
Setelah menyampaikan niat baiknya pada abi Ilyas, keesokan harinya Arjuna langsung ke rumah bu Erna yang jarak tempuh ke sana sekitar dua jam. Sehingga Arjuna memutuskan ba'da subuh langsung otw, dengan maksud sebelum bu Erna dinas ke puskesmas, dirinya sudah sampai di rumah bu Erna.
Sesampainya di rumah bu Erna, Arjuna di sambut hangat oleh suami bu Erna. Arjuna duduk di kursi tamu, menunggu kedatangan bu Erna yang kini tinggal menunggu waktu pensiun.
"Assalamualaikum. Juna?" sapa bu Erna saat menemui Arjuna diruang tamu dengan seragam dinesnya.
"Wa'alaikumsalam. Iya bu." jawab Arjuna sambil mencium punggung tangan ibu yang merawatnya sejak bayi.
"Duduk nak." kata bu Erna yang kini sudah semakin tampak lebih tua dan mengenakan kacamata.
"Kamu tiba di Indonesia kapan nak? Kemarin pas ibu ketemu abi dan umimu, mereka bilang kamu masih di Kairo." kata bu Erna.
"Eh. iya bu. Alhamdulillah tiba kemarin siang bu." jawab Arjuna.
"Ehm. alhamdulillah. Gimana kabar keluarga? Kabarmu?" tanya bu Erna yang juga didampingi suaminya. Suami bu Erna sudah dianggap Arjuna sebagai ayahnya juga kala waktu masih kecil.
"Alhamdulillah, keluarga di pesantren sehat semua bu. Termasuk juga Juna, Juna juga sehat, alhamdulillah."
"Alhamdulillah kalau begitu." kata bu Erna.
"Ehm, bu..."
"Ya?"
"Maaf sebelumnya, melihat bu Erna sudah memakai baju dines, pasti sudah bersiap berangkat ke puskesmas ya bu?" tanya Arjuna.
"Iya, biasalah nak..."
"Ehm. Ini Juna langsung saja bu kalau begitu." kata Arjuna mencari posisi duduk yang nyaman agar tidak grogi.
__ADS_1
"Ehm...Begini bu, tadi malam, saya sudah berbincang dengan abi dan umi atas niat baik saya, Lalu umi dan abi berpesan. agar Juna menemui bu Erna dulu sebelum Juna melangkah." kata Arjuna.
"Niat baik apa nak?"
"InshaaAllah, nanti malam, Juna mau mengkhitbah seorang gadis bu. Juna berniat untuk meminang gadis pilihan Juna bu." kata Arjuna dengan berusaha mengalahkan rasa groginya.
"Alhamdulillah... akhirnya..." kata bu Erna bahagia.
"Ehm, maaf bu. Kalau ibu berkenan, ibu dan bapak, nanti malam ikut kami ya bu, untuk memberikan restu atas langkah awal menuju niat baik menyempurnakan agama Juna." kata Arjuna.
"InshaaAllah nak." kata bu Erna dan suami bersama.
"Ehm, kalau boleh tau, gadis mana yang beruntung bisa meluluhkan hatimu itu Juna? Apakah dia gadis pesantren tempatmu tinggal?" tanya bu Erna.
"Bukan bu, dia... dia temen sih." kata Arjuna.
"Teman kuliah?"
"Kami bertemu di jalan dengan tidak sengaja bu. Dari awal bertemu, rasa itu sudah muncul."
"Oh... kalau boleh tau, namanya siapa?" tanya bu Erna penasaran.
"Jeni bu." jawab Arjuna.
"Nama yang cantik, pasti orangnya juga cantik." goda bu Erna.
"Ya, begitulah bu." kata Arjuna tersipu malu.
"Ehm, nama lengkapnya siapa Nak?" tanya bu Erna.
__ADS_1
"Anjani Ramayanti bu." kata Arjuna, yang seketika membuat raut wajah bu Erna berubah, dan menoleh pada suaminya.
"Kenapa bu?" tanya Arjuna yanf melihat perubahan wajah bu Erna.
"Ah, tidak kenapa-kenapa. InshaaAllah nanti kami ke rumahmu ya, nanti ibu dan bapak akan antar kamu." kata bu Erna dengan senyum yang di paksakan.
"Ya bu, terimakasih bu. pak." kata Arjuna.
"Ya sudah bu, saya langsung pamit saja." kata Arjuna.
"Lhoh. kok buru-buru Juna? Temani bapak Sarapan dulu saja Jun." ajak suami bu Erna.
"Ehm. terimakasih pak, maaf, hari ini saya niat puasa pak." kata Arjuna sopan.
"Oh. ya ya. Ini Hari kamis ya."
"Iya pak."
Sepeninggal Arjuna, Bu Erna yang tadi mengantar Arjuna sampai halaman rumah, kembali masuk dengan wajah yang berubah panik.
"Pak..." panggil bu Erna.
"Mungkin hanya namanya saja yang kebetulan sama bu." kata suaminya yang mengerti isi pikiran istrinya.
"Ehm, semoga saja." kata bu Erna.
"Sudah, langsung berangkat saja bu, sudah siang lho, nanti ibu terlambat." kata suaminya mengingatkan.
Bu Erna pun segera bersiap untuk berangkat ke puskesmas.
__ADS_1
Namun, nama itu terngiang kembali di telinganya.
"Anjani Ramayanti... nama itu... " gumam bu Erna sambil mengingat kejadian beberapa tahun lalu, saa dia berbincang dengan bu Norma kala itu.