
"Ehem, Jeni." panggil Zalva yang ketigakalinya sambil menepuk pundak Anjani.
"Eh, Zalva. Ah, elu ngagetin aja." omel Anjani.
"Hem, udah jelas ni, ngelamun ni pasti." tebak Zalva dengan mulut manyun.
"Engga, gue ga ngelamun." elak Anjani.
"Ga ngelamun gimana? Gue manggilin elo udah tiga kali nona, tapi ga lo respon. Apa itu namanya kalo ga ngelamun? Hah?" omel Zalva.
"Ya sorry, sorry." kata Anjani yang mengalah karena sudah ketauan dirinya memang sedang melamun.
"Kenapa sih lu? Daritadi kaya lagi ga konsen gitu?" tanya Zalva.
"Gapapa." jawab Anjani cuek.
"Serius gapapa? Hem... gue tau. Pasti elu ngarepin si mas Kurir ganteng itu datang kan?" tebak Zalva.
"Maksud lo?" tanya Anjani masih sok jaim.
"Halah, udah. Ga usah ngeles. Gue tau kali, kalo elo tu lagi mikirin mamas Juna." kata Zalva.
"Engga kok. Siapa bilang?" kilah Anjani.
"Gue yang bilang." jawab Zalva.
"Ish, dasar." tukas Anjani mendorong punggung Zalva.
"Kenapa? Cerita dong." kata Zalva duduk menghadap sahabatnya.
"Kenapa apanya?" tanya Anjani masih pura-pura tidak mengerti.
"Juna. Elo mikirin dia kan?" tebak Zalva.
"Ih, engga Va, serius. Gue sama sekali ga mikirin tu cowok. Gue malah kepikiran sama eyang." kata Anjani yang akhirnya mau terbuka.
"Eyang? Maksud lo, Eyang Maryam? Eyangnya mbak Hima, sekaligus eyangnya mamas Juna?" tanya Zalva.
Anjani mengangguk.
"Kepikiran gimana?" tanya Zalva penasaran.
"Jadi, gue kan ga ada hubungannya sama beliau ya, tapi, kenapa ya, sejak kemarin tu, gue kaya kehilangan beliau gitu. Ngerasa ada sesuatu yang terikat gitu. Tapi gue juga ga ngerti Va." kata Anjani.
"Perasaan lo aja kali Jen, secara kan, elo deket tuh sama mbak Hima, dan elo juga deket sama Juna, ya, siapa tau kan, emang elu sama Juna tu jodoh, kalian sehati. Juna sedih, elo juga ikutan sedih." kata Zalva.
"Ish, apaan sih lo Va, gue ga ada urusan dan hubungan apapun sama si Juna itu. Kita cuma temen kok, ga lebih."kilah Anjani.
"Yah,terus aja berkilah, diembat orang, baru tau rasa lu." omel Zalva.
__ADS_1
"Ya biarin diambil orang. Apa urusannya sama gue?" lagi-lagi Anjani masih bersikap Jaim.
"Serah lu dah." kata Zalva.
🌾🌾🌾
"Juna." panggil umi Ulfa.
"Eh, Umi. Ada apa umi?" tanya Arjuna.
"Kok sendirian aja di sini? Ngelamun ya?" tanya umi Ulfa sambil duduk disebelah Arjuna.
"Engga kok Umi. Cuma lagi pingin sendiri aja." kata Arjuna.
"Kenapa?" tanya umi Ulfa yang tau ada sesuatu yang sedang di fikirkan putranya.
"Ehm, ga kenapa-kenapa kok Umi." jawab Arjuna meyakinkan.
"Yakin? Cerita dong." kata umi Ulfa lagi.
"Ehm, tentang eyang umi." kata Arjuna.
"Apa Eyang sudah memberitau semua tentangmu?" tanya umi Ulfa.
Arjuna mengangguk.
Umi Ulfa menarik napas dalam, dan dikeluarkan perlahan.
"Tapi, ini terlalu berat umi."
"Seperti kata eyang, jika kamu butuh bantuan, jangan sungkan bilang sama umi dan abi. Kami siap bantu." kata Umi Ulfa.
"Oya Jun, kamu ga masuk kuliah hari ini?" tanya umi Ulfa.
"Tidak umi, Juna masih belum siap." kata Arjuna dengan wajah melo.
"Dan kamu juga ijin kerja?" tanya Umi Ulfa.
"Iya Umi."
"Jangan terlalu larut dalam kesedihan ya, Eyang disana pasti akan ikut sedih jika kamu bersedih, ayo bangkit dan wujudkan mimpimu." kata Umi Ulfa menyemangati.
"Iya umi. Terimakasih."
