
Tak sengaja, tatapan mereka bertemu dan sepersekian detik mereka tak menyadari bahwa keduanya menjadi sorotan pada hadirin.
"Ya Tuhan, ini bidadari jatuh dari panggung ya, cantik banget, beruntung banget aku, bisa mendapat kesempatan nolongin gadis cantik kaya dia, siapakah gerangan namanya? Sungguh, aku jatuh cinta pada pandangan pertama." batin laki-laki itu.
"Yah, bukan dia ya yang nolongin aku, Tu anak kemana sih, kenapa harus orang lain yang nolongin aku coba, eh, tapi bentar, ini orang kaya ga asing." batin Anjani saat menatap intes pria dihadapannya.
"Ka, Kak Kaisar?" setengah percaya tidak percaya, Anjani menyebut nama itu saat melihat wajah laki-laki yang menolongnya.
Laki-laki itu mengernyit, perlahan melepaskan tangannya dari tubuh gadis yang ditolongnya, Dan Anjani juga perlahan berdiri.
"Siapa ya?" tanya laki-laki itu dengan wajah sedang mengingat-ingat.
"Jeni kak." kata Anjani dengan wajah berbinar.
"Oh, ya Tuhan, Jeni? Adiknya Gusti?" tanya Kaisar memastikan.
"Iya kak." jawab Anjani kegirangan sambil memegang tangan Kaisar.
"Ya ampun, Jeni, asli kakak pangling banget sama kamu. Maaf ya tadi ga terlalu ngenalin kamu." kata Kaisar.
"Iya kak, gapapa, wajar kok kak. Kakak mau ketemu sama kak Gusti?" tanya Anjani.
"Iya nih."
"Ya udah, sana kak, pasti kak Gusti bakal kaget, ngerasa surprise banget deh tau ada kak Kaisar disini." kata Anjani dengan senyum mengembang.
"Oya? Aku ke sana dulu ya, kamu jangan jauh-jauh, nanti kakak pingin ngobrol dulu sama Jeni ya." kata Kaisar.
"Iya kak." jawab Anjani.
Kaisarpun naik panggung dan menemui kedua mempelai pengantin.
"Hai bro." sapa Kaisar.
Gusti mengernyit, antara percaya tidak percaya, Gusti memperhatikan tamunya yang berada tepat dihadapannya dengan senyum mengembang.
"Kaisar?" tanya Gusti dengan wajah berbinar.
"Ya." jawab Kaisar singkat.
"Yaa Allah, maasyaaAllah, Kai. apa kabar?" kata Gusti sambil refleks menyalami sahabatnya dan memeluk erat tubuh sahabatnya yang lama tak berjumpa.
"Baik bro." jawab Kaisar.
"Wah, Selamat ya. Udah lepas lajang aja lo." lanjut Kaisar.
__ADS_1
"Hahah, iya. Alhamdulillah. Lo sendiri, gimana? Mana pasangan lo?" tanya Gusti.
"Hahaha, masih amburadul. Belum punya pasangan tuh, gimana? Boleh minta foto sama penganten ga kalo masih jomblo gini?" tanya Kaisar dengan candanya.
"Hahaha, dasar lo ya pak komandan, ya bolehlah. Justru gue seneng banget, lo bisa hadir di acara gue. Suatu penghargaan luar biasa pokoknya." kata Gusti menggebu.
"Halah, biasa aja lah bro, kebetulan aja, gue pas lagi engga tugas, jadi bisa meluangkan waktu ke sini." kata Kaisar.
"Ya udah yok, foto dulu." kata Gusti mengajak berasa foto dengan sahabatnya.
"Sayang, ini sahabat mas. Namanya Kaisar." kata Gusti memperkenalkan sahabatnya pada istrinya.
"Oh ya, salam kenal." kata Hima.
"Ya mbaak, selamat ya mbak." kata Kaisar.
"Eh, ga imbang lah gue, kalo ga ada pasangannya." komentar Kaisar saat mau berfoto.
