan berhenti di depan rumah singgah keluarganya.
"Assalamualaikum Umi." ucap Hilya saat Umi menghampirinya.
"Ikut Umi." Umi menarik lengan Hilya membawanya memasuki rumah lalu menuju kamar milik Hilya.
"Umi ada apa?" tanya Hilya dengan perasaan khawatir, bahkan kedua tangannya sudah mengepal dan berkeringat dingin.
"Apa ini Hilya!?" Umi menunjukan tespek.
"U__umi, ini, ini." jawab Hilya dengan terbata-bata.
Umi meneteskan air mata karena ia tahu benar watak anaknya, Hilya akan berani membanta jika ia benar dan akan diam dimarahi ketika ia salah.
"Katakan Hilya!"
"Umi..." Hilya bersimpuh mencium telapak kaki Umi.
"Umi Hilya hamil Umi." penjelasan Hilya dengan diiringi isak tangis.
Seketika itu juga Umi terdiam seolah membatu. tidak menangis dan tidak bersuara.
Brakk...
Umi dan Hilya menoleh pada sumber suara dan menapaki Abi yang sudah tergeletak di lantai.
"Abi!" seru Hilya dan Umi dengan berhambur mendekati Abi.
* * *
__ADS_1
Bersambung.