
Hay para Reader, mohon maaf ya. lama tidak update. Karena keadaan Author yg masih lemas, Alhamdulillah Author dipercaya Allah lagi untuk mengemban amanah lagi untuk mengandung anak ke dua. Ini masih telerΒ²nya, mohon tambah do'anya ya semoga saya dan calon bayi saya sehat selamat sampai persalinan. Harapannya sih jangan senasib sama Norma... Tapi pinginnya punya anak seperti Norma, sekali ngelahirin dua anak dengan jenis kelamin yang berbeda...hehe. mau nya ya ...ππ
πππ
"Tapi apa bu?" Kembali Ilyas menanyakan kelanjutan kata-kata bu Tutik.
"Tapi, Qodarullah pak. Allah tidak mengijinkan bu Norma merawat kedua anaknya seorang diri tanpa suami. Melainkan Allah ingin bu Norma melanjutkan perjalanannya bersama sang suami." kata bu Tutik yang masih berbelit-belit dalam bercerita.
"Ma...Maksud bu Tutik???" tanya Ulfa sambil menutup mulutnya yang terbuka karena kaget.
"Ya bu. Bu Norma menyusul pak Ma'ruf setelah melahirkan, karena beliau mengalami pendarahan serius." kata bu Tutik sudah mulai berlinang air mata.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un..." Ilyas terhuyung ke sandaran kursi dengan lemas.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un..." kata Ulfa.
"Lalu, dimana anak-anaknya bu?" lanjut Ulfa bertanya.
"Yang putri sudah diarobsi salah satu pasien yang juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan bu Norma, namun pasien itu kehilangan putrinya. Sehingga bu Erna selaku penanggungjawab putra putri bu Norma menawarkan bayi putrinya bu Norma, agar pasien itu tidak depresi karena kehilangan putrinya. Maafkan kami yang sudah lancang. Karena semua ini kami lakukan karena kami benar-benar tidak tau keberadaan sanak keluarga ibu Norma pak, bu." kata Bu Tutik.
"Lalu, anak laki-lakinya?" tanya Ilyas yang sudah tidak sabar.
"Alhamdulillah, anak laki-lakinya bu Norma, yang bapak lihat di bingkai foto itu. Dia yang kami rawat di rumah ini. Dan sekarang usianya sudah sepuluh tahun. Dia tumbuh menjaei anak yang cerdas, tampan dan sangat santun. Semoga dia menjadi anak yang sholih." kata bu Tutik berbinar.
__ADS_1
"MaasyaaAllah... Terimakasih atas keterangannya bu." kata Ilyas bahagia.
"Ehm, maaf bu bolehkah saya merawat putranya Norma?" tanya Ilyas.
"Untuk hal itu, bapak lebih berhak daripada kami, karena bapak adalah ahli warisnya. Tetapi untuk iya atai tidak nya, nanti saya tanyakan langsung pada anaknya, dan saya tanyakan dulu pada bu Erna, selaku penanggungjawab anak itu." jawab bu Tutik.
"Oya, baiklah bu. Bolehkan kami bertemu dengan bu Erna dan anak itu?" tanya Ilyas lagi.
"Jam segini bu Erna masih tugas di puskesmas pak. Kemungkinan nanti pulangnya sekitar jam empat. Kalau Arjuna, harusnya ini sudah pulang, mungkin sebentar lagi pak." kata bu Tutik.
"Arjuna?" tanya Ulfa.
"Iya bu, anak laki-laki itu bernama Arjuna. Itu adalah nama yang sudah disiapkan oleh ayahnya. Pak Ma'ruf."
"MaasyaaAllah..." kata Ulfa.
"Assalamu'alaikum. Bu..." suara anak laki-laki itu memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam, Arjuna. Kamu kenapa baru pulang? kamu tidak apa-apa kan?" tanya bu Tutik mengecek seluruh tubuh Arjuna dengan wajah khawatir.
"Arjuna gapapa bu. Ibu tenang saja. Arjuna tadi tidak sengaja bertemu bu guru TK nya Arjuna, terus ditanya-tanya sama bu guru. Terus Arjuna diajak makan di warung. Terus ini tadi dianterin pulang." kata Arjuna.
"Yaa Allah. Syukurlah kalau kamu gapapa. Oya, di dalem ada tamu tuh. Ayo masuk, temui dulu tamunya." ajak bu Tutik.
__ADS_1
"Siapa bu?" tanya Arjuna penasaran.
"Nanti kamu juga akan tau." kata bu Tutik.
Saat Arjuna dan bu Tutik masuk, seketika Ilyas dan Ulfa menoleh kearah anak yang berjalan disamping bu Tutik. Dan betapa bahagianya mereka, bisa melihat anak kandung Norma yang tumbuh sangat baik. Anak itu berparas tampan dan berkulit putih, matanya sangat mirip dengan mata Norma.
"Assalamu'alakum tante, om." sapa Arjuna sopan.
"Wa'alaikumussalam." jawab Ilyas dan Ulfa bersamaan.
Ilyaspun berjalan menghampiri anak dari adiknya. Dia merendahkan tubuhnya untuk menyetarakan wajahnya dengan wajah keponakannya itu.
"Hai anak sholih, perkenalkan. Nama om, Ilyas. Dan itu istri om, namanya tante Ulfa." kata Ilyas memperkenalkan diri.
"Hai Om, tante. Namaku Arjuna Ramayana. Arjuna senang bisa berkenalan sama om sama tante." kata Arjuna ramah.
Merekapun melanjutkan dengan bercengkrama dengan sesekali bercanda. Bu Tutikpun menjelaskan kepada Arjuna tentang siapa Ilyas dan Ulfa. Dengan senang hati Arjuna menerima mereka, justru Arjuna sangat bahagia bisa bertemu dengan sanak keluarga aslinya.
"Arjuna, mau nggak ikut om sama tante? Om sama tante tinggal di Pesantren, kalau Arjuna mau, nanti disana akan banyak teman. Dan Arjuna juga bisa belajar mengaji di sana." kata Ulfa antusias.
"Pesantren? Mau tante. Arjuna mau banget." kata Arjuna kegirangan.
"Iya bu, Arjuna dari dulu pingin sekolah pesantren katanya. Tapi karena usianya masih terlalu dini, jadi kami berencana akan mengirim Arjuna ke pesantren nanti kalau sudah kelas empat atau kelas lima SD." kata bu Tutik.
__ADS_1
"Nah kalau ikut kami, tidak harus menunggu usianya cukup bu. Karena, Arjuna kan akan menjadi anak kami." kata Ilyas.
Setelah percakapan itu, Ilyas dan Ulfa mengajak Arjuna jalan-jalan terlebih dahulu sambil menunggu bu Erna pulang dari kerjanya.