
Malam yang sepi, namun terasa mencekam, karena hujan badai di luar mengguyur desa tempat tinggal sepasang suami istri yang belum juga bisa tidur.
Ma'ruf, nama seorang laki-laki yang sebentar lagi akan mendapat gelar Ayah dari bayi kembarnya. Dia bertugas sebagai tim SAR di kotanya, karena dahulu dia pernah menjadi salah satu korban bencana alam, yang merenggut nyawa kedua orangtuanya serta adiknya, dia diselamatkan oleh tim SAR. Lalu dia dibesarkan oleh seorang relawan yang sudah berusia lanjut, hingga orang tua itu meninggal dunia karena sakit. Ma'ruf berjanji, jika dia sudah besar nanti, dia akan melanjutkan perjuangan ayah angkatnya itu bersama dengan tim SAR. Hingga suatu hari, dia bertemu dengan seorang perawat cantik yang juga andil dalam penyelamatan korban bencana gempa. Hingga merekapun menikah.
Norma, adalah seorang gadis cantik dari keturuanan darah biru. Ayahnya seorang pejabat, namun dia tak ingin melanjutkan profesi ayahnya menjadi ASN, dia hanya ingin menjadi seorang perawat yang benar- benar bekerja untuk kemanusiaan. Norma selalu tak betah tinggal di rumahnya yang megah, karena sifat ayahnya yang arogan dan ibu tirinya yang materialistis. Norma akhirnya bertemu dengan petugas tim SAR yang baik dan sholih. Merekapun akhirnya menikah, dengan syarat, Norma tidak akan mendapat warisan apapun dari orangtuanya, dan dia tidak akan dianggap anak oleh orangtuanya, karena Norma lebih memilih menikah dengan Ma'ruf, laki-laki miskin yang tak memiliki keluarga.
Malam itu, Ma'ruf dan Norma sedang tiduran sambil mengelus perut Norma yang semakin besar.
"Mas, nanti kalau anak kita lahir, mas mau kasih nama siapa?" tanya Norma dengan memeluk suaminya.
"Mas kok pingin kasih nama Anjani ya, kalau anak ini perempuan." kata Ma'ruf.
"Ehm, nama yang bagus mas. Kenapa mas mau kasih nama Anjani?" tanya Norma.
"Karena Anjani artinya wanita yang tekun. Meski dia mengalami suatu kegagalan, dia akan terus mencoba untuk mencapai keberhasilan." jelas Ma'ruf.
"Ehm, kalau laki-laki?" tanya Norma lagi.
"Arjuna." jawab Ma'ruf dengan berbinar sambil menatap keluar jendela.
__ADS_1
"Arjuna? kaya nama wayang mas." Komentar Norma.
"Memang. Aku ingin anak kita seperti Arjuna, seorang ksatria pembela kebenaran. Artinya juga bagus. Arjuna memiliki arti Tampan. Ya Semoga, nama yang kusematkan ini menjadi do'aku untuk anakku." kata Ma'ruf sambil mengelus perut Norma yang sudah sangat besar. Namun mereka belum tau, bahwa yang dikandung Norma adalah anak kembar, karena Norma dan Ma'ruf belum bisa USG. Rencana mereka, nanti jika kandungannya berusia 7 bulan lebih baru akan USG, karena mengingat biaya untuk USG dan vitamin untuk ibu hamil tidaklah sedikit, membuat Ma'ruf menabung dari sebagian gajinya dulu.
Kriiiing (suara Ponsel Ma'ruf berdering, tanda panggilan masuk.)
"Halo? Ya. Siap Pak." kata Ma'ruf dengan masih mengenakan sarung dan peci putihnya beserta baju koko abu-abu yang dia kenakan seusai sholat isya' bersama istrinya tadi.
"Mas, Ada apa?" tanya Norma dengan perut buncitnya.
"Ada bencana banjir dan tanah longsor di daerah X, dan tim SAR yang piket kekurangan tenaga, Mas harus segera menyusul mereka ke TKP." kata Ma'ruf sambil melepas pakaian sholatnya dengan pakaian SAR.
"Justru itu sayangku, tugasku ya disaat seperti ini. Kalau mas harus nunggu badainya reda dulu, yang ada korban semakin banyak yang berjatuhan." kata Ma'ruf tersenyum memberi penjelasan pada istrinya.
"Sebenarnya aku tau maksudmu sayang, tapi aku harus bertugas, ini adalah amanah. Aku tau kamu takut, dalam keadaan Hamil, kamu kutinghalkan sendiri di sini." batin Ma'ruf.
"Aku tau mas. Tapi..."
"Tenanglah, do'akan yang terbaik untuk mas. Jaga diri kamu dan anak kita baik-baik. Mas mencintai kalian." pamit Ma'ruf sambil mengelus pundak istrinya lalu mengelus perut buncit istrinya.
__ADS_1
"Sayang, ayah bertugas dulu ya. Kamu jadi anak baik ya. Ayah sayang kamu." kata Ma'ruf sambil mencium perut buncit istrinya.
"Mas... hati-hati."
"Ya. Nanti kalau ada apa-apa, mas sudah berpesan sama bu Erna (bidan desa), kamu jangan sungkan-sungkan bilang dan minta tolong sama dia ya." kata Ma'ruf mengelus kepala Norma yang masih terbalut mukena.
"Mas akan kembali kan?"
"Ehm,,,InshaaAllah. Jika Allah mengijinkan mas kembali, mas pasti kembali. Namun, jika mas tidak diijinkan, jaga diri kamu baik-baik. Jaga pula bayi kita ya. Semua ini adalah amanah, Mas pergi untul berjihad di jalan Allah, menolong orang-orang, jadi yakinlah, berdo'alah yang terbaik untuk mas." kata Ma'ruf berpamitan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam mas." jawab Norma dengan mata berkaca-kaca. Baru kali ini Norma merasa khawatir terhadap suaminya. Dan merasa berat untuk ditinggalkan. Mungkin karena dalam keadaan dia hamil, dan mungkin dia sudah berfirasat sesuatu.
Malam itu, Ma'ruf benar-benar menerjang hujan badai di luar dengan sepeda motor sederhananya. Sedangkan Norma tetap di rumah dengan mengelus perutnya yang buncit. Dia sangat khawatir terhadap suaminya. Norma pun menunaikan sholat sunnah dan memanjatkan do'a untuk keselamatan suaminya. Namun hingga jam 2 dini hari, Norma belum juga bisa tidur. Dia menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Qur'an seperti yang sudah di nasihatkan suaminya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Hai kakak para pembaca, Up lagi nih Novel baru dari Dede, yang disini akan mengisahkan sepasang anak kembar dampit dari pasangan suami istri yang bernama Ma'ruf dan Norma. Ayuk, semangati Author ya, biar author tetap lanjut terus dalam berkarya. Syukron. Baarokallahufikum😍😘
__ADS_1