Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
K3D10


__ADS_3

Keesokan harinya, Seperti janjinya kemarin pada adik tercinta, Gusti mengajak Anjani ikut serta mengantarnya ke bandara, bersama mama dan papanya.


"Kakak..." panggil Anjani dengan mata berkaca-kaca, saat sosok pahlawannya berbalik badan dengan jaket kulitnya melangkah menuju pesawat.


Tiba-tiba Anjani menghabur dalam pelukan kakaknya, yang sudah membalikkan badan ketika dipanggil adiknya.


Mata Gusti tak dapat membendung air matanya. Dia terasa sangat lemah saat itu, ketika harus melihat adik tercintanya menangis iba memeluk kedua kakinya yang hendak melangkah.


"Kakak, jangan tinggalin Jani." tangis Anjani menjadi.


Kedua orangtua Anjani segera berlari memeluk tubuh mungil Anjani, dan mencoba untuk menariknya dari kaki anak sulungnya.


"Kakak....!!!" jeritan Anjani sambil tangannya melambai pada kakaknya yang terpaksa terlepas dari kaki kakaknya yang kian menjauh.


Mama Nita dan Papa Agus mengangguk memberi jawaban pada anak sulungnya, yang merasa khawatir pada keadaan adiknya. Gusti terpaksa melangkah menjauh, dan semakin jauh dari adiknya yang masih bersimpuh dalam tangisannya yang berhasil menjadi pusat perhatian orang-orang disekitar mereka.


"Maafkan kakak dek." batin Gusti sambil terus melangkah menuju pesawat. Tangisan dan teriakan adiknya tak lagi dihiraukannya, karena akan menjadikan hatinya lebih perih lagi.


Sedangkan Anjani yang sudah mulai lelah, karena teriak-teriak dan mengamuk, kini dia mulai lemah, dalam pelukan papanya. Anjani pun di gendong papa Agus menuju mobil. Tak dihiraukannya suara dan tatapan sinis para pengunjung Bandara yang sedang berlalu lalang melihat adegan putrinya yang sedang meluapkan emosinya.


"Huhuhu... kakak...huhuhu." Anjani masih terus menangis di dalam mobil, dengan keadaan yang lebih tenang.


Mama berniat untuk mencoba menenangkan putrinya, namun mendapat isyarat dari suaminya yang duduk di depan, agar dia membiarkan putrinya menangis, mengekspresikan emosinya. Mama Nita pun mengerti, dan diapun mengangguk pada suaminya melalui kaca di depan. Karena jika Anjani menangis, dan diusik tangisannya, maka yang ada dia akan semakin mengamuk dan menangis bertambah keras. Maka mama papa nya memilih diam, membiarkan putrinya terus menangis.


Sesampainya di rumah, Anjani segera keluar dari mobil, lalu berlari menuju kamarnya, tanpa menghiraukan kedua orangtuanya. Anjanipun meluapkan seluruh perasaan nya di atas kasur.


💞💞💞


"Alhamdulillah. Terimakasih dok." kata Ulfa setelah diperiksa dokter.


"Sama-sama bu. Ini vitamin yang harus ibu konsumsi ya, bisa diambil di ruang obat." kata dokter Anggi.

__ADS_1


"Baik dok. Sekali lagi, terimakasih dokter." kata Ilyas mewakili istrinya.


Setelah keluar dari ruang periksa, Ilyas segera mendampingi istrinya sampai di rumah. Mereka segera memberi kabar gembira untuk Arjuna dan kedua orangtuanya.


"Arjuna, Sini nak." kata Ilyas meminta Arjuna menghampiri mereka yang sudah duduk di ruang tamu.


"Ya abi." jawab Arjuna bersama Eyangnya. Karena Saat Ilyas dan Ulfa periksa ke dokter, Arjuna dititipkan Eyangnya di rumah.


"Bagaimana hasilnya nak?" tanya bu Maryan pada Ilyas dan Ulfa.


