Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Kenyataan


__ADS_3

"Ga mungkin. Ini semua bohong kan pa?" kata Anjani yang masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.


Pak Pratama tergugu, dia tersungkur memegang kaki putrinya.


"Maafkan papa nak, maafkan papa." kata Pak Pratama menangis pilu. Anjani seketika terduduk mensejajari papanya, dengan linangan air mata.


"Ga pa. Ga mungkin. Jeni anak papa kan? Jeni anak papa sama mama. Jeni bukan anak orang lain kan pa?" Anjani masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya bukan anak kandung papa mamanya.


Pak Pratama menggeleng, dan tegugu.


"Engga nak, ini semua benar. Ini nyata. Kamu bukan anak kandung kami." kata Pak Pratama memegang pundak Anjani dan memeluknya. Namun, seketika Anjani mendorong tubuh papanya, lalu berdiri.


"Engga, papa jahat!" teriak Anjani sambil berlari pergi menjauh dari Papanya. Bu Nita segera menyusul suaminya yang tersungkur karena didorong putrinya.


Pak Pratama dan Bu Nita terus menangis dengan terduduk. Tak hanya mereka, Rombongan dari pesantren juga menangis saat mengetahui kenyataan yang ada. Begitupun dengan Arjuna, yang juga syok mendengar kejujuran dari pak Pratama dan bu Erna. Arjuna berusaha mengolah emosinya, dia terduduk lesu di sofa yang ada diruang tamu milik pak Pratama. Ustadz Ilyas mengelus punggung Arjuna, dan bersholawat. serta sesekali mengingatkan Arjuna untuk beristighfar. Umi Ulfa menangis dalam pelukan Aisywa. Bu Tutik dan bu Erna juga tertunduk mereka merasa bersalah dengan kedatangan mereka, tetapi mau tidak mau, hal ini tetap harus disampaikan. Karena jika Arjuna dan Anjani melanjutkan hubungan ini, itu akan dosa besar jadinya. Dan itu menjadi pernikahan yang terlarang, karena mereka adalah saudara kandung. Sedangkan Gusti, menyusul Anjani, diikuti Kaisar. Namun tidak dengan Hima, yang terpaksa tetap di tempat, karena dia harus mendampingi Maudi putrinya.


"Saya tidak menyalahkan pak Pratama, karena semua ini sudah menjadi takdir DariNya. Saya memang berpesan pada pak Ilyas dan Bu Ulfa, jika suatu saat nanti Arjuna akan melamar seorang gadis, saya minta ikut. Karena saya belum berhasil mempertemukan Arjuna dengan saudara kembarnya. Ada rasa khawatir dalam diri saya pak, jika hal yang tak diinginkan terjadi. Dari saat bapak mengadopsi Anjani, saya sudah berfikir tentang masa depan mereka. Itulah sebabnya, saya meminta bapak untuk sering sering main ke rumah kami, mempertemukan mereka, memperkenalkan mereka, bahwa mereka adalah saudara kembar. Tetapi selama ini, saya menunggu, bapak tidak kunjung datang, hingga Arjuna di ajak pak Ilyas tinggal bersama di pesantren." kata bu Erna panjang lebar.


Arjuna masih terdiam dengan menyimpan banyak rasa. Dugaannya dan kecurigaannya terhadap bu Tutik dan bu Erna terjawab sudah. Dan benar, sesuatu hal yang tak diinginkan telah terjadi. Yaitu suatu kenyataan, bahwa dia dan gadis pujaan hatinya tak akan pernah bersatu, karena mereka adalah saudara kembar. Arjuna menyadari kesalahannya, dia tak mengindahkan pesan eyangnya untuk mencari tau terlabih dahulu tentang Anjani, gadis yang dicintainya. Kembali dia menangis.


"Maafkan Juna eyang, Juna ceroboh." batin Arjuna menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Maaf pak Pratama, karena situasinya masih seperti ini, kami mohon maaf, tidak bisa melanjutkan acara ini. Dan, saya atas nama keluarga dari Arjuna, kami mohon maaf atas sikap kami yang kurang berkenan, dan justru membuat keributan di rumah anda." kata ustadz Ilyas.