"Ya udah, umi tinggal ke dapur dulu ya. Mau bantu para ustadzah dan para santriwati nyiapin acara do'a bersama untuk eyang." kata Umi Ulfa.
"Ya Umi. Silakan." jawab Arjuna ramah.
"Jangan ngelamun ya." kata Umi Ulfa lagi, sambil berjalan meninggalkan Arjuna.
__ADS_1
"InshaaAllah umi." jawab Arjuna lagi.
Sepeninggal Umi Ulfa, Arjuna segera beranjak dari tempatnya duduk. Dia segera menuju masjid, untuk bertadarus dulu, agar hatinya lebih tenang. Sambil menunggu waktu adzan ashar tiba.
🌾🌾🌾
Satu pekan sudah berlalu, Acara tujuh hari kepergian Eyang Maryam juga sudah selesai dilaksanakan.
Pagi itu, Arjuna tampak sedang bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat.
"Duh, Ustadz Gantengnya Al-Amin nih, pagi-pagi gini udah rapi bener, mau kemana sih? Ehm, ini hari ahad kan ya?" goda umi Ulfa saat melihat Arjuna tampak puter kanan puter kiri, pasang peci, sisir rambut di depan cermin.
"Eh, umi. Assalamualaikum umi." kata Arjuna yang tak menyadari uminya sudah berdiri di ambang pintu sejak tadi, lalu segera mencium punggung tangan uminya dengan penuh hidmad.
"Wa'alaikumsalam Juna. MaasyaaAllah, udah wangi juga. Tumben? Mau kemana sih? Biasanya juga cuma pake jubah putih aja, ini kok, tumben bercelana dan pake koko, ga ikut kajian ahad pagi di pesantren?" tanya Umi Ulfa.
"Oiya, sampe lupa. Afwan ya umi, Juna ga bisa ikut kajian ahad pagi, Juna diminta jadi moderator acara kajian remaja di masjid deket kampus Juna, Umi." kata Arjuna.
"Owh, pantesan. Kajian remaja ya? Hem..." goda Umi Ulfa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ehm, Iya Umi. Afwan ya umi. Gapapa kan Umi Juna ijin, Kemarin Juna udah bilang kok sama abi, dan pakde, kalo hari ini Juna pamit ga bisa ikut ngurusin kajian ahad pagi." kata Arjuna yang ketakutan jika Umi Ulfa kecewa.
Umi Ulfa yang melihat raut wajah Arjuna pun jadi merasa geli sendiri, sambil tersenyum Umi Ulfa menjawab,
"Iya Juna, santai aja. Kan sudah dibilangin, kamu itu bebas mau mengisi waktu week end ku dengan apapun, bebas, asalkan dalam koridor yang baik dan manfaat. Karena kami tau, kalau jam terbangmu itu lebih jauh dari kami. Urusan pesantren, biar kami yang tua-tua ini yang mengurus. Berangkatlah nak, sukur sukur nanti pulang bawa nama akhwat yang siap untuk kami temui orangtuanya." kata Umi Ulfa dengan diakhiri kata-kata untuk menggoda anaknya.
"Hem, umi nih, endingnya gitu." kata Arjuna tersipu malu.
"Hahaha, Juna Juna. Ya wajar dong umi berharap gitu, setiap kata kan do'a, ya umi sekalian berdoa supaya ustadz gantengnya al-amin ini bisa segera dapet jodoh." kata Umi Ulfa lagi.
"Juna mau fokus kuliah dulu umi." jawab Arjuna sambil merapikan barang bawaannya.
"Menikah itu ga harus udah lulus kuliah, Juna. Selama udah siap, baik materi, fisik dan calonnya, kenapa nunggu lama-lama? Tinggal berangkat aja lah." kata Umi Ulfa memberi wejangan.
"Hem, Bismillah. Semoga dimudahkan ya Umi. Ya udah, Juna mau pamit dulu umi." kata Arjuna mencium punggung tangan umi Ulfa lagi.
"Hem, ya udah, hati-hati ya nak. Pokoknya, kalau udah siap, segera aja lah, kenalin dia sama umi dan abi. Kami siap bertemu wali nya." kata Umi Ulfa masih menggoda Arjuna.
"Iya umi. Siap. InshaaAllah." jawab Arjuna.
"Oyaa, kamu ga sarapan dulu, Jun?" tanya Umi Ulfa saat sudah di luar kamar Arjuna.
"Juna puasa umi." jawab Arjuna.
"Oh. ya. Ya udah. Semangat, semoga sukses acaranya." kata umi Ulfa.
"Aamiin." jawab Arjuna.
🌾🌾🌾
__ADS_1
Hai Reader, terimakasih sudah mengunjungi novel kebtiganya Dede, semoga suka ya.