Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Pernikahan


__ADS_3

Setelah percakapan di taman kota, Anjani dan Kaisar pulang. Kaisar segera pulang ke rumahnya, dan memberikan kabar gembira pada orangtuanya. Begitupun dengan Anajani yang juga segera mengabarkan pada papa mama dan Kakaknya, Gusti. Papa dan mama Anjani sangat bahagia mendapat kabar itu. Dan hari berikutnya, keluarga Kaisar datang ke rumah Anjani untuk melamar Anjani.


Acara lamaran telah berjalan dengan lancar, jauh berbeda dengan kejadian beberapa bulan lalu. Anjani sudah bertukar cincin dengan Kaisar.


Kesepakatan hari pernikahan sudah langsung ditetapkan. Pekan depan, Kaisar dan Anjani akan menjalani nikah kantor, dan tiga hari setelahnya, mereka akan menikah secara resmi menurut agama dan negara.


Mengingat usia Kaisar yang sudah tak lagi muda, serta mengingat kejadian beberapa waktu lalu, membuat keluarga Anjani memutuskan untuk menikahkan Anjani sesegera mungkin.


"Selamat ya bro." kata Gusti menepuk pundak Kaisar.


"Thank's bro." kata Kaisar.


"Oya bro, apa Juna udah dikabarin?" tanya Kaisar.


"Ya udah lah. Dia 'kan wali nya Jeni. kemarin pas ditelpon, memang dia ga bisa hadir diacara lamaran kalian, tapi Juna bilang, dia akan berusaha untuk datang diacara pernikahan kalian. Karena Juna yang akan menikahkan kalian." kata Gusti.


"Apa Juna fine fine aja?" tanya Kaisar.


"Ya jelas dia fine, kalo ga, malah dosa lah." kata Gusti.


"Gue masih ga enak hati sama dia." keluh Kaisar.


"Kenapa?" tanya Gusti.


"Karena Jeni dan Juna kan..."


"Itu dulu. Kini mereka sudah sadar diri, kalau mereka itu saudara. Bahkan Juna adalah orang yang bertanggungjawab atas Jeni." kata Gusti.


"Ehm, gitu ya?"


"Iya. Udahlah, udah mau kepala empat juga, ga usah kikir aneh-aneh, yang penting lo udah mau nikah, abis itu langsung aja belah duren, biar Jeni cepet hamil dan elo punya anak. Kasian anak elo nanti, waktu sekolah papanya udah tua!" ejek Gusti.


"Hm...terus aja terus. Ejek aja terus. Tua tua gini, gue tipikal suami setia dan penyayang." kata Kaisar membela diri.


"Serah lo dah." kata Gusti.


💞💞💞


Hari pernikahan telah tiba, pagi itu Anjani baru saja menyelesaikan ibadah sholat subuh. Lalu terdengar suara pintu diketuk.


Tok tok tok


"Ya, masuk aja." kata Anjani.


Suara pintu kamar terbuka, lalu mama Nita datang menghampirinya.


"Jen."


"Ya mah?"


"Ehm, di bawah ada tamu." kata mama Nita.


"Siapa mah?" tanya Anjani.


"Juna dan keluarganya." kata mama Nita.


"Oh... itu bukan tamu mama, itu keluarga kita." ralat Anjani dengan wajah tenang.

__ADS_1


"Kamu...baik-baik saja kan?" tanya mama Nita.


"Emang kenapa?"


"Sejak kejadian waktu itu, kalian kan belum pernah ketemu lagi." kata mama Nita.


"Siapa bilang?" kilah Anjani.


"Lho, emang kalian udah pernah ketemu?"


"Udah. Waktu mama sama papa ke rumah nenek." jawab Melati.


"Oh..."


"Ya udah mah, Jeni temui mereka dulu." Kata Anjani.


"Iya sayang."


Anjanipun menemui keluarga pak Ilyas. Anjani segera mencium punggung tangan Umi Ulfa, menelungkupkan kedua tangan di d ada saat dihadapan pak ilyas, dan terakhir, dia mencium punggung tangan Arjuna dengan cukup lama. Arjuna mengusap pucuk kepala Anjani. Lalu Anjani menghambur ke dalam pelukan Arjuna.


"Mas..." suara Anjani terdengar sedang menangis.


"Selamat ya." kata Arjuna menciumi pucuk kepala Anjani.


Tak bisa dipungkiri, rasa yang dulu pernah ada tak sepenuhnya bisa hilang begitu saja. Anjani dan Arjuna masih terasa kikuk menjadi kakak adik. Namun Arjuna berusaha menepis semua rasa yang ada.