"Saya yang salah ustadz, tidak seharusnya saya menyembunyikan sesuatu hal yang seharusnya saya sampaikan. Saya yang salah ustadz, karena saya terlalu egois, mementingkan urusan saya sendiri. huhuhuhu." kata pak Pratama tergugu sambil menunduk.


"Tidak ada yang salah pak Pratama, semua ini sudah menjadi bagian dari skenario Allah, dimana kita bisa belajar dari kejadian ini. Kita bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Tak hanya pak Pratama, atau bu Erna dan saya sendiri, tetapi juga untuk anak-anak kita nantinya ketika mereka sudah menjadi orang tua." kata ustadz Ilyas.


"Sesungguhnya, dalam agama islam, haram hukumnya seorang laki-laki menikahi saudara kandungnya sendiri. Maka, karena Arjuna dan Anjani adalah saudara kandung dari pasangan dek Norma dan Dek Ma'ruf, maka mohon maaf, pertunangan ini kita batalkan. Dan semoga, kedepannya mereka bisa segera menemukan pasangan yang lebih baik."bkata Ustadz Ilyas.


"Iya ustadz."


"Bu Erna, Terimakasih banyak, anda sudah turut hadir di acara ini. Jika tidak, sayalah penyebab dosa besar diantara mereka nantinya." kata pak Pratama lagi.


Bu Nita yang sedari tadi menangis, juga ikut merasa bersalah, karena selama ini, dialah yang selalu bilang pada suaminya, kalau dia tidak ingin kehilangan Anjani, dan melarang suaminya untuk menceritakan kebenaran kepada putri tercintanya.


"Kalau begitu, kami mohon undur diri dulu ya pak." kata Ustadz Ilyas.


"Ya ustadz, terimakasih banyak ustadz. Dan mohon maafkan saya." kata pak Pratama yang masih menangis atas kesalahannya.


"Juna..." panggil pak Pratama sambil menatap Arjuna.


Arjuna hanya diam, tak berani berkata-kata. Karena dalam hatinya masih bergemuruh menahan emosinya.

__ADS_1


"Maafkan om ya Juna." pinta pak Pratama memegang tangan Arjuna yang hendak keluar rumah.


Arjuna hanya mengangguk dan mencium tangan pak Pratama dengan khidmad.


"Jika terjadi sesuatu sama Jeni, tolong hubungi saya. Dan jika Jeni sudah tenang, saya akan segera menemuinya." kata Arjuna pada Pak Pratama.


"Baik Juna." jawab Pak Pratama.


Arjunapun mengikuti rombongan ustadz Ilyas untuk meninggalkan rumah pak Pratama yang megah.


Sedangkan di dalam kamar, Anjani menunci diri di kamarnya. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya, berubah total menjadi hari yang memilukan. Anjani mengetahui kenyataan pahit berlipat lipat. Dia baru tau bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari papa mamanya yang selama ini dia sayangi. Dia juga harus melepas dengan terpaksa cinta yang selama ini dia tunggu selama empat tahun lamanya, karena kenyataan pahit yang menerpanya. Dia tau, apa hukumnya mencintai dan menikah dengans saudara kandung. Jelas itu tidak boleh. Sehingga Anjani benar-banar terpuruk. Arjuna adalah sosok pria idaman nya, dia hanya menginginkan Arjuna menjadi suaminya, namun apa daya, Arjuna justru bukanlah jodohnya, melainkan saudara kembarnya.


"Ya Allah, kenapa semua ini harus terjadi. Aku benci semua ini aku benci!" pekik Anjani dari dalam kamar.


Gusti dan Kaisar terus menguping dari luar pintu, karena mereka tidak bisa masuk.


"Gus, baiknya lo lewat jendela aja deh, lo harus dampingin Jeni. Gue khawatir terjadi sesuatu sama dia di dalam." kata Kaisar memberi saran.


"Iya juga ya Kai, soalnya Jeni emosinya lagi ga stabil." kata Gusti yang sudah mengetahui emosi adiknya.


Gustipun mengikuti saran Kaisar, dia keluar dari rumah, dan dengan menggunakan tangga dia mencoba masuk kamar Anjani dari jendela kamarnya di lantai dua. Sedangkan Kaisar tetap jaga-jaga di depan kamar Anjani, atas perintah Gusti.

__ADS_1


__ADS_2