
Siang itu semua penghuni pesantren berkumpul di pendopo. Mereka berniat menghantarkan kepergian Arjuna ke tanah Mesir.
"Jaga diri kamu baik-baik ya nak." kata umi Ulfa dengan menangis.
"Iya umi, InshaaAllah. Umi juga baik-baik ya, jaga kesehatannya." kata Arjuna. Lalu Arjuna berjalan menyalami mbaknya, Hima.
"Baik-baik di sana ya Jun." kata Hima pada Arjuna.
"InshaaAllah mbak, mbak Hima juga, jaga adek bayi diperut, semoga nanti kalau bersalin, sehat keduanya, dan selamat tentunya." kata Arjuna.
"Aamiin." kata Hima sambil masih sesenggukan melepas kepergian Arjuna.
"Sukses ya Jun." kata Gusti sambil memeluk tubuh Arjuna ala pria.
"Aamiin. do'akan yang terbaik ya mas. Titip mbak Hima." kata Arjuna.
"Pasti." jawab Gusti.
"Ehm, ngomong-ngomong, adiknya mas Gusti ga bisa ke sini ya?" tanya Arjuna.
"Maksudmu, Jeni?" tanya Gusti.
"Hehe, ya, begitulah." jawab Arjuna sambil mengusap tengkuknya.
"Tadi sih katanya dia ada kuliah." kata Gusti.
"Oh, ya udah."
"Mau nititp sesuatu?" tanya Gusti.
"Engga kok mas." kata Arjuna.
"Misal iya, gapa, nanti saya antar bisa kok." kata Gusti.
"Ga usah mas." kata Arjuna.
Kemudian semua santri, dan ustadz ustadzah mengantarkan Arjuna sampai masuk mobil. Sedangkan Gusti dan abi Ilyas turut serta mengantarkan Arjuna sampai ke bandara.
Sedangkan di bandara, Anjani sudah tampak celingak celinguk mencari sosok Arjuna, pria yang di tunggu nya. Dia mengira Arjuna sudah bersiap berangkat, namun karena penasaran dna takut ketinggalan, Anjani menghubungi kakaknya.
📨Kak Gusti
Kak, kakak dimana?
Pesan itu langsung terbaca, karena sedang online.
📩Kak Gusti
__ADS_1
Di jalan dek. Nganterin Juna ke bandara.
"What? Ke Bandara? Berarti ini baru perjalanan ke bandara? Yah, syukurlah. Aku belum telat." batin Anjani.
Anjanipun menunggu kedatangan Arjuna. Dan benar adanya, lima belas menit kemudian, tampak seseorang yang sangat dia kenal.
"Juna." gumam Anjani. Tak terasa air bening mengalir dari kedua pelupuk matanya.
Arjuna yang berjalan bersama Gusti dan abi Ilyas, berjalan sambil bercengkrama.
"Adek?" gumam Gusti yang didengar Arjuna.
"Siapa mas?" tanya Arjuna.
"Jeni? Kamu disini?" tanya Gusti menghampiri adiknya.
"Eh, i iya kak." jawab Anjani gugup.
"Ehm, Kakak tau..." kata Gusti melihat adiknya dan beralih melihat ke Arjuna.
"Kamu ke sini?" tanya Arjuna, sambil melihat jari Anjani, apakah gadis itu memakai barang pemberiannya atau tidak. Dan tampak jelas baginya, benda mungil itu, terlingkar dijari manis Anjani. Arjuna pun tersenyum.
"Terimakasih ya." kata Arjuna sambil tersenyum.
"Ehm, Eh, iya."
"InshaaAllah." kata Arjuna.
"Jun, itu udah ada panggilan, langsung masuk aja Jun. nanti terlambat." kata Abi Ilyas.
"Ya bi." jawab Arjuna dengan perasaan berat meninggalkan Anjani yang tampak akan menangis.
"Ehm, kamu... jaga diri baik baik ya. Tunggu aku." kata Arjuna memberikan kata perpisahan.
Sambil menahan tangis,
"Juna..."
Arjuna berbalik badan, dan tersenyum.
Anjani mengangguk dengan senyum yang dipaksakan. Sedangkan Gusti dan Abi Ilyas berdiri disana sambil melepas kepergian Arjuna.
Pesawat yang dinaiki Arjunapun sudah terbang ke angkasa. Dada Anjani terasa sesak menahan sebuah rasa yang sulit disampaikan.
"Dek." sapa Gusti.
"Eh, ya kak?"
__ADS_1
"Kamu mau pulang sekarang apa nanti?" tanya Gusti.
"Ah, ya. Sekarang dong." kata Anjani.
"Naik apa tadi?" tanya Gusti.
"Mobil kak."
"Ehm, ya udah, kita bareng aja ke parkiran ya." kata Gusti.
"Kakak harus kembali ke pesantren, nganterin abi." kata Gusti.
"Iya kak."
"Ada hubungan apa Arjuna dengan Jeni, adiknya Gusti ini?" batin abi Ilyas yang sudah mulai curiga dengan bahasa batin antara keduanya.
Saat mereka berjalan ke parkiran, Gusti bertanya pada Anjani.
"Dek."
"Ya kak?"
"Ada hubungan apa kamu sama Juna?" tanya Gusti.
"Ehm, eng engga ada." jawab Anjani gugup.
"Jangan bohong dek." kata Gusti.
"Apaan sih kak. Serius." kata Anjani.
"Ehm, maaf kak. Mobil Jeni disana. Jeni ke sana dulu ya." kata Anjani berjalan ke parkiran sebelah utara.
"Oh, ya dek. Kakak ke sana" kata Gusti menunjuk ke arah Timur.
Sesampainya di rumah, Anjani segera merebahkan tubuhnya di kasur. Dia pandangi cincin yang dia pakai tadi.
"Juna, kenapa disaat aku ingin kembali dekat denganmu, kau justru pergi ninggalin aku?" tanya Anjani sambil menatap cincin di jarinya.
"Aku akan menanti mu Juna. Aku mencintaimu." kata Anjani dengan kerapuhannya.
💞💞💞
Sedangkan didalam pesawat, Arjuna teringat betul saat melihat cincin yang di berikan pada Anjani, dipakainya. Itu tandanya, Anjani menerima cintanya. Namun, ini adalah awa perpisahan mereka. Sehingga Arjuna harus menahan rasa yang semakin menyeruak.
"Ga nyangka, dibalik kejudesanmu, ternyata kamu ada rasa juga denganku Jeni." gumam Arjuna sambil menatap awan yang dilintasinya.
"Tunggu aku Jeni. Aku akan kembali untukmu, InshaaAllah." lanjut Arjuna.
__ADS_1
"Kamu adalah wanita tangguh. yang cerdas, dan cantik tentunya. Baru saja berpisah, rasanya aku sudah rindu. Tetapi, semoga kamu sehat selalu di sana Ya Jen." kata Arjuna lagi.