"Ga ada yang bisa diajak foto bersama lagi mas?" tanya fotografer nya, saat akan memfoto, karena tidak mungkin Kaisar di tengah, diantara dua mempelai.
"Jeni. Ya. Jeni! Sini, foto duku sama Kaisar." kata Gusti.
"Oh, ya kak." jawab Anjani yang masih duduk didepan panggung karena menunggu Kaisar. Anjanipun segera berdiri dan melangkah menuju panggung.
Anjani mengajak Kaisar duduk di sebuah tempat yang tidak terlalu ramai oleh lalu lalang orang lewat.
"Jeni sekarang sibuk apa?" tanya Kaisar saat keduanya sudah duduk sambil menyeruput es krim yang diambilkan Anjani.
"Sibuk nyari jodoh kak. Hahaha." jawab Anjani dengan banyolan.
"Hahaha, anak kecil udah mau nyari jodoh aja nih." komentar Kaisar.
"Sibuk kuliah sambil ngurusin online shop kak." kata Anjani mulai serius.
"Owh, kamu udah kuliah?" tanya Kaisar tak percaya.
"Ya udah lah kak, masak mau tinggal kelas?" komentar Anjani sambil manyun.
"Serius? Emang udah berapa tahun sih kita ga ketemu?" tanya Kaisar sambil mengingat-ingat.
"Lama kak, ya, sekitar delapan tahunan lah." kata Anjani.
"Pas itu kamu masih SD kan?" tanya Kaisar.
"Iya." jawab Anjani sambil memasukkan es krim kedalam mulutnya.
__ADS_1
"Ya ampun, lama juga ya?" kata Kaisar.
"Ya, emang lama. Dan kak Kaisar sama Kak Gusti tu sama-sama jahatnya " kata Anjani.
"Lho, kok bisa?"
"Iya lah, pas itu kak Kaisar pamit, lulus SMA mau lanjut pendidikan TNI AD di bogor, terus setaun kemudian, kak Gusti yang ninggalin Jeni, untuk lanjutin pendidikan ke Jerman. Jeni kan jadi kesepian, ga ada temen." omel Anjani.
"Ya ampun, gitu ya? Itu engga jahat namanya, itu karena sebuah proses keadaan untuk menuju lebih baik." tukas Kaisar tak terima dikatakan jahat.
"Yah, yang jelas dulu Jeni suka nangis pas itu. Karena temen Jeni kan cuma kak Kaisar sama kak Gusti." kata Anjani lagi.
"Terus , sekarang? Temenmu siapa?" tanya Kaisar.
"Banyak. Hehehe. Termasuk customer dan temen-temen di strore." jawab Anjani bangga.
"Nah, kan? Dengan sebuah proses itu, kamu jadi bisa lebih mandiri, dan punya banyak teman dan wawasan, yang bisa menjadikan lahan masa depan yang lebih cerah buat kamu." kata Kaisar.
"Iya sih kak." jawab Anjani.
"Udah punya pacar?" tanya Kaisar.
"Baru aja putus." jawab Anjani santai.
"Ehm. Jadi jomblo dong?" tanya Kaisar.
"Ya, gitu deh."
"Eh, kalo ga salah, dulu kak Kaisar bukannya udah Tunangan ya? kata kakak sih." lanjut Anjani.
"Oh, itu? Iya. Udah tunangan, tapi ga jadi ke jenjang pernikahan." Jawab Kaisar.
"Lhoh, kenapa kak?" tanya Anjani penasaran.
"Ga cocok aja." jawab Kaisar enteng.
"Ehm..." komentar Anjani hanya ber ehm ria.
"Ya, semoga aja, bisa segera dapetin penggantinya." lanjut Kaisar.
"Aamiin." jawab Anjani.
Kemudian keduanya berlanjut makan sambil mengobrol tentang masa lalu mereka. Tergambar jelas keceriaan pada wajah Anjani saat berbincang dengan Kaisar, yang membuat sepasang mata tak suka melihatnya.
Siapa sepasang mata itu? Reader pasti tau dong siapa... Simak di bab berikutnya ya😍
__ADS_1