Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
K3D 4


__ADS_3

Setiap istri pasti menginginkan momen spesial didampingi suami. Begitupun dengan Norma yang dalam hati kecilnya sangat ingin didampingi Ma'ruf, suaminya. Seperti yang sudah mereka sepakati beberapa bulan lalu sebelum kejadian duka itu terjadi.


Namun semua rasa itu dia singkirkan demi keselamatan dua buah hatinya. Dia terus berusaha membesarkan hatinya sendiri melahirkan tanpa di dampingi suami dan keluarga. Sedih, sangat sedih. Perih rasanya jika dirasakan.


"Yaa Allah ingin rasanya aku melahirkan dua bayiku ini dengan didampingi suamiku, sumber kekuatanku. Atau ibuku atau abangku... Tapi yaa Allah, semua ini tidaklah akan terjadi. Engkau lebih tau semuanya... Yaa Allah. Aku ikhlas jika aku harus berkorban untuk mereka, namun aku mohon yaa Allah, selamatkanlah kedua bayiku ini..." Do'a Norma saat dia sudah mulai memasuki buka tujuh. Kontraksi itu sudah semakin sering dia rasakan, bahkan tanpa jeda, setelah flek darah sudah menodai pakaiannya.


"Dokter..." panggil Norma ditengah-tengah rasa sakitnya.


"Ya bu Norma. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Dokter Yuniat ramah.


"Dok... saya tidak tau, apakah nanti saya akan tetap bertahan untuk anak-anak saya atau tidak. Tetapi, saya titip pesan ya dok, tolong sampaikan pada bu Erna, jika saya tidak berhasil melawannya, saya titip anak-anak saya ya dok. Tolong berikan pada orang yang amanah." kata Norma dengan linangan air mata.


"Bu Norma, kami akan sampaikan. Tapi kami mohon, ibu tetap positif thingking ya. Ibu harus semangat untuk mampu melawan rasa sakit ini. Semua demi kedua buah hati ibu." kata dokter Yuniar menyemangati.


"Iya dokter. Terimakasih."


"Dok...sakit dok..." teriak Norma.


"Ayo Bu Norma, semangat ya. Kepalanya sudah kelihatan. Ayo bu di ejan lagi ya... Ayo bu... pegang pergelangan kaki ibu erat-erat ya... ayo bu, tarik napas dalam...keluarkan..."


"Yaaaaa Allaaaaaah...."


"Owek!!!"


Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki yang keluar dari rahim bu Norma segera diambil suster yang membantu.


"Alhamdulillah. Anakku..." kata Norma lirih meneteskan air matanya. Seketika nafasnya sudah mulai normal kembali saat melihat paras bayi mungilnya. Namun, tiba-tiba rasa sakit itu muncul kembali.


"Ayo bu Norma, masih ada satu bayi lagi ya bu, mari bu, di ejan lagi." kata Dokter Yuniar memberi arahan.


Dengan napas yang sudah mulai tak beraturan lagi, Norma kembali menarik napas dalam dan mengejan untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Allahuakbar..." seru Norma.


Bayi kedua pun telah berhasil keluar dari rahim ibunya dengan selamat, segera oleh dokter tali pusarnya dipotong perlahan, setelah tali pusarnya terpotong, barulah tangisan bayi itu pecah.


"Owek...."


"Lahaula walaquwwata illabillah. Alhamdulillah yaa Allah..." suara Norma lirih mengucap syukur saat bayi itu menangis, sempat dia panik, ketika bayi itu tak kunjung menangis.


Di akhir-akhir kesadarannya, Norma masih dapat melihat bayi cantiknya yang baru saja lahir, dia di letakkan dekat dengan bayinya yang laki-laki. Ada kelegaan tersendiri dalam relung hatinya.


"Alhamdulillah, terimakasih yaa Allah, Engkau masih memberiku kekuatan hingga detik ini bersama mereka dan melahirkan mereka ke dunia ini. Jika memang Engkau akan menjemput hamba, hamba siap yaa Allah... Titip mereka yaa Allah. Jadikan mereka anak-anak yang sholih dan sholihah." batin Norma dengan linangan air mata


Wajah Norma seketika pucat, suster dan dokter yang melihatnya segera ambil tindakan untuk transfusi darah. Karena Norma sudah jelas kehilangan banyak darah. Dan beberpa suster masih membersihkan jalan lahir, dan sebagian yang lain membersihkan bayinya.


