
Sore itu keluarga besar pondok pesantren disibukkan dengan segala persiapan untuk acara khitbah salah satu putra pengurus pondok, yang tak lain adalah Arjuna Ramayana, putra dari ustadz Ilyas dan ustadzah Ulfa.
Sesuai rencana, Yang akan mengantarkan Arjuna hanyalah abi Ilyas, Umi Ulfa, Aisywa dan Bidan Erna beserta suami, dan satu lagi yang ikut, yaitu bu Tutik, IRTnya bu Erna yang kini sudah tidak dipekerjakan di rumah bu Erna tetapi di minta untuk tinggal dan merawat rumah milik Arjuna dan Anjani, anak-anak dari bu Norma dan pak Ma'ruf. Karena Gusti dan Hima membantu persiapan di kediaman pak Pras, dan ustadz Mumtaz tetap di pesantren, karena kebetulan ada tamu dari luar kota.
"Mohon maaf ya ustadz Ilyas, saya sengaja mengajak bu Tutik ke acara lamaran nya Arjuna. Karena walau bagaimanapun, bu Tutik ini adalah ibu asuhnya Arjuna sejak bayi." kata bu Erna.
"Oh, ya bu. Tidak apa-apa." jawab ustadz Ilyas dengan senang hati.
Namun, tidak dengan Arjuna. Arjuna sudah curiga sejak dia berkunjung ke rumah Bu Erna. Arjuna adalah anak yang cerdas, dia tau gelagat seseorang dari bahasa tubuhnya. Ada sesuatu hal yang disembunyikan bu Erna dan suaminya. Wajah mereka yang tadinya sumringah saat mendengar Arjuna akan mengkhitbah seorang gadis, seketika berubah saat Arjuna menyebutkan nama calon istrinya itu.
"Tadi bu Erna tidak bilang kalau beliau akan mengajak bu Tutik, kenapa sekarang membawa orang lain? Apa hubungannya bu Tutik dengan acara ini?" batin Arjuna.
"Maafkan ibu Juna, ibu mengajak bu Tutik hanya jaga-jaga saja, kalau ternyata dugaan kami benar, bahwa nama yang kamu sebut adalah saudara kandung mu, maka bu Tutik saksi mata yang turut serta mengantar ibumu melahirkan dan saksi dimana saudara kembarmu diasuh orang lain. Tetapi,ku harap, dugaan kami ini salah." batin bu Erna yang memang sengaja tidak menjelaskan alasan dirinya membawa Bu Tutik dalam rombongan.
Keluarga ustadz Ilyas berangkat satu mobil. Sedangkan bu Erna memilih naik mobil sendiri bersama suami, dan bu Tutik, yang dulu ikut serta mengantar bu Norma melahirkan Arjuna dan Anjani.
Arjuna tampak tegang sepanjang jalan. Bukan hanya tegang karena dia akan menuang wanita pujaan hatinya, tetapi dia juga tegang, ada sesuatu hal yang tak diinginkan, semenjak bu Erna berubah saat tau nama lengkap gadis yang akan di lamarnya.
Arjuna kembali flash back pada pesan eyangnya, bahwa dia harus menyelidiki dulu calon gadis yang akan dikhitbahnya nanti, karena dikhawatirkan gadis itu adalah saudara kembarnya. Namun apa daya, Arjuna lupa akan hal itu, dia sudah terlanjur menyampaikan niat baiknya itu, tanpa mencari tau lebih dalah tentang sosok seorang gadis bernama Anjani Ramayanti. Dia hanya cari tau informasi dari Gusti, kakak iparnya yang menceritakan bahwa Anjani adalah adiknya. Yang lahir di rumah sakit, dengan tanggal yang sama dengan Arjuna.
Sesampainya mobil di depan sebuah rumah yang megah, Seorang scurity membukakakn pintu gerbang, lalu dua mobil rombongan dari pesantren masuk ke halaman rumah itu. Satu persatu orang keluar dari mobil itu. Tampak bu Erna, suami dan bu Tutik saling pandang. Arjuna melihat setiap gerak gerik ibu asuhnya itu, benar-benar mencurigakan.
"Apa yang bebenarnya bu Erna sembunyikan dariku?". batin Arjuna.
