Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Rencana Abi


__ADS_3

"Assalamualaikum, Abi." salam Arjuna yang baru pulang dari masjid.


"Wa'alaikumsalam, Juna. Sini nak, duduk di sini." kata abi Ilyas sambil menepuk kursi tamu yang ada di sebelahnya.


"Kata mbak Hima tadi, Abi mencari Juna, ada apa abi?" tanya Arjuna.


"Iya. Abi mencarimu, abi ingin bicara sesuatu sama kamu. Urusanmu di masjid sudah selesai to? Apa masih ada kesibukan lain?" tanya abi Ilyas.


"Tidak abi, Alhamdulillah semua sudah selesai." jawab Arjuna santun.


"Umi, Tolong bawakan map yang tadi abi bilang. Ini Juna udah pulang." kata abi Ilyas memanggil istrinya.


"Ya abi." jawab umi Ulfa berjalan menuju ruang tamu dengan membawa benda yang dimaksud abi Ilyas.


"Juna, kamu sudah pernah mencoba daftar kuliah di mana saja? Sebelum akhirnya diterima di universitas negeri yang saat ini kamu belajari ini?" tanya Abi Ilyas.


"Ehm, Juna sudah pernah nyoba daftar di Al Azhar Kairo Mesir abi, tapi ga lolos seleksi, kemudian, daftar di Universitas di Arab saudi juga belum bisa diterima, kemudian daftar di Malaysia, juga tidak diterima. Akhirnya Juna memutuskan untuk daftar di universitas negeri di beberapa kota, Alhamdulillah, baru diterima yang di kota ini abi." kata Arjuna menjelaskan.


"Oh, berarti sudah mencoba ke Al Azhar Kairo ya?" tanya abi Ilyas.


"Sudah abi."


"Jalur beasiswa?" tanya abi Ilyas.


"Iya abi."


"Ehm, kalau misal kamu tetap lanjut kuliah di sana, mau ga? Kamu pindah dari kampus yang sekarang, dan kamu pindah ke Kairo." kata abi Ilyas.


"Ehm, ya kalau bisa sih, mau mau aja abi. Tapi, masalahnya, untuk kuliah di sana, butuh banyak biaya abi, kalau tidak jalur beasiswa. Lagipula disini juga bisa, Juna juga sekalian bisa menerapkan Ilmu Juna di persantren." kata Arjuna menjelaskan.


"Tapi, kalau ada yang bersedia membiayaimu? Apa kamu menolak?" tanya abi Ilyas.


"Maksud abi?" tanya Arjuna tak percaya.


"Ini, ada teman abi yang tertarik denganmu, dia sangat mendukungmu menjadi pimpinan pondok pesantren ini, dan dia ingin kamu belajar dulu di tempat yang baik. Salah satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir." kata abi Ilyas.

__ADS_1


"Abi serius?" tanya Arjuna.


"Serius Juna. Ini. Dia memberikan brosur dan formulir pendaftaran nya." kata abi Ilyas memberikan map itu kepada Arjuna.


"MaasyaaAllah. Abi? Inj serius? Juna bisa kuliah ke sana?" tanya Arjuna masih tak percaya.


"Iya Juna. Selamat ya." kata abi Ilyas.


"Terimakasih abi." kata Arjuna Girang.


"Jika kamu berminat, nanti kamu segera isi formulirnya, setelah itu kamu urus urusan kamu di kampus untuk mutasi, dan kamu ijin keluar dari tempat kerjamu, Dalam waktu satu bulan ini, kamu nanti akan abi urus kan untuk urusan paspor dan lainnya, kemudian kamu bisa berangkat bulan depan Juna." jelas abi Ilyas.


"Baik Abi."


Malam itu arjuna sangat bahagia. Impiannya untuk bisa kuliah di Al Azar Kairo Mesir akhirnya tercapai juga, meski bukan beasiswaku seperti harapannya, tetapi impinanya untuk kuliah tanpa biaya sendiri akhirnya terwujud.


"Alhamdulillah, yaa Allah." lagi lagi Arjuna memeluk map hijau itu sambil terus mengucap rasa syukur.


Keesokan harinya, Arjuna mengurus surat pengunduran dirinya di kantor Kirim paket tempat dia bekerja. Setelah selesai, hari berikutnya dia mengurus mutasi dari universitas negeri tempat dia belajar saat ini, menuju ke universitas impiannya.


💞💞💞


"Tu anak kemana ya? Udah beberapa hari jni dia ga nongol ke store. Apa dia sakit?" batin Anjani.


"Ambil paket." suara dari luar, lagi lagi membuat Anjani seketika melangkah ke depan.


"Oh. ya mas. Ini paketan nya." kata Anjani menyodorkan beberapa paketannya.


"Ya mbak." kata kurir itu sopan.


"Mas, kok sekarang yang ke sini, kamu terus? Mas Arjuna nya kemana?" tanya Anjani.


"oh, mas Juna mbak? Mas Juna udah seminggunan ini mbak ga masuk. Kalau kabar dari temen sih, katanya mas Juna udah keluar dari tempat kerjanya mbak." kata petugas kurir itu.


"Apa? Juna keluar? Kok ga bilang sih?" protes Anjani.

__ADS_1


"Ya mungkin karena sibuk mbak." kata kurir.


Anjanipun no komen lagi, dia kemudian mengurus paketannya, lalu masuk ke gudang barang dengan wajah penuh tekukan.


"Kenapa lo Jen?" tanya Zalva.


"Gapapa." jawab Anjani.


"Serius?" tanya Zalva.


"Juna udah ga pernah ke sini ya Va?" tanya Anjani, menghentikan Zalva yang sedang sibuk mengecek stok barangnya.


"Lo kangen Juna?" tanya Zalva.


"Ya engga juga... ya wajar kan gue nanyain dia?" tanya Anjani.


"Kenapa lo ga hubungi dia aja? Apa alasan dia ga ambil paket lagi?" usul Zalva.


"Ah, elo. Gengsi lah gue." kata Anjani.


"Pake gengsi gengsian segala lo." protes Zalva.


"Kemarin sih, pas elo abis diemin mas Juna, setelah pengajian waktu itu, mas Juna bilang dihari berikutnya, katanya dia udah ga bakal ke store lagi, karena dia akan resain." kata Zalva.


"Elo udah dikasih tau dia?" tanya Anjani terbelalak.


"Iya."


"Kenapa elo ga bilang sama gue?" protes Anjani.


"Emang masalah? Kan elo lagi ada masalah sama mas Juna? Makannya kalo mau dapet info itu, jangan suka marah tanpa sebab sama orang lain, dia bakal bingung salahnya apa." kata Zalva.


"Ehm, tapi kan, gue bos di sini." kata Anjani mencoba membekas diri.


"Dia akan ke sini, suatu saat nanti." kata Zalva tiba-tiba.

__ADS_1


"Tunggu aja." kata Zalva lagi.


"Ih, kenapa juga tu anak bilangnya cuma sama Zalva, kenapa aku engga? Dia ngehindari gue? " batin Anjani galau.


__ADS_2