
Setelah pengajian selesai, para pesertapun bubar dari masjid, ada yang tetap ditempat sambil menunggu adzan dzuhur, ada pula yang langsung pulang dan ada yang masih mampir-mampir.
"Jen, pulang kapan kita?" tanya Zalva saat mereka sudah duduk di teras masjid.
"Nanti aja ya Va, sholat dzuhur di sini sekalian." kata Anjani sambil bermain ponsel.
"Okey." jawab Zalva sambil melihat-lihat sekitar.
"Eh, bentar ya Jen. Ada mas Zulfi tuh, gue sana dulu ya." kata Zalva bersemangat sambil pergi meninggalkan Anjani.
"Eh, dasar Zalva. Bukannya nemenin malah main pergi aja." omel Anjani.
Anjani merasa mau buang air kecil, diapun pergi ke toilet. Namun sekembalinya dari Toilet, saat melewati ruang remaja masjid, dia melihat sosok yang tak asing baginya sedang berbicara dengan seorang wanita.
"Mas Juna." panggil gadis cantik berjilbab lebar dan memakai gamis. Ya, Anjanipun mengakui, gadis itu cantik.
"Ya?" jawab Arjuna saat akan melangkah, namun langkahnya terhenti saat gadis itu memanggilnya.
"Mas Juna, ini Zizah mau kembaliin jaket mas Juna yang kemarin mas Juna pinjemin buat Zizah." kata gadis itu sambil menyodorkan sebuah jaket berwarna Hitam kepada Arjuna.
"Oh, ya Zizah. Ana malah lupa kalau ana minjemin jaket buat anti." kata Arjuna sambil menerima jaket itu dengan tersenyum tulus.
Anjani yang bersembunyi di balik tembok, merasa tidak suka dengan adegan itu.
"Dasar, cowok nyebelin. Keliatannya aja alim, sama cewek sama aja Suka caper." omel Anjani pelan, lalu Anjani kembali mengintip kedua orang yang berdiri di depan pintu ruang remaja masjid.
"Ehm, gapapa mas. wajar kok. Jazakumullah khoir mas, karena jaket antum, ana jadi ga kehujanan banget, dan ga kedinginan. Jadi ga masuk angin." kata Azizah lagi.
"Oh, ya alhamdulillah. Waiyyaki." jawab Arjuna.
"Oya mas. Jaketnya sudah ana cuci kok, jadi ga usah khawatir bau keringat ana." kata Azizah lagi.
"Oh, maasyaaAllah, Jazakillah khoir, kok sampe dicuciin segala? Repot-repot lho Zah, kaya loundry aja." kata Arjuna dengan mengulum senyum.
"Ah, engga repot kok mas. Cuma nyuci aja, udah biasa. Lagian kan jaket mas Juna basah, kalo ga segera dicuci bisa jamuran nantinya." kata Azizah lagidengan menundukkan pandangan
"Lumayan, ga usah nyuci. Hehehe, sekali lagi, terimakasih ya Zah, besok-besok lagi aja, sekalian nitip cucian di rumah." kata Arjuna sambil bercanda.
"Mas Juna ini bisa aja." komentar Azizah lagi.
"Ya udah Zah, sekali lagi terimakasih, saya masih ada keperluan ini, saya tinggal dulu ya." kata Arjuna undur diri.
"Oya mas.sama-sama mas." kata Azizah sambil melepas kepergian Arjuna.
Saat Arjuna melangkah pergi, Anjani yang bersembunyi di balik tembok wudlu putri segera melangkah juga menuju teras masjid tempat dia duduk bersama Zalva tadi, sehingga Anjani melewati ruang remaja masjid yang tadi menjadi tempat pertemuan Arjuna dan Azizah. Disana Azizah belum beranjak dari tempat berdirinya tadi, Azizah masih tampak memandang punggung pria yang tadi menerima jaket darinya.
"Ehem, kesambet lho mbak." kata Mutiara membuyarkan lamunan Azizah.
"Eh, mbak." spontan Azizah tergagap.
"Kata pak ustadz tadi, kita harus menundukkan pandangan, biar iman kita terjaga." kata Anjani lagi dengan panas di ubun-ubun sudah menahan rasa yang tak dapat di pungkiri.
"Astaghfirullah. Ya mbak. Terimakasih sudah mengingatkan saya." kata Azizah seketika menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Mbak ini, pengurus remaja masjid ini ya?" tanya Anjani.
"Iya mbak. Benar." kata Azizah.