"Alhamdulillah bu... Ulfa hamil bu." kata Ulfa berbinar sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Alhamdulillah..." seru bu Maryam dan Arjuna bersama.


"Jadi, Juna mau jadi kakak ya mi?" tanya Arjuna berbinar.


"Iya sayang. InshaaAllah." jawab Ilyas dengan senyum tulusnya.


"Umi. Kata Eyang kalau ibu hamil itu ga boleh capek-capek. Nanti, untuk semua pekerjaan rumah, kalau abi bertugas, biar Juna aja yang beresin." kata Arjuna semangat.


"Yaa ampun sayang, tidak masalah. Selama kehamilan umi baik-baik saja, Umi masih diperbolehkan mengerjakan pekerjaan rumah, yang ringan-ringan." jawab Ulfa bahagia.


"Iya sayang. Lagipula, memangnya Juna bisa memasak?" tanya Ilyas.


"Hehe, belum sih. Tapi, Juna akan belajar bi. Sama Eyang. 'Kan masakannya Eyang enak bi." kata Arjuna lagi.


"MaasyaaAllah, anak pintar. Baarokallahufik sholih...Eyang bangga sama kamu." kata Eyang Maryam mengelus kepala Arjuna penuh cinta.


"Aamiin yaa Robbal'Alamin... terimakasih Eyang. Semoga Eyang sehat selalu." kata Arjuna kembali mendo'akan Eyangnya dengan tulus.


Merekapun bercengkrama membahas kehamilan Ulfa. Hingga larut malam.

__ADS_1


"Juna, istirahat lah dulu nak. Hari sudah malam. Besok kamu harus sekolah." kata Ilyas.


"Baik abi." jawab Arjuna sambil beranjak dari duduknya.


"Assalamu'alaikum abi, umi." salam Arjuna pada kedua orangtuanya.


Arjunapun diantar Eyangnya ke kamar, untuk beristirahat.


"Istirahat lah nak. Eyang sayang Juna." kata bu Maya mengusap kepala Arjuna.


"Terimakasih Eyang. Eyang juga istirahat ya. Biar sholatnya tidak kesiangan." kata Arjuna pada bu Maryam.


"MaasyaaAllah, anak hebat." puji bu Maryam pada cucu angkatnya.


"Assalamu'alaikum Eyang." salam Arjuna pada bu Maryam.


"Wa'alaikumussalam warohmatullah anak sholih." jawab bu Maryam.


💞💞💞


Di dalam kamar, Arjuna tampak merenung. Dia belum bisa tidur. Ada sesuatu yang mengusik hatinya.


"Alhamdulillah yaa Allah. Umi sudah hamil, itu berarti, Abi dan Umi akan punya anak kandung." gumam Arjuna sambil melihat langit-langit kamarnya.


"Apakah aku masih akan tetap menjadi anak abi dan umi?" lanjutnya.


"Aku harus bisa mandiri. Karena aku sudah tidak punya ayah dan ibu. Sedangkan aku di sini ikut dengan abi dan umi, mereka bukan orangtua kandungku." kata Arjuna lagi.


"Bismillah, setelah lulus MI nanti, aku akan ikut belajar di pondok pesantren saja. Aku ga akan merepotkan abi dan umi lagi. Mereka sudah banyak membantuku. Ehm... dimana ya kira-kira? Coba deh, besok aku tanya-tanya mas Fauzan." kata Arjuna mendapat ide. Diapun melantunkan beberapa amalan sebelum tidur. Hingga akhirnya dia tertidur pulas.


💞💞💞

__ADS_1


Berawal dari sebuah keterpakasaan, akan menjadi suatu kebiasaan. Begitulah waktu dan pengalaman mengajarkan kita arti hidup yang sesungguhnya. Kita tunggu kelanjutan cerita Kisah Kasih Kembar Dampir ya Sobat...🤗💝


__ADS_2