"Aku yang akan menjadi wali nikahmu nanti." kata Arjuna.


Anjani hanya mengangguk.


"Aamiin. Semoga mas Juna juga segera menemukan bidadari mu mas." kata Anjani.


"Aamiin." jawab Arjuna.


Lalu Anjani melepas pelukannya, dan mengusap air matanya dengan kedua tangannya.


"Jeni jangan khawatirkan Juna, karena dia tak akan lama lagi juga akan menyusulmu." kata Umi Ulfa.


Anjani menoleh ke arah Umi Ulfa dan ke arah Arjuna secara bergantian.


"Sungguh?" tanya Anjani.


"Umi? Sama siapa aku nyusul?" tanya Arjuna yang merasa belum pernah menjalani hubungan dengan wania manapun.


"Kata adalah do'a. Aamiin kan saja, siapa tau beneran terjadi." kata Umi Ulfa santai.


Abi Ilyas hanya geleng-geleng dengan ulah istrinya.


"Ya sudah, sekarang kamu dandan yang cantik, nanti mas Juna ga mau lihat adik mas kusam kaya begini pas mas ijabin." kata Arjuna memegang pundak adiknya.


"Ya mas."


Lalu Anjani pun diantar Umi Ulfa ke ruang rias. Tim MUA sudah datang, sehingga Anjani segera melakukan ritual pada umumnya seorang calon pengantin sebelum ijab qobul.


💞💞💞


"Saudara Kaisar Rubiyanto bin Haris Rubiyanto, saya nikah kan dan kawinkan anda, dengan adik kandung saya Anjani Ramayanti binti Amar Ma'ruf, dengan maskawain emas lima puluh gram dan uang senilai lima puluh ribu rupiah, dibayar tunai!" kata Arjuna selaku wali nikah Anjani.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Anjani Ramayanti binti Amar ma'ruf dengan maskawin tersebut dibayar tunai." jawab Kaisar lantang.


Kemudian bapak penghulu bertanya pada para hadirin dan saksi.


"Bagaimana para saksi? sah?"


"Sah..." jawab serempak para hadirin.


Anjani mencium punggung tangan Kaisar dengan khidmad, dan tangan kiri Kaisar diletakkan pada ubun-ubun Anjani.


Setelah selesai prosesi ijab qobul, Anjani dan Kaisar duduk di kursi pelaminan, dengan pendampingan orang tua mereka.


"Mas Juna?" suara seorang wanita mengagetkan Arjuna yang akan kembali ke kursi keluarga di depan pelaminan.


"Ehm... kamu?" Arjuna tampak sedang mengingat-ingat sosok gadis di depannya.


"Aku Zizah mas." kata Azizah.


"Zizah?" Arjuna tampaknya masih belum ingat betul.


"Teman kajian. Saya salah satu anggota Ikatan Remaja Masjid Hidayah, deket kampus." jawab Azizah.


"Oh, Zizah? Ya ya, aku ingat sekarang. Maaf, tadi sempat lupa, dan pangling juga sih, kamu berbeda." kata Arjuna pada Azizah saat mengetahui tampilan Azizah yang lebih modis. Jilbabnya tak selebar dulu, wajah nya pun tampak lebih kurus, tidak setembem saat mereka bertemu dalam acara kajian bedah buku saat itu.


"Ehm, wajar sih mas kalo pangling." ujar Azizah dengan wajah yang tak berubah.


"Apa kabar?" tanya Arjuna.


"Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik." jawab Azizah.


Kening Arjuna mengernyit.


"Sekarang sudah lebih baik? Apa maksudnya? Apakah sebelumnya dia sedang tidak baik-baik saja?" batin Arjuna.


"Mas..."


"Eh, ya?" Arjuna tergagap karen lamunannya.


"Kapan-kapan boleh ngobrol ga?" tanya Azizah.


"Oh, ya, boleh boleh." jawab Arjuna.


"Nomernya mas Juna masih aktif apa sudah ganti?" tanya Azizah.


"Masih sama." jawab Arjuna.


"Boleh minta lagi ga mas? Soalnya aku udah ganti nomer." kata Azizah.


"Boleh."


Kemudian Arjuna mendikte nomer HPnya dna dicatat Azizah di ponselnya, laku Azizah miscall Arjuna, sehingga nomer Azizah sudah masuk di ponsel Arjuna.


"Di save ya mas." kata Azizah.


"Okey." jawab Arjuna.


Kemudian Azizah mohon diri untuk melanjutkan kegiatannya. Begitupun dengan Arjuna yang juga kembali ke tempatnya setelah tadi dia pergi ke toilet

__ADS_1


__ADS_2