
"Keluarga ibu Ulfa." panggil seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU, tempat umi Ulfa dirawat.
"Ya dok. Saya anaknya." jawab Arjuna langsung berdiri.
"Bisa ikut saya sebentar?" tanya dokter Anggun.
"Baik dok."
Sesampainya di ruangan dokter Anggun, Arjuna dipersilakan duduk.
"Begini mas, Ibu Ulfa mengalami cidera dibagian lengan kanannya. Ada tulang yang patah yang harus segera ditindaklanjuti dengan pemasangan pen." jelas dokter Anggun sambil menunjukkan hasil ronsen.
"Innalillahi... baik dokter. Tolong lakukan yang terbaik untuk ibu saya." jawab Arjuna.
"Hem...baik mas. Dan masih ada satu lagi mas yang harus segera dilakukan tindakan." kata dokter Anggun.
"Apa dok?" tanya Arjuna penasaran.
"Ibu Ulfa mengalami keguguran." kata dokter Anggun.
"Keguguran?" tanya Arjuna dengan terkejut.
"Ya mas." dokter Anggun mengangguk.
"Jadi, umi saya juga sedang hamil?" tanya Arjuna.
"Ya mas. Apakah keluarga juga belum tau jika ibu Ulfa sedang hamil?" tanya dokter Anggun.
Arjuna hanya menjawab dengan gelengan kepala. Dokter paham, karena usia kandungan ibu Ulfa juga belum besar, baru sekitar lima minggu. Dokterpun menjelaskan, bahwa pasien harus dikiret. Dan Arjuna mengiyakan saja, demi keselamatan umi nya, dan nanti baru akan dia sampaikan pada abinya yang tengah berada di tanah suci.
"Jun, gimana keadaan umi?"tanya Zulfi.
"Umi harus dioprasi dan di kiret." jawab Arjuna.
"Kiret?" tanya Zulfi heran.
Arjuna hanya mengangguk.
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Zulfi lagi.
"Umi lagi hamil." jawab Arjuna lemas.
"Innalillahi wainnailaihi Raji'un. Jadi umi keguguran, gitu?" tanya Zulfi menyimpulkan.
Lagi-lagi Arjuna hanya Mengangguk.
Arjuna kemudian memberi kabar pada eyang melalui mbak Hima selaku kakak sepupunya, dan memohon do'a untuk kelancaran oprasi umi nya.
💞💞💞
Sepanjang perjalanan pulang, Gusti tampak sumringah ditengah kelelahannya setelah perjalanan jauh.
"Ehem, kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nih." ejek Anjani pada kakaknya.
"Apaan sih dek." tepis Gusti.
"Ga usah bohong kak. Wajah kakak tu keliatan kali, kalo kakak tu jatuh cinta pada pandangan pertama." kata Anjani.
"Ih, terus aja ngatain aku anak kecil. Aku tu udah kuliah kakak, aku udah gede." kata Anjani dengan mengerucutkan bibirnya, karena tak suka disebut anak kecil.
"Hahaha, ngambek nih ceritanya." hibur Gusti.
Anjani masih diam dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ehm, btw, mbak Hima tadi, cantik ya dek. Kaya kamu juga cantik lho tadi, pake Jilbab." kata Gusti.
"Ehem... bener kan dugaan ku? kakak tuh jatuh cinta pada pandangan pertama." kata Anjani mulai semangat lagi.
"Kalau kamu pake jilbab, juga cantik lho dek. Serius." kata Gusti.
"Masak? Ehm, iya sih kak. Sebenarnya, sejak awal masuk kuliah tu, Jeni pingin berjilbab kaya temen yang lain. Tapi, rasanya masih kurang pantas aja gitu, abisnya sholat aja masih bolong-bolong." kata Anjani.
"Ya, siapa tau kan dek, kalau kamu berjilbab nanti, kamu jadi tambah rajin sholatnya." kata Gusti menimpali.
"Oh...apa gitu ya kak?" kata Anjani ga yakin.
__ADS_1
"Yap. Coba aja." kata Gusti menyemangati.
"Masak jilbaban buat coba-coba kak." komentar Anjani.
"Ya engga gitu maksudnya. Ya kamu belajar lah, sedikit-sedikit." ralat Gusti.
Sepanjang perjalanan merekapun membicarakan tentang jilbab, hingga sampai di rumah.
Saat keluar dari mobil, mama sudah menunggu kepulangan Gusti.
"Ya ampun sayang, kalian kemana aja sih? ada kendala ya di jalan? Sampe jam segini baru sampe rumah?" tanya mama khawatir.
"Hehe, iya mah. Maaf ya mah, udah bikin mama khawatir." kata Gusti sambil mencium punggung tangan mamanya dan memeluknya, melepas kerinduan yang cukup lama terpendam.
"Iya mah, maaf ya mah. Tadi panjang ceritanya, nanti deh, Jeni ceritain di rumah." kata Anjani sambil membawakan koper milik kakaknya.
Mereka bertiga pun masuk rumah, Dan Gusti segera masuk kamar untuk membersihkan diri, sedangkan Anjani menceritakan keterlambatan nya pulang kepada mama. Dan betapa mama sangat bersyukur karena memiliki dua anak yang berhati baik.
"Mah, menurut mama, kalau Jeni pake jilbab, gimana mah?" tanya Anjani sambil mengenakan jilbab yang tadi dipakainya di pesantren, pemberian mbak Hima.
"Oh my God sayang, asli kamu canti banget." puji mama sambil memegang kedua pipinya.
"Hehehe, kata kakak, Jeni suruh pake jilbab mah. Menurut mama gimana?" kata Anjani.
"Ide bagus sayang. Kamu keliatan tambah lebih dewasa kalau pake jilbab. Anggun sayang." puji mama.
"Jadi, mama juga setuju kalau Jeni pake jilbab mah?" tanya Anjani meyakinkan.
"Yap, mama setuju banget." kata mama bahagia.
Setelah mengobrol cukup lama dengan mama, Anjani dan mama Nitapun ke dapur untuk menyiapkan makan siang mereka.
💞💞💞
Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Seperti halnya berjilbab. Semoga, Anjani beneran berjilbab ya😍
Assalamualaikum para reader K3D, sangat lama saya belum up lagi untuk kelanjutan ceritanya. Karena author lagi repot ngurus si kecil yang sudah mulai aktif nih. Dan si kakak yabg suka minjam HP bundanya, sehingga author belum bisa fokus untuk update lagi. Mohon maklumnya ya...🙏
__ADS_1