
Disebuah universitas swasta, seorang gadis berjilbab pashmina tampak keluar ruangan dengan wajah senang. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti, kala seseorang memanggilnya dari arah belakang.
"Jeni!" panggil Leo. Leo adalah mantan pacar Anjani, yang sudah menjalin hubungan dengan Anjani sejak SMA.
"Hem." Bola mata Anjani memutar, rasanya Bete banget dia menemui laki-laki itu. Lalu, Anjani tak mengindahkan Leo, dia kembali melangkah.
"Jeni, jeni. Tunggu." kata Leo sambil mencegah Anjani yang hendak melangkah, dengan menarik tangan Anjani, yang seketika ditepis Anjani dengan kasar.
"Mau apa lagi lo?" tanya Anjani dengan sinis.
"Aku mau jelasin semuanya sama kamu sayang." kata Leo merajuk sambil berusaha meraih tangan Anjani, seketika ditepis lagi tangan itu.
"Ga ada yang perlu dijelasin. Semuanya udah jelas, dan asal kamu tau, sampai kapanpun aku ga akan mau balikan sama kamu!" hardik Anjani dengan nada tinggi.
"Tapi sayang." rajuk Leo lagi.
"Ga ada tapi-tapian. Kita putus, ya putus!" kata Anjani lagi.
"Minggir, gue masih banyak urusan." kata Anjani melangkah meninggalkan Leo.
Lagi-lagi Leo mengikuti Anjani sambil memohon-mohon untuk dimaafkan.
"Sayang, maafin aku. Aku ngaku aku salah. Aku minta maaf. Tapi beri aku kesempatan sekali lagi sayang." teriak Leo yang tak diindahkan oleh Anjani.
Terlalu sakit hati bagi Anjani yang sudah dikhianati pacarnya sendiri. Yang selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Memang, selama ini Leo hanya memanfaatkan Anjani untuk kepentingannya sendiri, dengan tidak begitu tulus mencintai gadis itu. Betapa terpuruknya hati Anjani saat melihat Leo berada berduaan di kontrakannya bersama gadis yang dia kenal, dan itu sahabat dekatnya.
Memang, selama ini Leo sering meminta 'sesuatu' pada Anjani, namun dia selalu menolak. Anjani masih memiliki batasan dalam berhubungan dengan lawan jenis, sehingga untuk memuaskan hasratnya, Leo memilih untuk bermain serong dibelakang Anjani, dengan sahabat Anjani yang juga suka melakukan hal-hal serong tersebut.
💞💞💞
"Wajah adek ku yang cantik ini kok ditekuk sih?" sapa Gusti saat melihat adiknya sedang duduk sendiri di taman samping rumah.
"Lagi bete." jawab Anjani dengan manyun.
"Bete kenapa?" tanya Gusti.
"Leo." jawab Anjani.
"Kenapa dia? Dia bikin masalah?" tanya Gusti berubah garang, sambil berdiri mengepalkan tangannya.
"Eh, kakak jangan marah dulu. Jeni kan belum cerita." kata Anjani sambil menarik tubuh Gusti untuk duduk kembali.
"Okey. Ceritain." kata Gusti.
__ADS_1
"Jadi gini kak, Beberapa waktu ini tu, kami pacaran, emang Leo tu sering minta 'sesuatu' gitu. Tapi ga pernah aku kasih." kata Anjani dengan memberi kode saat kata 'sesuatu'.
"Dia minta hal ga senonoh itu?" tanya Gusti geram.
Anjani hanya mengangguk.
"Kurang ajar!"
"Tapi kak, Jeni selalu nolak. Padahal dulu engga lho kak. Pas jaman sekolah sampe kemarin itu. Ga tau kenapa akhir akhir ini dia gitu, kayaknya ada yang ngomporin deh." kata Anjani.