"Ehm."
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya Azizah sopan.
"Ga ada kok mbak. Cuma nanya aja. Udah adzan tuh. Assalamualaikum." kata Anjani kemudian berlalu.
"Wa'alaikumsalam." jawab Azizah.
Sesampainya di teras, Anjani masih belum menemukan Zalva di sana.
"Kemana sih tu anak, belum balik juga. Udah adzan juga." omel Anjani.
Tak berapa lama kemudian, Zalva muncul dengan tentengan es ditangannya.
"Hai Jen." sapa Zalva saat Anjani akan beranjak masuk ke dalam masjid.
"Kemana aja sih lo? Udah adzan ga balik-balik." omel Anjani.
"Nih buat lo. Gue beliin es buat ngademin kerongkongan." kata Zalva memberikan minuman itu.
"Udah mau iqomah, nanti aja." kata Anjani datar.
"Hem, sogokan gue ga manjur ternyata." gumam Zalva.
Setelah sholat, Anjani dan Zalva kembali ke tempat semula, untuk meminum minuman yang dibelikan Zalva.
"Kita mampir nyari makan dulu ya, gue laper." kata Anjani dengan wajah kurang mood.
"Siap. Lo yang bayarin kan?" tanya Zalva.
"Hem." jawab Anjani dingin.
Saat mereka bersiap otewe, Arjuna bersama Zulfi berjalan melewati mereka.
"Jeni? Assalamualaikum." sapa Arjuna dengan ramah.
"Wa'alaikumsalam." jawab Anjani dan Zalva bersama.
"Udah sholat?" tanya Arjuna.
"Ya udah lah." jawab Anjani sewot.
"Udah makan?" tanya Arjuna lagi.
"Belum. Ini baru mau nyari makan." kata Anjani ketus sambil menyangkleng tas nya, akan segera beranjak pergi.
"Ehm, makan bareng aja gimana?" tawar Arjuna yang disenyumi oleh Zulfi dan Zalva.
"Boleh mas." kata zalva spontan girang.
__ADS_1
"Ga usah. Makasih." jawab Anjani ketus sambilenarik tangan Zalva.
"Ayo Va." kata Anjani.
"Eh, tapi Jen?" kata Zalva yang keinginannya harus gagal karena sohibnya.
"Ehm. Jeni!" panggil Arjuna yang melihat Anjani tampak berubah. Padahal tadi saat kajian berlangsung, wajahnya cerah ceria, kenapa sekarang jutek sekali.
"Hem." jawab Anjani ogah-ogahan.
"Hati-hati." lanjut Arjuna.
"Hem." jawab Anjani lagi.
"Ucap salam dulu kalau mau pergi." kata Arjuna mengingtakan.
"Assalamualaikum." kata Anjani tanpa menoleh ke arah Arjuna.
Zalva hanya mengikuti langkah Anjani sambil menoleh ke belakang, memberi isyarat pamitan pada Zulfi.
Di dalam mobil, Anjani tampak bed mood.
"Elo kenapa sih Jen? Kesambet ya lo?" kata Zalva sambil menatap gadis di hadapannya.
"Engga." jawab Anjani cuek.
"Masa'?
"Elo tu kalo ada masalah jangan diredem sendiri." kata Zalva yang melihat Anjani sedang tidak baik-baik saja.
Anjani tidak menanggapi, hingga tiba di rumah makan.
"Mbak, aku mau lauknya yang super puedes."
.Kata Anjani lagi.
"Baik mbak." Kata pelayan.
"Astaghfirullah Jen, sadar. Menu biasa aja udah pedes, ini elo minta paling pedes? Ga takut kepedesan?" tanya Zalva heran.
"Entar lo sakit lho." kata Zalva lagi.
"Mending sakit perut, daripada sakit hati." kata Anjani masih dengan menahan marah.
"Istighfar Jen." kata Zalva mengingatkan.
"Semua cowok tu sama aja. Nyebelin. Suka caper. Dasar. Ga alim ga play boy, sama akan" kata Anjani lagi.
Zalva baru paham, maksud dari perubahan sikap sahabatnya, ternyata memang ada hubungannya dengan Arjuna.
Namun, saat mereka sedang saling bercakap, pelayan datang membawakan pesanan, disaat bersamaan, Seorang laki-laki memesan makanan juga di sana, laki-laki itu menatap pada dua gadis yang duduk di kursi tak jauh dari pantri.
Siapa laki-laki itu? Simak cerita selanjutnya ya
__ADS_1