
Waktu terus berlalu, sudah satu bulan Arjuna tinggal bersama om dan tantenya di pesantren. Dia memang anak yang cerdas dan aktif, selama tinggal di pesantren, Arjuna sangat suka ikut Pak Ilyas ke masjid, dan mengikuti setiap kajian yang diadakan pihak pesantren.
Kebetulan, Pak Hamid, selaku pemilik pondok pesantren, dan sekaligus ayah kandung dari ibu Ulfa, beliau sangat menyayangi Arjuna semenjak Arjuna tiba di pesantren. Begitupun dengan Bu Maryam, ibu kandung bu Ulfa, dia sangat kegirangan mendapat cucu yang pintar dan cerdas seperti Arjuna.
Kakak Ulfa yang pertama, putra putrinya sudah mengabdi di pondok pesantren lain, karena sudah dewasa. Sedangkan kakak keduanya,ikut suaminya ke Aceh, dan menetap disana. Dan Ulfa sendiri, baru beberapa bulan menikah dengan Ilyas, sehingga belum dikaruniai seorang anak.
"Abi, Juna kangen bu Erna dan bu Tutik." kata Arjuna pada om nya yang kini dipanggilnya Abi, atas permintaan istri Ilyas.
"Ehm, untuk saat ini, belum bisa sayang. Karena Abi masih banyak jadwal mengajar. InshaaAllah, nanti kalau sudah tiba waktu liburan ya nak." jawab Ilyas lembut.
"Ehm, baiklah abi." jawab Arjuna.
πππ
Sedangkan di tempat yang berbeda, tampak seorang gadis cantik yang tampak bersedih, berjongkok memainkan air di kolam ikan, yang berada di taman belakang rumah yang ditempatinya.
"Sayang, ayo makan dulu." ajak seorang wanita paruh baya dengan lembutnya.
"Jani ga mau makan Ma, Jani ga mau kakak pergi." kata Anjani dengan cemberut.
"Tapi sayang, kakak tetap harus pergi. Kakak harus lanjut sekolah, dan menggapai cita-citanya. 'Kan, kakak pingin jadi dokter, biar bisa bantuin orang sakit." kata mamanya anak kecil itu, yang bernama Nita.
"Pokoknya Jani ga mau makan, kalo kakak pergi!" kata Anjani sambil menangis, berdiri lalu berlari ke kamarnya.
"Hem..." desah mama Nita karena gagal membujuk si cantik untuk makan. Dia sangat khawatir dengan keadaan putrinya itu, karena sedari tadi malam, putrinya tak mau makan.
Mama Nita pun membuatkan susu untuk putrinya, dia tak habis akal, agar putrinya bisa mengisi perutnya yang kosong.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." suara yang tak asing di rumah itu. Suara seorang pemuda yang baru saja masuk rumah.
"Wa'alaikumussalam." jawab mama Nita.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga kak." lanjut mama Nita melihat anak laki-lakinya baru pulang.
"Iya mah. Maaf ya mah, tadi Gusti pamitan dulu sama teman-teman Gusti." kata Gusti sambil mencium punggung tangan mamanya.
"Memangnya kenapa mah?" tanya Gusti melanjutkan.
"Itu...adekmu. Anjani ga mau makan sedari tadi malam. Sejak kamu bilang kalau kamu mau pergi ke Luar Negeri untuk belajar." kata Mama Nita menjelaskan.
"Astaga. Jadi adek belum mau makan?" tanya Gusti terkejut, sambil melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Ini sudah menjelang Maghrib, dan adik kesayangannya masih mogok makan.
"Iya. Mama minta tolong, kamu bujuk dia ya biar mau makan. Kasihan kalau dia ga mau makan terus, perutnya bisa kosong, dia bisa sakit." kata mama Nita memelas.
"Adek di kamar. Makanannya, sebentar. Mama ambilkan dulu." kata mama Nita sambil beranjak ke dapur.
πππ
"Assalamu'alaikum sayang." sapa Gusti sambil membuka pintu kamar adik kesayangannya.
Tak ada jawaban dari pemilik kamar, tampak olehnya sosok gadis kecil yang tengah tidur tengkurap di kasur tempatnya. Gusti pun segera menghampiri adik kesayangannya dengan membawa semangkuk sup kesukaan adiknya.
"Dek, makan dulu ya. Kata mama. adek dari kemarin belum makan lho. Nanti kalau sakit, bagaimana?" kata Gusti mencoba merayu.
"Jani ga mau makan. Jani marah sama kakak." kata Anjani masih dengan ngambeknya.
__ADS_1
"Ow, jadi adek marah ya sama kakak? Ya udah, kakak minta maaf deh." kata Gusti.
"Abisnya kakak mau pergi ninggalin Jani. Jani kan ga mau ditinggalin kakak. Katanya, kakak akan selalu temenin Jani.", kata Anjani dengan manja dan tetap cemberut.
" Owh...jadi itu masalah nya, adek ga mau makan?" tanya Gusti sabar.
Anjani mengangguk mengiyakan.
"Ya udah, sekarang adek makan dulu ya. Kakak suapin deh... Terus, nanti abis makan, kita jalan-jalan. mau ga?" kata Gusti mencoba menghibur.
Anjani menggelengkan kepalanya.
"Adek maunya apa?"
"Maunya, kakak ga pergi." jawab Anjani dengan tertunduk.
"Okey... hari ini kakak ga pergi kok. perginya masih besok. Kalo adek mau ikut, besok adek ikut anterin kakak ke bandara ya. Sambil lihat pesawat." bujuk Gusti.
"Pesawat? Iya kak, Jani mau." jawab Anjani kegirangan.
"Okey, saatnya makan dulu. Makanannya jadi pesawat....." kata Gusti menyuapkan makanan ke mulut adiknya dengan gaya oesawat teebang.
πππ
Seorang kakak akan selalu menyayangi adiknya, meski dia tak pernah mengatakan "Aku sayang kamu adikku."
Maafkan author ya, sudah satu tahun tidak melanjutkan karya.... Alhamdulillah si adek bayi di dalem perut sudah lahir, tapi bukan kembar DampitβΊβΊ melainkan anak sholih... InshaaAllah... Terimakasih ya sahabat reader, yang sudah berkenan mendo'akqn author... baarokallahufik...π
__ADS_1