Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Kasih Sayang Mario.


__ADS_3

Kabar baik dan buruk selalu berdampingan ketika usai mengalami kecelakaan.


Namun percayalah, bahwa sederas apa pun hujan yang turun pastilah hari esok akan kembali cerah.


🌹 🌹 🌹


Mobil Mario tertabrak truk dari arah belakang, terdorong beberapa meter hingga akhirnya terpental dengan posisi terbalik, namun saat itu Mario sudah melepas seatbalt miliknya untuk mendekap tubuh Hilya melindunginya dari cedera buruk. Mario memeluk erat tubuh Hilya ia melindungi kepala Hilya di balik dekapan. dengan goncangan kuat sekalipun ia tidak melepaskannya hingga akhirnya Mario terpental ke jalanan ketika sudah tak lagi tersadar.


"Uhukkk..." Mario memutahkan darah dengan mata tertutup.


💕 💕 💕


Cairan infus yang menggantung milik Mario sudah hampir habis.


Setelah mendapat penanganan dari dokter dan harus dioprasi akibat pendaharan dibagian kepala, Mario belum sadar. Hanya tersisah satu jam lagi, kesempatan bagi Mario. Jika melebihi waktu yang ditentukan maka sudah dapat dipastikan bahwa Mario koma.


Jika sudah seperti itu, Dokter tidak dapat memastikan kapan Mario akan bangun.


Keadaan berat bagi pihak keluarga kian bertambah karena sampai saat ini mereka belum mendapat kepastian dari pihak rumah sakit tentang keadaan Hilya.


Dokter hanya meminta Umi untuk menanda tangani surat persetujuan oprasi.


"Umi, jangan khawatir kami sudah mendatangkan dokter terhebat untuk Hilya." Ibu mengusab punggung Umi, berusaha meringankan beban dalam benak Umi.


Umi tidak terlalu mendengarkan ucapan Ibu meskipun Umi mengangguk serta mengiyakan. Saat ini yang ada dalam benaknya hanya tentang Hilya, ia tak henti berdoa lirih dan sesekali akan bangun dari duduk untuk sekedar berdiri di depan pintu ruang oprasi.

__ADS_1


Sementara Umi, Ayah dan Ibu menunggu oprasi Hilya, Anju, Kenzo dan Pelangi bertugas menunggu Mario mereka sedang berharap, berdoa untuk Mario agar segera terbangun dari tidurnya, harapan yang sangat tipis tapi setidaknya mereka masih memiliki harapan.


Bagaimana jika harapan itu sirna? Bagaimana jika Mario tak terbangun saat ini?


Bagaimana jika Mario akan terus tertidur untuk waktu yang lama?


Rasa khawatir rasa takut akan hal terburuk selalu menggelayuti pikiran mereka.


Tidak ada yang membuka suara, mereka terdiam hanya diam.


Kenzo duduk pada kursi kecil disisi tempat tidur Mario.


Sedang Pelangi duduk di sofa panjang lalu Anju seolah tak lelah berdiri di samping Mario.


🍂 🍂 🍂


Ibu tak dapat mengatakan apa-apa ia hanya mengusab punggung Umi, mencoba menguatkan Umi.


Beberapa menit lalu oprasi Hilya telah selesai dan dokter memberikan kabar perkembangan dari Hilya.


Kabar baiknya adalah, Hilya dalam kondisi setabil, ia tak mengalami luka serius seperti yang di alami Mario.


Kabar buruknya adalah, Hilya kehilangan bayinya bahkan rahimnya harus diangkat untuk menyelamatkan nyawanya.


Dan Hilya mengalami cedera pada kedua matanya. Terdapat serpihan kaca yang mengakibatkan kedua matanya terluka.

__ADS_1


Dokter menyarankan oprasi kedua setelah kondisi Hilya setabil, karena tidak mungkin mereka melakukan oprasi sekaligus dalam waktu bersamaan terlebih dengan kondisi Hilya yang harus kehilangan banyak darah akibat pendarahan yang ia alami.


Umi menangis, suatu hal yang seharusnya sudah ia lakukan sejak beberapa bulan lalu, sejak pertama kali mengetahui bahwa Hilya mengalami kekerasan seksual.


Umi menyesalinya, menyesal mengapa dulu ia tidak menangis jika saja waktu itu Umi dapat sedikit saja mengeluarkan airmata untuk putrinya mungkin saat ini airmata yang ia keluarkan tidak sebanyak ini.


Perasaannya tidak akan sesakit ini.


Jika saja ia menuruti permintaan Hilya untuk memenjarakan pria yang sudah merenggut kesuciannya, jika saja ia tidak meminta pria itu bertanggung jawab, jika saja ia tidak lebih mementingkan nama baik dan kehormatan, mungkin putrinya saat ini masih bisa tersenyum.


Penyesalan.


Tak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi, Umi menarik nafas ia menggenggam erat tangan Ibu serta menatapnya dengan derai airmata.


"Aku mohon bantu putriku. Berikan dia kesempatan untuk bahagia."


Ibu tak dapat lagi menahan airmata dan berpura pura tegar, ia mengangguk dengan penuh keyakinan.


kini kedua wanita itu hanya ingin kebahagian menghampiri anak-anaknya.


Mereka tak lagi mempertanyakan hal buruk yang mungkin akan menimpah anak-anaknya.


Mereka sama-sama optimis dan yakin pada kekuatan doa dan berharap Alloh memberikan keajaibpan pada kedua anaknya.


* * *

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2