Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Mengkhitbah


__ADS_3

Sepeninggal Arjuna, Azizah segera menelpon umi dan abinyadi rumah. Dan Azizah juga memboking beberapa menu di kafenya, untuk dia bawa pulang. Hari ini hati Azizah benar-benar berbunga-bunga. Dia bahkan tak bisa berkata-kata. Azizah pamit pulang lebih awal dari Kafe, dan karyawan kepercayaannya diamanahi untuk menutup kafe.


Sesampainya di rumah, Azizah disambut bahagia oleh uminya.


"Gimana ceritanya kamu mau dikhitbah mendadak begini Zi?" tanya umi.


Azizah hanya tersenyum menanggapi wajah kekepoan umi nya.


"Nanti deh Zizah ceritain, yang penting sekarang kita siap-siap ya Umi. Zizah mau mandi dulu." kata Azizah dengan penuh kebahagiaan. Wajah Azizah jauh berbeda dengan saat dia dikhitbah Haris, mantan suaminya dahulu. Azizah waktu itu belum siap menikah, dan merasa tidak cinta pada Haris, namun, karena sikap keras abinya, akhirnya Azizah menurut saja, meski akhirnya Azizah harus merasakan perasaan yang menyiksa selama dua tahun lamanya berkeluarga dengan Haris. Dan saat dia menjanda, Azizah justru tampak lebih enjoy dan bahagia. Termasuk hari ini, wajahnya pmberbinar penuh kebahagiaan.


Tak berapa lama kemudian, pak Yunus datang dari kegiatannya mengisi kajian ibu-ibu di masjid kampung sebelah.


"Umi, apa Zizah sudah memberi kabar Umi?" tanya pak Yunus.


"Sudah bi."


"Zizah di mana sekarang?"


"Lagi mandi bi." jawab bu Sarah, uminya Azizah.


"Zizah seriusan mi?" tanya pak Yunus lagi yang masih tak percaya dengan kabar yang disampaikan Azizah.


"Seriusan bi. Itu Zizah juga udah bawa beberapa menu makanan dari kafenya untuk dihidangkan di sini. Biar ga merepotkan umi katanya."


"Hem... Abi kok masih ragu ya mi? Mendadak banget soalnya." kata Pak Yunus.


"Ya udah dong bi, nanti diterima aja kehadiran tamu kita yang dimaksud Zizah. Sudah cukup dia menderita karena pengalaman buruknya, biarkan dia merasakan perasaan bahagia bi." kata bu Sarah.


"Hem..." jawab pak Yunus sambil berjalan menuju kamarnya.


"Ya sudah, ini sudah maghrib. ayo kita segera siap-siap." kata bu Sarah.


"Ya umi."


💞💞💞


Setelah sholat maghrib, Arjuna yang sudah siap dengan segala persiapannya untuk mengkhitbah gadis pilihannya. Sepulang dari kafe, Arjuna segera meminta Aisywa dan teman santriwati untuk menyiapkan buah tangan untuk dibawa ke rumah Azizah.


"Juna, kamu yakin nak?" tanya umi Ulfa.


"Iya umi."


"Bener do'a umi kan? Kalau sebentar lagi kamu juga akan menyusul Jeni." kata umi Ulfa tersenyum.

__ADS_1


"Umi memang the best. Do'a umi langsung diaamiini malaikat." kata Arjuna.


"Siapa sebenarnya gadis itu Juna?" tanya abi Ilyas.


"Dulu temen aktivis di masjid bi." jawab Arjuna.


"Oh... teman lama rupanya." kata Umi Ulfa menebak.


"Iya umi."


"Ehm... tapi... dia janda umi. abi." kata Arjuna.


"Apa? Janda?" tanya Umi Ulfa tak percaya.


"Iya umi, dia janda belum lama ini, tetapi dia belum hamil, belum pernah punya anak. Bahkan sepertinya dia masih gadis, karena kata dia, dia bercerai karena salah satunya dia tidak diberi nafkah batin suaminya umi." kata Arjuna.


"Kok bisa? Dia wanita baik-baik 'kan?" tanya umi Ulfa cemas.


"InshaaAllah dia baik umi. Juna jamin, dia gadis baik." kata Arjuna meyakinkan.


"Baiklah kalau memang kamu sudah mantab." kata umi Ulfa.


"Ya sudah. itu persiapan sudah beres semua. Kita berangkat sekarang saja ya." kata abi Ilyas saat melihat Gusti bersama Hima sudah datang.


"Juna, kamu serius mau mengkhitbah sekarang?" tanya Hima.


"Ketemu di mana sih tu gadisnya? Kaya beli bawang aja, cepet banget." seloroh Gusti.


"Enak aja dibilang kaya bawang." tukas Arjuna.


"Hahaha, lagian kamu nih mas, aneh-aneh aja. Nyebut suka-suka." kata Hima.


"Ya abisnya dadakan banget gitu. ga pingin kenal lebih dekat dulu sama dia?" tanya Gusti yang sudah masuk ke dalam mobil untuk mengemudikan. Sedangkan Hima, Arjuna, Aisywa, Umi dan Abi juga sudah masuk mobil dan duduk di kursi penumpang. Acara khitbah ini, Arjuna memang hanya mengajak keluarga inti saja.


"Ih, mas Gusti nih ga ngerti-ngerti. Yang mau dikhitbah ini tu temen lamanya Juna mas. Waktu Juna kuliah, dia udah ngerti banget tentang gadis itu, makannya ini dia mantab untuk mengkhitbahnya. Takut diambil orang." kata Hima.


Arjuna hanya diam, tidak menanggapi percakapan sepasang suami istri itu.


