Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Memupus Rasa


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Arjuna kembali terisak oleh kenyataan yang ada. Dia mengambil foto bayi kembar yang di berikan oleh bu Erna kepadanya saat dia masih kecil.


"Maafkan aku Jeni, aku benar-benar teledor." kata Arjuna dalam tangisan nya.


"Tidak seharusnya aku bertindak gegabah seperti ini. Agar diantara kita tidak ada yang tersakiti. Aku minta maaf." kata Arjuna lagi sambil memeluk foto itu.


Pintu kamar Arjuna yang tidak terkunci terbuka, dan sosok abi Ilyas muncul dari mulut pintu. Abi Ilyas segera duduk disamping Arjuna, dan menepuk punggungnya. Abi Ilyas menarik napas dalam, dan mengeluarkannya perlahan.


"Abi tau, bagaimana perasaanmu saat ini." kata abi Ilyas menatap lekat putra angkatnya.


Arjuna kembali terisak dengan kepala tertunduk.


"Juna terlalu terburu-buru abi. Juna sudah mengikuti bisikan syaitan, Juna khilaf abi, beruntung sekali bu Erna menyadarkan Juna. Juna salah abi, Juna salah." kata Arjuna dengan menangis sesenggukan. Abi Ilyas menarik tubuh Arjuna ke dalam pelukannya.


"Setiap manusia, pasti memiliki salah dan khilaf nak, Alhamdulillah, Allah masih menyayangimu dengan mengingatkanmu bahwa gadis yang kamu cintai adalah saudara kandungmu sendiri. Wallahu'alam, apa yang akan terjadi jika bu Erna tidak ikut serta, mungkin kalian akan tetap menjalani pernikahan dengan status pernikahan terlarang." kata abi Ilyas.


"Allah masih menyelamatkan kalian." lanjutnya.


"Juna teledor abi, harusnya Juna tidak menyepelekan pesan terakhir eyang. Harusnya Juna tidak hanya mencari informasi tentang Jeni hanya dari mas Gusti. Ternyata mas Gusti ga tau apa-apa dengan apa yang terjadi pada waktu kami lahir." kata Arjuna lagi dengan menangis dalam pelukan abinya.


"Iya, abi paham. Ya sudah, sekarang kamu ambil air wudlu dulu, sholat lah, tenangkan pikiranmu. Lalu kita makan malam bersama ya. Abi tunggu di ruang makan." kata Abi Ilyas kepada Arjuna.


"Iya abi, terimakasih." kata Arjuna.


💞💞💞

__ADS_1


Di kamar Anjani, Anjani tergugu dengan wajahnya di sembunyikan di belakang kakinya yang dilipat. Terdengar suara jendela yang terbuka, Anjani menoleh ke sumber suara dengan mata sembab.


"Kakak...." panggil Gusti.


Gusti yang berasa jadi maling, yang masuk secara diam-diam lewat jendela kamar adiknya, segera menghampiri adik kesayangannya.


Dia peluk Anjani dengan penuh kasih sayang. Air mata yang tertahan, akhirnya lolos juga dari kedua mata Gusti. Dia elus pucuk kepala adiknya dengan lembut, dia ciumi kepala adiknya dengan penuh cinta.


"Sabar." kata Gusti sambil menahan air matanya.


"Papa jahat kak..." kata Anjani dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidang kakaknya.


"Gue bukan anak papa. Gue bukan anak mama. Gue bukan adik lo kak...." kata Anjani masih dengan tangisan syok.


"Kakak mengerti." kata Gusti. Gusti tak mampu berkata-kata, lidahnya kelu. Hatinya juga hancur, karena selama ini, kedua orangtuanya telah membohonginya. Dia teringat kala mama dan papanya pulang dari rumah sakit sambil membawa adik bayi. Dia sangat bahagia kedatangan adik perempuannya. Dia ciumi adik mungil nya dengan penuh cinta, hingga kini mereka sudah sama-sama dewasa, Kasih sayang Gusti tak pernah pupus. Dia selalu mencintai adik kesayangannya.


