Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
K3D 6


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Arjuna tumbuh menjadi anak yang berparas tampan, santun, sholih dan baik hati. Selain itu, dia juga cerdas dan sangat mudah menerima pelajaran.


Sepuluh tahun sudah Arjuna diasuh oleh ibu Tutik, ARTnya bu Erna, tetapi dalam pengawasan dan semua kebutuhannya ditanggung oleh ibu Erna. Mengingat bu Tutik adalah seorang janda yang sudah jauh dari anak-anaknya karena mereka telah berkeluarga, Maka bu Erna mempercayakan asuhan Arjuna kepada bu Tutik, dan KK nyapun ikut bu Tutik. Arjuna di rawat dan diasuh bu Tutik di rumah tempat tinggal bu Norma dan pak Ma'ruf, karena mengingat rumah itu khawatir jika tidak terawat. Namun bu Tutik masih setia dan bekerja di rumah bu bidan Erna sebagai Asisten Rumah Tangga.


Suatu hari, datang seorang laki-laki bersama seorang wanita berjilbab lebar, berkunjung ke rumah yang ditempati Arjuna dan bu Tutik.


"Bi, Abi yakin ini rumahnya?" tanya wanita itu.


"Iya Mi, Abi yakin. Ini alamatnya sesuai kok sama yang dituliskan Norma." kata Laki-laki itu.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum." sapa Laki-laki itu sopan.


Tak menunggu waktu lama, salam mereka mendapat jawaba dari dalam rumah.


"Wa'alaikumussalam. Ya Sebentar." jawaban dari dalam.


Kemudian pintu terbuka.


"Ya, ada apa ya? Ada yang bisa kami bantu?" tanya bu Tutik sopan.


"Ehm, maaf bu. Apa benar ini kediaman bapak Ma'ruf dan ibu Norma?" tanya laki-laki itu.


"Ehm, maaf. Bapak dan ibu ini siapa ya?" bu Tutik belum menjawab tetapi justru balik bertanya.


"Perkenalkan, nama saya Ilyas, dan ini istri saya Ulfa. Kami kemari untuk memastikan, apakah benar ini tempat tinggal adik saya Norma. Saya kakak kandungnya Norma bu." jawab Ilyas sopan.

__ADS_1


Mendengar pengakuan itu, bu Tutik sangat terkejut. Karena selama ini, bu Tutik mengira bahwa bu Norma dan pak Ma'ruf adalah orang yang tidak punya sanak keluarga.


"Ehm, begitu? Ehm, iya. Benar, ini memang kediaman bapak Ma'ruf dan ibu Norma." kata bu Tutik sedikit gugup.


"Alhamdulillah. Kita ga salah ya Mi." kata Ilyas sambil tersenyum pada istrinya.


"Alhamdulillah. Iya Bi." jawab Ulfa.


"Ehm, maaf bu. Bisakah kami bertemu dengan Norma?" tanya Ilyas yang sudh tak sabar ingin melepas rindu dengan adiknya.


"Oh ya pak. Sebelumnya, silakan masuk dan duduk dulu pak bu Sebentar, saya ke belakang dulu." kata bu Tutik sopan.


Diruang tamu yang sangat sederhana itu, Ilyas dan Ulfa memonitor sekeliling ruangan. Dan pandangan Ilyas terhenti di sebuah foto pernikahan. Ilyaspun tersenyum memandang foto itu.


"Abi, apakah ini anak mereka ya?" tanya Ulfa saat melihat sebuah bingkai foto anak bayi yang sangat lucu sedang tengkurap.


"Oh iya mungkin Mi, karena memang abi udah lama banget ga ketemu dan berkabar sama mereka." kata Ilyas.


"Mari pak, bu. Silakan diminum dulu." kata bu Tutik sambil meletakkan bawaannya di atas meja tamu.


"Terimakasih bu." jawab Ilyas dan di senyumi oleh Ulfa.


"Panggil saja saya bu Tutik, pak, bu." kata bu Tutik.


"Ow, ya bu Tutik. Terimakasih." jawab Ilyas lagi.


"Oya, maaf. Ma'ruf sama Norma dimana ya bu? Apakah mereka bekerja?" tanya Ilyas lagi sambil duduk di tempat duduk yang sudah disediakan

__ADS_1


"Ehm, tidak pak. Sebelumnya, saya mohon maaf. Kami tidak bermaksud lancang, tapi kami benar-benar tidak tau bahwa bu Norma masih punya saudara." Kata bu Tutik memulai dengan perasaan bingung.


"Ada apa bu? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ilyas penasaran.


"Begini pak, pak Ma'ruf sudah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu." kata bu Tutik terhenti.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un...Ma'ruf..." gumam Ilyas seketika wajahnya berubah sendu.


"Beliau meninggal karena kecelakaan di lokasi bencana, pak. Saat itu beliau membantu mengevakuasi dan mengamankan para korban bencana, namun qodarullah, justru beliau tidak terselamatkan. Beliau terseret arus banjir dan tertimbun material tanah longsor." cerita bu Tutik dengan berkaca-kaca.


"Astaghfirullahal'adzim." gumam Ilyas dan Ulfa bersamaan.


"Saat itu, bu Norma sedang hamil tua pak. Bu Norma hamil tujuh bulan. Sungguh saat itu bu Norma benar-benar down. Beliau kami tanya, adakah keluarga yang bisa dihubungi Ternyata keluarga besarnya semua memblokir nomernya, sedangkan nomer abangnya yang kata beliau biasa membantunya, saat itu sedang tidak aktif. Sehingga kami para tetangga dan bu bidan Erna serta pak RT membantu menjaga bu Norma hingga tiba saat persalinan."


"Ternyata, saat di USG, bayi bu Norma kembar dampit pak. Sehingga, saat akan melahirkan, bu Norma sangat kepayahan, karena beliau di rumah seorang diri. Lalu, saya di telpon bu Norma, langsung saja kami bawa bu Norma ke rumah sakit. Tak menunggu waktu lama, kedua bayi kembar iti telah lahir dengan sehat dan selamat pak."


"Alhamdilillah. Berarti, itu yang dibingkai foto, adalah anak Norma bu? Tetapi kenapa hanya satu?" tanya pak Ilyas.


"Abi, sabarlah dulu. Ceritanya kan belun selesai." kata Ulfa mengingatkan suaminya.


"Iya pak. Itu putranya bu Norma dan pak Ma'ruf. Namanya Arjuna." kata bu Tutik. Dalam benaknya dia belum kuat untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Owh MaasyaaAllah. ganteng sekali." kata Ulfa.


"Tapi...."


"Tapi apa bu?" tanya Ilyas dan Ulfa penasaran.

__ADS_1


__________________


Terimakasih sudah berkenan membaca cerita saya. jangan lupa tinggalkan jejak ya...😍


__ADS_2