
Setelah makan malam bersama, Arjuna bermaksud mengutarakan niat baiknya pada Abi Ilyas dan Umi Ulfa.
"Abi, Umi. Maaf, Juna mau bicara serius sebentar, bisa?" tanya Arjuna yang menarik perhatian penghuni rumah yang ikut serta makan bersama.
"InshaaAllah bisa Juna, ada apa?" tanya abi Ilyas.
"Ehm... Juna... Juna mau minta ijin untuk mengkhitbah seseorang abi." kata Arjuna.
Seketika, semua orang menatap Arjuna meminta penjelasan lebih lengkap.
"Alhamdulillah, baru pulang dari luar negeri, sudah mau mengkhitbah saja kamu nak. Siapa gerangan gadis beruntung yang menarik hatimu untuk meminangnya?" tanya Abi Ilyas, yang sebenarnya sudah tau, tetapi beliau tidak ingin salah dugaan.
"Ehm..." Arjuna menoleh ke arah Gusti.
"Adiknya mas Gusti bi." jawab Arjuna.
Gusti terkejut, ternyata dugaannya benar.
"Jeni?" tanya Gusti.
Arjuna mengangguk.
Abi Ilyas tersenyum, Begitupun umi Ulfa, beliau juga tersenyum dengan maksud Arjuna.
"Alhamdulillah." jawab Abi Ilyas.
"Bentar paklik, emang boleh nikahin ipar?" tanya Gusti yang masih tak habis pikir dengan dugaannya.
"Arjuna dan Hima itu saudara sepupu, mereka berbeda orangtua. Jadi, dibolehkan bagi mereka untuk menikah. Yang tidak boleh menikah itu, jika mereka saudara yang masih mahrom." kata abi Ilyas.
"Oh. gitu?" jawab Gusti.
"Emang, ga boleh ya mas, kalo Juna suka sama adiknya mas Gusti?" tanya Arjuna.
"Eh, ya boleh lah, boleh banget malah. Cuma, mas ragu aja, kan mas nikahin mbakmu." kata Gusti.
"Hima ini anak dari saudaranya umi Ulfa, sedangkan Arjuna ini, anak dari saudara abi, Gusti. Hanya saja, memang mereka berdua ini sejak kecil sudah bersama, karena memang, sejak ibunya Hima meninggal, Hima lebih memilih tinggal bersama eyang dan bersama buliknya." kata abi Ilyas.
"Oh, begitu?"
"Kapan rencana kamu mau mengkhitbah Jeni, Jun?" tanya mbak Hima.
"Secepatnya mbak. Juna ngikut apa kata abi aja." jawab Arjuna sambil menoleh ke arah abi Ilyas.
"Sepertinya sudah tidak sabar ini, setelah empat tahun lamanya berpisah." goda umi Ulfa. Arjuna hanya tersenyum malu.
"Oya bi, umi baru ingat. Abi masih ingat ga? Kita dapat pesan dari bu bidan Erna, kalau nanti Arjuna akan melamar seorang gadis, beliau minta untuk diajak." kata umi Ulfa.
"Oh, iya umi. Abi ingat."
__ADS_1
"Bu bidan Erna bilang gitu umi? Kenapa umi?" tanya Arjuna.
"Ya, walau bagaiamanapun juga kan, bu bidan Erna itu yang sudah mengasuhmu sejak kamu baru lahir sampai umur sepuluh tahun Jun, ya ga ada salahnya dong kalau beliau mau ikut dihari bahagiamu." kata umi Ulfa.
"Ehm, iya juga sih." kata Arjuna.
"Besok pagi, kamu ke bu bidan Erna dulu ya Jun. Sorenya, kita ke rumah pak Pratama untuk mengkhitbah putrinya." kata abi Ilyas.
"Besok paklik?" tanya Gusti yang justru kaget.
"Lebih cepat lebih baik bukan?" tanya abi Ilyas.
"Iya sih." jawab Gusti.
"Baik bi." jawab Arjuna.
"Nah, sekarang, masalahnya, Hima sama mas Gusti harus berada diposisi mana paklik?" tanya Hima yang bingung dengan posisi mereka sebagai kakak dari kedua orang yang akan lamaran.
"Kalian di rumah Pak Tama saja, dari keluarganya Juna nanti sudah banyak kok." kata abi Ilyas.
"Baik Paklik." jawab Hima.