"Yang jelas, do'a umi langsung menembus langit ke tujuh. Saat tadi di acara pernikahannya Jeni. Juna juga bakal nyusul. Iya kan?" kata Umi Ulfa.


Arjuna membenarkan kata uminya, karena memang tadi pagi, uminya sempat bilang seperti itu kepada Anjani.


"Gimana nih, jadi berangkat ga?" tanya Gusti.

__ADS_1


"Jadi dong..." jawab Hima menepuk lengan atas suaminya.


"Kalau ga jadi, entar mas Juna nangis lagi kaya waktu sama mbak Jeni dulu itu. hihihi." kata Aisywa sambil terkikik.


Mobil pun melaju menuju rumah Azizah. Namun mereka mampir sejenak di sebuah masjid untuk menunaikan ibadah sholat isya'. Dan sesampainya disana, Keluarga abi Ilyas disambut hangat oleh keluarga pak Yunus.


Tubuh Arjuna terasa dingin, dia benar-benar nervous kali ini, rasanya berbeda dengan saat dia akan mengkhitbah Anjani beberapa waktu lalu. Kala itu, dia tegang karena melihat wajah bu Erna, sehingga fikiran nya penuh dengan pra duga kala itu. Namun untuk kali ini, perasaannya sepenuhnya kepada wajah gadis kalem yang dulu pernah menjadi temannya. Tetapi, teringat oleh nasibnya yang malang, membuat dirinya mantab memilih wanita itu.


Setelah berbasa-basi dan beramah tamah, Abi Ilyas segera memulai percakapannya, dengan menyampaikan maksud kedatangannya bersama rombongan.


"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh." salam abi Ilyas.


"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh." jawab serempak yang ada di ruangan itu.


"Kepada pak Yunus sekeluarga, kami sampaikan maksud kedatangan kami ke sini, yang pertama, kami bermaksud utuk bersilaturahmi. Dan yang kedua, ada maksud baik dari kami, bahwa kedatangan kami ke kediaman pak Yunus adalah, untuk mengkhitbah putri bapak, bernama Azizah untuk putra kami Arjuna Ramayana." kata abi Ilyas.


"MaasyaaAllah. Alhamdulillah, terimakasih banyak ustadz Ilyas sekeluarga yang berniat baik untuk bersilaturahmi ke kediaman kami. Beginilah keadaan tempat tinggal kami, kami mohon maaf jika ada sambutan kami yang kurang berkenan di hati ustadz Ilyas sekeluarga. Dan, untuk maksud ustadz yang kedua, kami selaku orang tua dari ananda Azizah Nur Hasanah, belum bisa memberikan jawabannya. Untuk jawabannya, sepenuhnya kami serahkan pada putri kami yang bersangkutan." jawab Pak Yunus.


"Namun, sebelum saya serahkan jawabannya kepada putri kami, ada hal penting yang harus ustadz dan keluarga tau, sebelum nantinya menjadi sebuah penyesalan." kata pak Yunus.


Arjuna menunduk, dia memang belum bercerita tentang masa lalu Azizah kepada keluarganya, karena memang tidak ada waktu. Begitupun dengan Azizah yang duduk di dalam ruang keluarga, mendengarkan perbincangan di tengah acara resmi itu, Azizah tau maksud abinya.


"Ustadz, ketahuilah, bahwa sesungguhnya putri kami yang ustadz maksud ini bukanlah seorang gadis." kata Pak Yunus. Seketika, umi Ulfa, Gusti, Hima dan tentunya abi Ilyas saling tatap. Tampak raut kegelisahan di wajah mereka. Dan mereka menatap Arjuna, orang yang akan menjalani hubungan itu.


"Putri kami seorang janda, dia dicerai oleh mantan suaminya. Namun, meski begitu, putri saya bilang, bahwa dia masih gadis. Dia belum pernah di campuri mantan suaminya. Dia belum pernah mendapatkan nafkah batin dari mantan suaminya, sehingga, jika nak Arjuna berkenan, beginilah keadaan putri kami. Dia masih gadis, tetapi statusnya sudah janda. Apakah keluarga ustadz ridho dengan status putri kami?" tanya pak Yunus.


Arjuna mengangguk.


"Saya sudah mengetahuinya, dan itu alasan saya memilihnya, dan mantab untuk mengkhitbahnya." jawab Arjuna.


Abi Ilyas mencoba meresapi setiap kata yang dia dengar, termasuk ucapan putranya.


"Ehm. Saya tau, yang menjalani ini adalah putra ustadz, tetapi keridhoan keluarga juga kami butuhkan ustadz." kata pak Yunus.


"Bismillah. InshaaAllah, ini yang terbaik bagi putra kami pak." jawab abi Ilyas.


"Baiklah, akan saya pannggilkan putri kami.Nak...keluarlah." titah pak Yunus kepada Azizah.


Azizah keluar dari dalam, lalu dengan menunduk, dan dituntun oleh uminya, Azizah duduk disamping abi dna uminya.


"Nak, bagaimana jawabanmu?" tanya Abi Yunus.


"Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah, Zizah menerima mas Juna sebagai suami Zizah." jawab Azizah dengan gemetar dan tetap menunduk.

__ADS_1


Seperti layaknya acara khitbah, Azizah di pakaikan cincin yang sudah Arjuna siapkan, dan cincin itu dipakaikan oleh umi Ulfa, setelah memakaikan cincin, umi Ulfa mencium dahi Azizah dengan penuh cinta.


Acara berlangsung lancar, Arjuna beserta rombongan diajak makan malam bersama oleh keluarga Azizah hingga akhirnya merekapun pamit kembali pulang ke pesantren.


__ADS_2