"Huhuhu... kakak tau kan, betapa aku sangat mencintai Juna, bahkan aku rela menunggu dia kembali. Aku menunggu dia empat tahun kak, aku menutup diri dari pada lelaku di luaran sana, karena apa kak? Karena Juna kak. Karna aku cinta sama Juna kak. Tapi kenapa, kenapa Juna justru ga bisa menikahi aku? Kenapa dia yang harus jadi saudara kembar ku? Kenapa semua ga aku ketahui sejak dulu kak? Kenapa? Kenapa kenyataan ini ga hadir saat aku belum ada rasa apapun sama Juna kak? Kenapa kak? Kenapa kak?" kata Anjani sambil terus memukuli dada bidang Gusti.


"Iya, kakak paham. Kamu yang sabar. Ga ada yang mau ada diposisimu Dek, semua inginnya sesuai dengan praduga kita, tapi, qodarullah, Allah bukakakn semuanya sekarang, sebelum semuanya terlambat. Kamu yang ikhlas, ini kenyataannya Dek, Kamu, adalah saudara kembar Juna, dan kalian akan selalu bersama, selalu dalam cinta. Cinta adik dan kakak." kata Arjuna memegang pundak Anjani dan mencoba untuk menyadarkan Anjani.


"Huhuhu...." tangisan Anjani masih terua terdengar.


"Kakak percaya, kamu pasti bisa lalui semua ini. Mereka melakukan semua ini, pasti ada alasannya. Pasti." kata Gusti.


"Tapi kak... Gue udah terlanjur cinta sama Juna kak." kata Anjani lagi.

__ADS_1


"Iya, cinta itu akan tetap ada jangan jangan kamu hapus, karena itu adalah rasa cinta kamu pada saudara kembarmu. Kakak yakin, Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu dek. Yakinlah." kata Gusti lagi.


Semua percakapan antara Gusti dan Anjani terdengar jelas di telinga Kaisar yang menunggu mereka di depan pintu kamar Anjani.


"Andaikan kamu tau Jen, aku sangat mencintaimu. Dan aku yakin, ini semua memang skenario Tuhan. Aku yakin, ini jalan Tuhan untuk menyatukan kita. Aku juga menantimi selama ini Jen, karena aku hanya mau kamu, bukan yang lain." batin Kaisar.


Tal berapa lama kemudian, pintu kamar terbuka, dan sosok sahabatnya muncul.


"Gimana keadaan Jeni Gus?" tanya Kaisar.


"Alhamdulillah, dia sudah bisa lebih tenang, ini tadi dia kusuruh sholat dulu. Setelah itu, jika dia belum siap untuk bergabung dengan kita, dia mau makan dulu di kamarnya, lalu baru tidur untuk beristirahat."kata Kaisar.


"Baguslah kalau begitu." kata Kaisar.


"Kita sholat dulu yuk, abis itu kita makan bareng." ajak Gusti.


"Siap." kata Kaisar.


Merekapun menuju masjid dekat rumah untuk sholat berjamaah, sebelum pulang, mereka mengobrol sebentar di teras masjid.


"Kai, gue perhatiin, lo perhatian banget sama adik gue. Elo suka ya sama Jeni?" tanya Gusti to the point tanpa basa basi.


"Eh, ehm..." Kaisar tampak bingung menjawabnya.


"Kalau elo emang suka sama adik gue, elo cinta sama dia. Tolong, bantu gue buat ngehibur dia. Dia masih Syok dengan kenyataan tadi. Coba elo deketin dia, elohibur dia, gue yakin, nama elo akan hadir di hatinya untuk menggantikan posisi Juna. Juna ga mungkin bersanding dengan Jeni, karena mereka saudara kembar." kata Gusti yang sudah bisa membaca bahasa tubuh sahabatnya.

__ADS_1


"Okey, akan gue coba." kata Kaisar.


Merekapun berjalan bersama untuk kembali ke rumah Pak Pratama, lalu mereka makan bersama di sana, tetapi tanpa Anjani dan pak Pratama. Karena pak Pratama juga masih syok dengan kenyataan yang adam Tuhan telah membukakan rahasianya yang selama ini dia tutup rapat, sehingga dia merasa sangat kecewa, dan bersedihm Pak Pratama sangat ketakukan jika harus kehilangan putri kesayangannya.


__ADS_2