Diluar ruang Bersalin.


"Tutik, gimana keadaan bu Norma?" tanya Bu Erna panik yang baru saja sampai di rumah sakit bersama pak RT, karena suaminya masih dinas di kantor.


"Alhamdulillah bu, Bu Norma sudah ditangani di dalam." kata bu Tutik.


"Alhamdulillah...MaasyaaAllah. Allahuakbar!!!" ucap bu Erna terharu sambil memegang erat tangan bu Tutik.


"Alhamdulillah ya bu." kata bu Tutik yang juga terharu.


"Alhamdulillah." ucap Pak RT dengan mengusap kedua wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Tak lama kemudian dua suster keluar dengan menggendong dua bayi yang masih merah.


"Dengan keluarga ibu Norma." kata suster itu.


"Ehm, kami tetangganya suster. Beliau seorang janda yang jauh dari keluarganya sus." kata bu Erna yang mengerti maksud suster.

__ADS_1


"Selamat ya bu, pak. Bayi bu Norma lahir kembar dampit. Laki-laki dan perempuan dengan keadaan Normal dan utuh. Hanya memang berat badannya masih tergolong prematurr ya bu, karena mereka anak kembar." kata seorang suster.


"Maaf suster, bagaimana dengan keadaan ibunya?" tanya bu Erna.


"Untuk keadaan ibunya, nanti akan dijelaskan dokter ya bu. Karena kini dokter sedang melakukan tindakan untuk ibu si bayi." kata suster ramah. Namun keramahan suster, tidak menjadikan hati bu Erna tenang. Justru bu Erna sangat khawatir dengan Norma.


"Ehm, suster. Bolehkah saya mengadzaninya? Karena ayahnya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu." tanya pak RT.


"Oya, silakan pak." kata suster mendeketakan bayi laki-laki dihadapan pak RT. Kemudian di susul dengan bayi perempuan yang sangat manis.


Setelah diadzani, tiba-tiba dokter Yuniar keluar dari ruang bersalin untul menemui bu Erna.


"Selamat siang bu." kata dokter Yuniar.


"Siang dok. Bagaimana keadaan bu Norma dok?" tanya bu Erna panik.


"Hem... Kita berdo'a saja ya bu, semoga ada keajaiban untul bu Norma. Karena bu Norma mengalami pendarahan serius. Keadaannya sangat lemah." kata dokter Yuniar. Seketika bu Erna lemas, dia terduduk di kursi yang berada di depan ruang bersalin. Air matanya tiba-tiba mengalir tak terbendung.


"Innalillahi." gumam bu Erna yang di kuatkan bu Tutik. Sedangkan pak RT yang sudah selesai mengadzani, juga lemas mendengarnya. Suster yang membawa kedua bayi itu sudah pergi ke ruangan bayi untuk dirawat.


"Oya bu Erna, tadi ada pesan dari bu Norma sebelum beliau melahirkan kedua bayi kembarnya."


"Apa dok?" tanya pak RT yang juga penasaran.


"Kata beliau, jika beliau sudah tidak mampu menjalaninya, beliau menitipkan kedua anak kembarnya kepada bu Erna. Beliau berpesan, agar kedua bayinya boleh dirawat orang tua yang amanah." kata dokter Yuniar yang membuat hati pak RT dan bu Erna miris mendengarnya. Betapa tidak, mereka memikirkan kedua bayi malang itu, baru beberapa bulan lalu mereka kehilangan ayahnya, kini mereka harus siap juga kehilangan ibunya.


Tiba-tiba muncul suster dari dalam ruangan bersalin,


"Maaf dokter, pasien kritis." kata suster dari dalam.


"Baik sus." kata dokter Yuniar langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


______________


Betapa besar pengorbanan seorang ibu untuk mempertaruhkan nyawanya demi buah hatinya... Jadi mari kita selalu sayangi ibu kita๐Ÿ™๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


__ADS_2