"Dan yang ngomporin itu, cewek itu sendiri. Yang ternyata dia orang deket ku kak. Dia nusuk aku dari belakang, dia main serong sama Leo dibelakang ku kak." kata Anjani dengan isak tangis yang mulai pecah.
"Bener-bener kurang ajar tu Leo!" kata Gusti geram.
"Udah ya kak, Jeni udah cerita. Kakak jangan kasih pelajaran dia dulu. Biarin dulu kita ikutin permainannya, nanti baru Jeni ambil tindakan kalo Leo udah ga bisa di toleransi kak." kata Anjani.
"Tapi dek..."
"Jeni ga mau bikin masalah baru kak." kata Anjani.
"Okey.Yang penting, kamu jaga diri baik-baik ya dek." kata Gusti.
"Ya kak."
"Oya kak. Kakak tumben pulang jam segini?" tanya Anjani saat melihat jam dinding, ternyata hari sudah larut malam.
"Engga. Tadi kakak ketemu Hima." kata Gusti.
" Mbak Hima?"
Gusti hanya mengangguk.
"Kasian dia dek." kata Gusti.
"Kenapa kak?"
"Ternyata dia..."
"Dia kenapa kak?"
"Ternyata dia itu...Udah punya anak dek." kata Gusti masih tak percaya.
"Mbak Hima udah punya anak?" Anjani pun tak percaya.
__ADS_1
"Iya. Anaknya umur sepuluh tahun." kata Gusti.
"Tapi dia janda."
"Janda? Janda ditinggal mati?" tanya Anjani yang semakin penasaran.
"Engga dekm Dia janda dicerai. Anaknya selama setahun ini ikut papa kandungnya dan ibu tirinya. Hima ga boleh ketemu anaknya. Dan kini. anaknya lagi kritis di rumah sakit dek, hati ibu mana yang ga hancur melihat buah hatinya tak berdaya diruang ICU." kata Gusti dengan sedihnya.
"Astaga, emang sakit apa anaknya kak?" tanya Anjani.
"Panas tinggi, hingga kejang dek. Tadi dianalisis dokter Danu, kemungkinan besar, Anaknya itu mengalami lagi kronis, hingga typus, namun saat demam tinggi tidak langsung dibawa kerumah sakit, atau ditangani lah minimal, sehingga dia kejang. Barulah di bawa ke rumah sakit." kata Gusti menjelaskan.
"Kenapa ya, saat melihat Hima menangis kaya tadi, hati kakak ikutan perih?" kata Gusti heran.
"Itu, karena kakak tuh jatuh cinta kak."
"Masa?"
"Iya. Kakak sih, terlalu sibuk belajar dan kerja, sampe lupa rasa yang harusnya tumbuh secara alami dalam diri kakak. pantesan ga laku-laku." ejek Anjani.
"Kau ini dek. Bukannya ngasih solusi malah ngeledek." omel Gusti.
"Ya udah, kakak deketin dia terus kak. Beri support mbak Hima. Dia butuh kakak, dia butuh bahu untuk bersandar." kata Anjani sambil menepuk pundak kakaknya.
"Gitu ya?"
"Iya."
"Hem..."
"Betewe, kakak tau dari siapa kalau mbak Hima itu janda?" tanya Anjani.
"Dari Arjuna." kata Gusti.
"Arjuna? Kakak ketemu dia?"
"Iya. Kenapa emangnya?" tanya Gusti.
"Engga, gapapa." jawab Anjani agak salah tingkah.
"Ehem, kayaknya ada yang..." goda Gusti.
"Apaan sih, Udah malem ah, Jeni ngantuk, mau tidur." kata Anjani melangkah menju kamarnya.
__ADS_1
"Gapapa lho dek, dia laki-laki Sholih." teriak Gusti yang sudah mengetahui wajah adiknya yang berubah. Diapun tersenyum,
"Semoga kamu bisa dekat dengan Arjuna dek, biar kakak juga bisa dekat dengan kakaknya Arjuna." batin Gusti penuh harap.