Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Duka


__ADS_3

Sore itu, Arjuna tampak sibuk mendata paket yang tertumpuk di kantornya, yang akan siap diambil truck paket. Tiba-tiba ponselnya berdering, tanda ada panggilan masuk.


📞Umi


Assalamualaikum Juna.


"Wa'alaikumsalam Umi, ada apa umi?"


Jun, bisa pulanh sekarang nak? Eyang jatuh.


"Innalillahi. Ya umi, Juna segera pulang. Tunggu ya umi." kata Arjuna sudah mulai panik.


Arjuna segera meminta ijin kepada bos nya, lalu segera mengambil motornya untuk menuju pesantren.


Sesampainya di pesantren, Arjuna segera masuk rumah mencari eyangnya, Eyang Maryam tampak lemah terbaring diatas ranjangnya yang ada di kamar, wajahnya pucat, ada lingkaran hitam di mata nya. Umi Ulfa menangis tersedu sedu dalam pelukan Abi Ilyas yang sempat menyambutnya, dan Ustadz Mumtaz sedang duduk disamping Eyang, lalu berdiri saat melihat Arjuna sudah tiba.


"Eyang, Ini Juna eyang." kata Arjuna lirih didekat telinga Eyang Maryam.


Eyang Maryam menoleh ke arah Arjuna, dan tersenyum, lalu mengangguk.


Tak berapa lama kemudian, Hima dan Gusti juga datang, mereka dikabari juga oleh umi Ulfa.


"Assalamualaikum. Eyang. Ini Hima, Eyang." kata Hima yang duduk di samping Arjuna. sambil memegang tangan eyang.


"Hima datang bersama suami dan anak Hima eyang. Ini buyut Eyang, dia sudah hadir Eyang, Hima Hamil eyang. Hima Hamil." kata Hima dengan penuh kesedihan.


Eyang Maryam membalas dengan senyuman, dan air mata tampak mengalir dari sudut matanya, Eyang Maryam dengan lemah, tangannya mengusap pipi Hima dan Hima merasakan kenikmatan sentuhan tangan eyang yang mulai keriput.


Semua orang yang ada dikamar itu memandang Gusti menuntut penjelasan, saat Hima menyampaikan bahwa dirinya hamil


"Eyang yang kuat ya." kata Hima lagi tanpa peduli dengan pandangan orang-orang disekitarnya.


Eyang Maryam tampak tersenyum, memandangi semua anak dan cucunya satu persatu.


Tampak mulut eyang berucap, Laailla haillallah berulang kali.


"Gusti, amankan istrimu. Eyang sudah tiba saatnya." kata ustadz Mumtaz.

__ADS_1


"Baik abah." jawab Gusti yang kemudian memeluk tubuh istrinya memberi isyarat agar dia berdiri dan berpindah tempat.


Kemudian ustadz Mumtaz dan abi Ilyas menuntuni Eyang Maryam, hingga akhirnya Eyang Maryam berpulang.


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." kata Abi Ilyas dan ustadz Mumtaz bersamaan, seketika para wanita yang berdiri di belakang mereka menangis bahkan menjerit.


"Eyang!" jerit Hima dengan tangisan nya yang menjadi, tubuhnya terhuyung memeluk tubuh kaku eyangnya, yang kemudian diikuti Gusti dari belakang, dipeluknya tubuh istrinya dari belakang.


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." gumam Arjuna dengan mata berkaca.


Umi Ulfa langsung berpelukan dengan putrinya Aisywa, mereka menangis menumpahkan segala rasa duka dan lara.


"Ilyas, segera siapkan segala perlengkapan untuk mengurus jenazah umi." titah Ustadz Mumtaz dengan mata berkaca, diapun tak luput dari kesedihan kehilangan seorang ibu.


"Ya mas." jawab Abi Ilyas segera pergi meninggalkan kamar Eyang.


"Juna, kamu kabarkan berita duka ini kepada seluruh warga pesantren." kata ustadz Mumtaz.


"Baik pakde." jawab Arjuna langsung keluar kamar.


Para wanita masih menangis di kamar eyang, Hima masih memeluk tubuh eyang nya yang kaku,dengan dipeluk Gusti.


"Sayang, sudah ya. Ikhlaskan Eyang, kasian Eyang, kalau kamu nangis terus." kata Gusti menenangkan.


"Gus." panggil Umi Ulfa.


"Biar umi yang dampingi Hima, kamu tolong keluar ya, bantu Arjuna, abi dan abah." kata umi Ulfa.


"Baik Umi." jawab Gusti.


"Umi, Hima hamil. Tolong jaga Hima ya umi, biar dia bisa mengontrol emosinya, kandungannya masih lemah." kata Gusti sebelum keluar kamar.


"Ya Gus." jawab umi Ulfa yang sudah paham.


🌾🌾🌾


Pesantren sedang berduka, semua santriwan dan santriwati sudah berkumpul di pendopo untuk turut serta mensholatkan Eyang Maryam. Selain santriwan dan santriwati, para ulama di kota itu yang mengenal sosok eyang Maryam, juga turut serta ta'ziyah dan mensholatkan eyang Maryam.

__ADS_1


"Jen, mbak Hima juga mau ikut nyolatin Eyang." kaya Hima lemah.


"Mbak Hima yakin, mbak kuat?" tanya Anjani.


"InshaaAllah kuat Jen." jawab Hima.


Acara mensholatkan jenazah sudah selesai, Tiba saatnya jenazah siap untuk diberangkatkan. Hima dipeluk erat oleh Anjani Yang datang bersama mama dan papanya. Sedangkan Umi Ulfa yang juga lemas, didampingi Umma Dina, istri ustadz Mumtaz.


"Mohon untuk Ustadz Mumtaz, Ustadz Ilyas, Ustadz Arjuna dan Dokter Gusti, bisa bersiap untuk mengangkat keranda." kata salah seorang petugas pengurusan jenazah.


Mereka berempat berjalan tanpa kata, dan berusaha untuk tegar dalam memanggul jenazah orang yang mereka cinta.


Saat mereka berjalan keluar pesantren, semua para ta'ziyah dan ta'ziyin serta keluarga menangis melepas kepergian orang nomer satu di pesantren itu.


"Eyang!" teriak Hima lagi sambil meronta, Hima segera ditenangkan Anjani.


"Nak Jeni, tolong tenangkan Hima, dia sedang hamil." kata umi Ulfa.


"Mbak Hima hamil?" gumam Anjani.


Umi Ulfa mengangguk.


"Tolong beri dia pengertian." katanya lagi.


"Baik umi." jawab Anjani.


Anjanipun mendekati Hima.


"Mbak, kita duduk dulu ya." kata Anjani.


Hima menurut, lalu mereka duduk berdua di sebuah kursi dekat pendopo.


"Mbak, kata Umi, mbak hamil ya?" tanya Anjani.


Hima mengangguk.


"Tadinya, mbak mau kasih kejutan buat eyang tapi malah justru mbak yang kena kejutan dari eyang." kata Hima sambil menangis.

__ADS_1


"Mbak harus bisa mengkondiaikan emosi mbak, mbak ga boleh sedih berlarut, jaga kondisi mbak, kasian adek diperut mbak ." kata Anjani


"Eyang pasti bahagia, melihat buyutnya sehat."kata Anjani menyemangati.


__ADS_2