
Disebuah bandara, tepatnya di ruang tunggu, tampak seorang gadis cantik, dengan rambut kuncir kuda dipadukan dengan sepatu kets berwarna putih, celana kulot abu tua, dan blouse panjang berwarna putih tulang, yang menambah kecantikan yang alami pada diri gadis yang tak terlalu suka bersolek itu. Gadis itu tampak asyik memainkan ponselnya, dengan menyilangkan kakinya. Saat terdengar suara dari pusat informasi, bahwa pesawat yang ditumpangi kakaknya sudah tiba, Anjani sudah mulai fokus menatap ke arah pintu masuk para penumpang yang baru turun dari pesawat.
"Kakak." gumamnya, tatapannya sejurus kemudian ke arah laki-laki yang sebutnya kakak, diapun melangkah tanpa peduli kanan kirinya.
Brugh....
"Eh, Sorry, sorry." kata Anjani spontan pada orang yang ditabraknya.
"Eh, Maaf." spontan orang itu juga menyampaikan hal yang sama.
Sekilas, mereka berdua saling menatap. Anjani menyadari, bahwa yang ditabraknya itu seorang laki-laki. Sedangkan laki-laki itu, seketika langsung menundukkan kepalanya dan menganggukkan kepala untuk ijin permisi lebih dulu. Anjani pun mengangguk, dan tersadar, bahwa kakaknya sudah tiba di dekatnya.
"Dek..." sapa Gusti.
"Kakak..." suara Anjani manja, langsung memeluk tubuh kekar kakaknya.
"Maaf kakak baru pulang. Lama nunggunya?" tanya Gusti sambil membelai kepala adiknya.
"Ya, lumayan sih kak. Tapi ga masalah, lagipula ini tadi sekalian COD sama Resellerku." kata Anjani menjelaskan.
"Cie... udah jadi pengusaha sukses nih kayaknya?" canda Gusti sambil menyentil dagu adiknya.
"Ih...apaan sih kak. Orang baru merintis kok." jawab Anjani merendah.
"Tapi bakal jadi pengusaha sukses kan?" kata Gusti lagi.
" Ya, semoga aja kak." jawab Anjani.
"Yuk langsung pulang aja, kakak udah kangen sama mama.
"Okey. Ayuk." jawab Anjani sambil memegang koper milik kakaknya.
Saat Anjani dan Gusti akan melangkah, tiba-tiba Gusti seperti menendang sesuatu di kakinya, diapun melihat ke bawah. Ternyata sebuah dompet kulit buaya, berwarna orange tua.
"Dompet." gumam Gusti.
__ADS_1
"Apa kak?" tanya Anjani.
"Dompet dek. Punya siapa ya?" tanya Gusti.
"Coba dibuka, pasti ada kartu identitasnya." kata Anjani.
Gusti pun membuka dompet itu. Ada beberapa kartu di dalamnya, dan beberapa lembar uang yang tak terlalu banyak jumlahnya. Dicarinya kartu identitas, dan akhirnya menemukan sebuah KTP.
"Arjuna Ramayana." gumam Anjani.
"Ini alamatnya ga jauh dari bandara dek. Kita langsung antar ke alamat ini aja." kata Gusti.
"Ga di serahkan ke petugas keamanan di sini aja kak? Biar disampaikan dari pusat informasi." usul Anjani.
"Masalajnya, ini pemilik dompet, masih disini apa engga. Bisa jadi dia udah pulang dek." kata Gusti.
"Udah, mending kita anterin aja ke alamt ini. Kasian kalo nyariin. Disini ga ada kartu Nama juga, jadi ga ada nomer yang bisa dihubungi." kata Gusti lagi.
"Okey kakak. Jani ngikut kakak aja deh." kata Anjani menurut.
💞💞💞
"Terimakasih pak." Kata Arjuna yang sudah turun dari ojek yang dia tumpangi. Namun, saat akan membayar, dia seperti sedang mencari-cari sesuatu.
"Berapa pak?" tanya Arjuna sambil menggeledah tas ranselnya.
"Dua puluh lima ribu mas." jawab tukang ojek.
"Ehm, pak sebentar ya. Ini kok dompet saya ga ada ya? Coba saya telpon teman saya dulu di dalem ya pak. Saya mintakan uang ke dia dulu. Tunggu sebentar ya pak." kata Arjuna sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi temannya yang mengantarkan uminya ke rumah sakit tempat dia berdiri saat ini.
"Oh, ya mas." jawab tukang ojek itu lagi.
"Halo. Assalamu'alaikum. Zul..." kata Arjuna pada orang diseberang telepon.
"Aku udah di lobi. Kamu tolong ke sini bentar ya. Bawa uang. Aku mau minjem dua puluh lima ribu buat bayar ojek."
__ADS_1
"Iya...dah buruan aja ke sini. kasian pak ojeknya, keburu ada penumpang lain yang nunggu."
"Okey, okey."
"Sebentar ya pak." kata Arjuna sungkan dengan tukang ojek.
"Gapapa mas. Semoga dompet nya segera ketemu mas, kalaupun hilang, semoga ditemukan sama orang yang bertanggungjaawab." lanjut tukang ojek.
"Aamiin. Terimakasih pak."
Tak berapa lama kemudian, teman Arjuna bernama Zulfi datang dengan membawa uang tiga puluh ribu, yang langsung diserahkan pada Arjuna.
"Makasih ya. Entar aku ganti deh." kata Arjuna sambil menerima uang dari Zulfi.
"Santai aja bro." kata Zulfi.
"Ini pak, kembaliannya buat bapak aja. Terimakasih sudah mau nungguin." kata Zulfi pada tukang ojek.
"Ohya. Terimakasih ya mas." kata tukang ojek, yang kemudian langsung pergi.
"Emang uang kamu kemana Jun? Kamu kecopetan?" tanya Zulfi sambil membantu membawakan koper milih sahabatnya, merekapun berjalan beriringan menyusuri koridor menuju ruang ICU tempat umi Ulfa di rawat.
"Engga tau juga. Aku ga sadar. Sadar-Sadar udah sampe di sini, dompetku ga ada." kata Arjuna.
"Yaa Allah Jun. Lain kali lebih hati-hati dong. Isinya apa aja?" tanya Zulfi.
"Kartu identitas, satu ATM, paspor, sama duit ga terlalu banyak sih... tebel cuma receh doang. Hahaha." jawab Arjuna santai.
"Ya ampun Jun... segera diurus aja itu. Biar ga disalahgunakan orang." kata Zulfi.
"Iya InshaaAllah." jawab Arjuna. Merekapun berjalan sambil mengobrol, Arjuna menanyakan kabar uminya, yang belum ada kabar apapun dari dokter. Setelah dipindah dari ruang UGD, hingga tak terasa, mereka telah tiba di ruang ICU.
💞💞💞
Allah sudah menentukan rejeki setiap hambaNya. Begitupun dengan harta yang diambil kembali oleh pemiliknya, ataukah dikembalikan oleh Allah kepada yang dititipiNya.
__ADS_1
Ehem...Alhamdulillah sudah ada tanda-tanda pertemuan Arjuna dan Anjani nih... Simak terus kisahnya ya.