
Malam itu, setelah sholat isya' di masjid, Juna duduk memandang langit di teras masjid. Pandangannya ke langit, tetapi pikirannya kembali pada kejadian tadi siang. Dimana dia melihat gadis yang disukainya jatuh, ditangkap seorang laki-laki asing, lalu mereka justru tampak sangat akrab, bahkan senyum dan tawa gadis itu lepas tanpa beban. Juna senang melihat senyuman itu, tetapi ada sesuatu yang membuatnya kurang senang, karena senyuman itu terbentuk bukan karenanya, melainkan karena orang lain.
"Ehem. Juna." sapa Gusti.
"Eh, mas Gusti." jawab Gusti sambil menciu. punggung tangan kakak iparnya.
"Sendirian aja?"
"Iya mas. Biasanya, kalau abis isya' gini, saya tasmi' Qur'an sama santri, tapi malam ini diliburkan dulu." jawab Juna.
"Oh, begitu?"
"Oya mas Gusti, boleh nanya sesuatu?" tanya Juna.
"Boleh. Silakan." jawab Gusti sambil membenahi duduknya untuk lebih akrab dengan adik iparnya.
"Ehm, mas. Apa tadi ada tamu istimewa mas, disaat resepsi?" tanya Arjuna.
"Tamu istimewa?" gumam Gusti mengingat ingat.
"Iya mas. Yang tadi tampak akrab sama Jeni." kata Arjuna lagi.
"Owh, itu? Iya, itu namanya Kaisar, iya dia itu istimewa banget buat saya dan keluarga, dan tadi tu surprise banget, karena kita ga nyangka dia bakal datang." kata Gusti berbahagia.
"Ehm, gitu ya?"
"Kaisar itu sahabat saya. Dia memang sangat dekat dengan keluarga saya, karena sejak kecil, saya sama Kaisar udah deket banget. Dulu, rumah kami bersebelahan, Kaisar suka ngajak main Jeni juga, dia sayang banget sama Jeni, kaya adiknya sendiri. Terus kita pindah rumah, dan saya masih tetap satu sekolahan sama dia, jadilah Kaisar masih sering main ke rumah, main sama saya dan Jeni. Yah, kalo dibilang, Kaisar itu udah kaya saudara sendiri." kata Gusti dengan senyuman lebar.
"Owh, kirain calon adik iparnya mas Gusti. Abisnya mereka berdua akrab banget." komentar Arjuna malu-malu.
"Hahaha, engga Jun. Kaisar sama Jeni bisa seakrab itu, ya cuma sebatas kakak adik. Kebetulan mereka udah sekitar sepuluh tahun ga ketemu, jadi tadi mereka bisa saling melupakan rasa rindunya." kata Gusti lagi.
"Owh, emang kak Kaisar itu sibuk apa mas?" tanya Arjuna lagi.
__ADS_1
"Dia sekarang menjadi abdi negara Jun, Jadi Ternyata angkatan Darat, kini dia bertugas di luar jawa, kalau ga salah saat ini di Lombok." kata Gusti.
"Ehm, gitu ya? Kirain pacarnya."
"Jeni udah jomblo beberapa waktu ini, belum lama ini, dia abis putus dari pacarnya. Pas kemarin saya tanya, katanya mereka ga bakal bersatu lagi, karena Cowoknya yang ga setia." kata Gusti lagi.
"Dia abis putus?"
"Iya Jun, tapi dia tipe gadis yang cukup mudah untuk move on kok. Kayaknya, kini dia lagi suka baper sama cowok." kata Gusti.
"Ehm, gitu?"
"Kenapa Jun? Kamu naksir sama adik mas?" goda Gusti.
"Ah, engga mas." jawab Arjuna dengan wajah bersemu merah, karena gelagatnya terbaca oleh lawna bicara.
"Santai aja Jun, gapapa kok kamu suka sama dia. Lagian ni, biar persaudaraan kita semakin erat. Mas dukung pokok nya." kata Gusti.
"Hahaha, mas Gusti ini, ada ada aja. Ya mana mau Jeni sama saya mas? Saya aja cuma anak santri gini." kata Arjuna.
"Engga mas, saya mau fokus kuliah dulu, saya ga mau pacaran mas, saya maunya kaya mas Gusti, sekali suka, langsung dilamar, trus dihalalin." kata Arjuna dengan bercanda.
"Oh, ya bagus dong kalo gitu. Sangat meyakinkan bro. Dah, pokoknya kalau Juna butuh bantuan mas buat deketin Jeni, mas Siap bantu, seperti saat kamu usahakan untuk persatuan mas dan mbakmu Hima." kata Gusti sambil menyenggol pundak Arjuna.
"Hahah, ya mas. Terimakasih." jawab Arjuna kalem.
"Eh, btw, mas Gusti ga dicariin mbak Hima?" lanjut Arjuna.
"Oiya, ya Allah, sampe lupa kalau dah punya istri yang nunggu di rumah." kata Gusti sambil menepuk keningnya.
"Wah, mas Gusti nih, dikira mbak Hima nanti, mas lagi i'tikaf." kata Arjuna.
"Iya ya. Hadeh, malam pertama malah aku tinggalin gimana sih ni?" omel Gusti pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ya udah Jun, mas pulang duluan ya. Ingat, kalau butuh bantuan, jangan sungkan." pesan Gusti sebelum melangkah meninggalkan teras masjid.
"Ya mas, terimakasih." jawab Arjuna sambil geleng-geleng kepala dengan tingkah kakak ipar barunya.
💞💞💞
Pagi itu, pengurus pesantren sudah di sibuk kan dengan urusan persiapan keberangkatan acara ngunduh mantu di sebuah hotel ditengah kota.
"Ehm, udah keren belum ya kalo gini?" gumam Arjuna sambil menata rambutnya.
"Ehem ehem. Cucu Eyang ini, sudah ganteng kok, masih dandan aja. Mau nganterin pengantin, apa mau cari jodoh sih ini?" komentar eyang Maryam.
"Ah, eyang ini ada ada saja. Ya nganterin pengantin lah eyang. Kan acaranya di hotel, sebisa mungkin, Juna harus menyesuaikan penampilan kan? Biar ga bikin malu keluarga nya mas Gusti." kata Arjuna beralasan.
"Kamu ini, bisa aja. Ya udah ayo, segera ke pendopo ya, semua sudah berkumpul di sana untuk sarapan." kata Eyang Maryam.
"Ya Eyang."
Arjunapun berjalan sambil menuntun eyangnya menuju pendopo. Merekapun sarapan bersama sebelum mengantarkan pengantin ke hotel.
Saat semua rombongan sudah masuk mobil, mobil keluarga belum bisa jalan, karena Arjuna belum masuk mobil.
"Bi, ayo, keburu terlambat." kata Umi Ulfa.
"Arjuna mana mi?" tanya abi Ilyas.
"Oiya, kemana dia?" kata Umi Ulfa baru sadar.
"Tadi sih, katanya ada yang ketinggalan di kamarnya." kata eyang Maryam.
"Coba Aisywa cari dulu ya mi." kata Aisywa, adiknya Arjuna, anak kandung dari Abi Ilyas dan Umi Ulfa.
"Oh, iya sayang, tolong cari masmu ya." kata umi Ulfa.
__ADS_1
Sebenarnya, Arjuna kemana ya? Kok sampai belum masuk mobil?
Tunggu bab berikutnya ya😉