"Juna, sudah ada cincin untuk mengkhitbah?" tanya abi Ilyas.
"Sudah abi, kemarin pas di Kairo, Juna beli di sana." jawab Arjuna.
"Mantul. Manteb betul persiapannya, keliatan niat banget." komentar Gusti.
"Pantesan, Beberapa hari lalu, Jeni tampak bahagia banget. Ternyata sudah dapet sebuah janji dari seseorang." kata Gusti.
Mereka pun berbincang untuk persiapan esok hari dalam acara bersilaturahmi ke rumah pak Pratama. Gusti segera memberi kabar pada keluarganya di rumah papanya, dan kabar itu menjadi kabar bahagia bagi keluarga Anjani.
💞💞💞
"Jen, Jeni." panggil mama Nita dari luar kamarnya.
"Ya ma?" jawab Anjani sambil membuka pintu kamarnya.
"Ada kabar gembira untukmu sayang." kata mama Nita dengan penuh senyuman.
"Apa ma?" tanya Anjani penasaran.
"Besok, kamu dandan yang cantik ya sayang. Karena besok akan ada tamu yang datang ke rumah." jawab mama Nita.
"Maksud mama?" tanya Anjani masih tak habis pikir.
"Mama tau, selama ini kamu tak mau di jodoh-jodohin, kamu suka dingin sama cowok. Ternyata ini jawabannya?" goda mama Nita.
"Apa sih mah? Jeni ga ngerti."
__ADS_1
"Kamu suka kan sama Juna? Anaknya pak ustadz Ilyas, adiknya Hima?" tanya mama Nita.
Seketika Anjani terkejut, darimana mamanya tau tentang hubungannya dengan Arjuna. Anjani tak pernah bercerita tentang Arjuna kepada siapapun, termasuk kakaknya sendiri. Orang yang tau hubungan Anjani dengan Arjuna hanya Zalva. Dan, kabar apa yang diterima mama Nita, sehingga besok dia harus dandan yang cantik?
"Bentar ma, mama bilang besok akan ada yang mau datang ke rumah. Maksud mama, Juna?" tanya Anjani.
"Yup." jawab mama Nita.
"Juna mau ke sini ma?" Anjani masih tak percaya.
"Iya." jawab mama Nita dengan anggukan yang meyakinkan.
Anjani tak dapat berkata apa-apa. Jantungnya berdetak begitu kencang. Dia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Secepat ini ka Jun? Kamu kan baru datang tadi siang, kenapa besok kamu udah mau ke rumah?" batin Anjani.
"Ehem, gimana?" tanya Mama Nita.
"Eh, iya mah." jawab Anjani.
"Sejak kapan kalian ada hubungan khusus?" tanya Mama Nita.
"Ah? Heh? Ehm... kapan ya ma?" jawab Anjani gugup.
"Kapan?" tanya mama Nita lagi sambil menyenggol lengan putrinya.
"Iih, apaan sih ma." kata Anjani malu-malu.
"Kapan?" tanya mama Nita sambil mengangkat kedua alisnya.
"Udah lama ma, sejak mbak Hima sana mas Gusti nikah." jawab Anjani.
"Oh My God, Udah lamaa juga ternyata ya?" gimam mama Nita.
"Kok ga pernah cerita sama mama sih?" tanya mama Nita.
"Malu mah."
"Biasanya juga kamu suka cerita lho, kenapa pas sama Juna malah engga?" tanya mama Nita.
"Gapapa mama,,, ya malu aja." jawab Anjani.
"Kamu tau ga? Mama tu malah ngiranya kamu tu ada some think sama Kaisar lho." kata mama Nita.
"Lhoh? Kok Kak Kaisar sih?" tanya Anjani heran.
"Ya karena kamu deket sama dia, dan dia sampe sekarang juga belum nikah-nikah. Mama kira dia nungguin kamu." kata mama Nita.
Seketika Anjani malah teringat oleh sahabat kakaknya itu. Ya, sepeninggal Arjuna, Kaisar datang dari Irian Jaya, dan dia menemui Anjani, dan sempat menanyakan tentang asmara nya Anjani. Kala itu, Anjani hanya menjawab, bahwa dirinya masih menunggu seseorang, dan Kaisar hanya menjawab oh saja.
__ADS_1
"Apa, kak Kaisar sebenernya juga suka sama aku?". batin Anjani.