Sedangkan di dalam rumah, Anjani di kamar ditemani Hima dan keponakannya yang lucu, Maudi, anak dari Hima dan Gusti. Sedangkan di dapur, sudah ada Gusti dan Kaisar yang juga ikut serta hadir di acara lamaran adik dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tuhan, aku tau ini berat bagiku. Mobil rombongan telah datang, dan ucapan dari keluarga Arjuna akan segera terlontar. Jika Jeni sudah dilamar, aku pasrah. Kebahagiaan Jeni adalah kebahagiaanku juga. Aku harus konsekuensi atas keputusanku.". batin Kaisar di dapur saat mendengat suara mobil masuk halaman rumah pak Pratama.
Sedangkan rombongan sudah berjalan menuju pintu utama. Pak Pratama dan bu Nita menyambut kedatangan rombongan dengan suka cita, menyalami ustadz Ilyas, umi Ulfa Arjuna, dan saat akan menyambut orang berikutnya, Pak Pratama terperanjat. Begitupun dengan bu Erna dan Bu Tutik, mereka berdua juga tidak kalah kaget saat melihat pak Pratama.
"Anda?" pak Pratama menunjuk bu Erna dan bu Tutik bergantian.
"Anda, Pak Pratama?" bu Erna memastikan. Lalu menoleh ke arah suami dan bu Tutik. Seketika semua yang sudah terlanjur masuk rumah, menoleh ke arah pintu.
Pak Pratama benar-benar terkejut, dia menoleh ke arah Arjuna, sosok pria Sholih yang akan mengkhitbah putrinya.
"Om sudah kenal sama bu Erna?" tanya Arjuna yang memang sudah mencurigai sesuatu hal.
Pak Pratama yang memang merasa bersalah hanya tertunduk dan mengangguk.
"Pak... Jangan bilang kalau gadis yang akan dilamar anak kami Arjuna Ramayana ini adalah anak yang dulu kami serahkan pada bapak." kata bu Erna yang sudah tak mampu menahan air matanya.
Lagi-lagi pak Pratama tertunduk dan mengangguk.
"Pa...ada apa ini? Jelaskan sama mama pa?" kata bu Nita yang masih bingung.
"Maafkan papa ma..." kata pak Pratama dengan tergugu dalam tangisnya yang tertahan. Tiba-tiba tubuhnya terduduk ke lantai.
"Bu Erna, ada apa ini?" tanya Arjuna yang masih penasaran.
"Juna... kamu... " bu Erna tak kuat berkata-kata, dia langsung memeluk anak asuhnya itu.
__ADS_1
"Maafkan ibu nak... maafkan ibu..." kata bu Erna.
Ustadz Ilyas yang sedari tadi mencoba menduga, mulai memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya.
"Bu Erna, pak Pratama... tolong kita duduk dulu bersama, jangan biarkan emosi menguasai diri. Mari, kita duduk bersama dulu." kata ustadz Ilyas.
Pak Pratama di tuntun bu Nita, sedangkan bu Erna dituntun Arjuna, diikuti bu Tutik dan suami bu Erna.
"Maafkan saya bu...maafkan saya..." kata Pak Pratama.
"Saya sudah menunggu bapak sejak mereka berumur 1 tahun pak, tapi bapak tidak berkunjung juga ke rumah kami. Di usia Juna 3 tahun, saya mencoba mencari tempat tinggal bapak, untuk mempertemukan mereka, tapi bapak sudah pindah dan tak ada kabar. Selama ini bapak kemana?" tanya bu Erna dengan isak tangisnya.
"Pa, ada apa ini? Mama ga ngerti." tanya bu Nita.
"Ma... maafin papa..." kata pak Pratama lagi sambil menangis dan memeluk istrinya yang masih kebingungan.
Mendengar ribut-ribut di ruang tengah, Jeni, Hima, Gusti dan Kaisar ikut serta menengok melalui ruang tengah.
"Sebenarnya... sebenarnya... Jeni itu... saudara kembar Arjuna mah..." kata Pak Pratama yang membuat semua terperanjat. Begitupun dengan Arjuna dan Anjani, orang yang bersangkutan. Mereka juga benar-benar kaget dengan kenyataan ini.
Bu Nita yang memang sudah tau, bahwa Anjani bukanlah anak kandungnya, tetapi dia sama sekali tidak tau, bahwa Anjani memiliki saudara kembar laki-laki.
"Apa?" seketika Anjani keluar dari ruang tengah, dengan memekik tak percaya.
Semua orang menoleh kearah Anjani, begitupun dengan pak Pratama dan bu Nita, yang akhirnya mereka harus jujur menyampaikan siapa sebenarnya Anjani itu.
__ADS_1