
Satu bulan sudah berlalu, berkat pernikahan Gusti dan Hima, Anjani dan Arjuna juga semakin dekat, apalagi kalau bertemu di store, mereka sudah sering ngobrol, meski Anjani sering jutek dan Arjuna justru semakin gemas jika melihat Anjani menjutekinya. Hal itu disaksikan langsung oleh Zalva, sahabat Anjani. Dan sejak resepsi itu, Zalva dan Zulfi juga sudah sering kontak kontrakan, sering chatingan di medsos.
"Assalamualaikum. Ambil paket." kata Arjuna.
"Wa'alaikumsalam. Ya bentar." kata Anjani yang selalu semangat kalau mendengar kata 'Ambil paket' dari kurir satu itu.
"Ini paketnya." kata Anjani menyerahkan beberapa paket yang sudah dikemas.
"Okey, aku hitung dulu ya." kata Arjuna menghitung lalu mencatat di buku catatannya.
"Ehem, Ada kajian remaja lagi, kapan?" tanya Anjani di balik etalase sambil membuka buku catatan dan memegang pulpen, pura-oura sibuk.
Hening
Arjuna yang sudah selesai menghitung dan mencatat, justru memainkan ponselnya.
"Ditanya bukannya jawab malah main HaPe." omel Anjani yang diam-diam diketawain Zalva dari dalam, sambil mengintip. Zalva memang paling suka melihat adegan dua orang temannya itu kalau lagi berdua saja, selalu saja Anjani dengan muka tidak ramah dan Arjuna dengan wajah teduhnya, yang membuat hati Zalva sebenarnya klepek-klepek, tetapi dia ingat oleh Zulfi yang juga sudah PDKT sama dirinya.
"Eh. Apa? Memang kamu ngajak ngomong aku?" tanya Arjuna heran, sebenarnya dia dengar, tetapi Anjani seperti tidak bebicara dengannya, sehingga Arjuna sibuk dengan ponselnya sambil menunggu transaksi yang diurus Anjani.
"Ish, kamu ni. Ya udah ga jadi." kata Anjani sambil memberikan uang ongkos kirim kepada Arjuna.
"Hahaha, lagian, kalo ngomong itu, sebut namanya dong. Kan jelas." komentar Arjuna sambil menerima uang dari Anjani.
"Uangnya pas ya." kata Arjuna sambil memasukkan uang kedalam tasnya.
"Iya." jawab Anjani dengan cemberut.
"Ada kajian remaja, besok ahad, tanggal dua, di masjid Subulussalam, dekat kampus ku, pengisi nya ustadz Burhan Shodiq, sekaligus bedah buku sih. Jadi kalo mau beli bukunya sekalian juga bisa." kata Arjuna sambil mengirimkan image panflet informasi kajian ke kontaknya Anjani.
"Sudah aku kirim. Datang ya. Aku juga mau hadir kok." kata Arjuna tersenyum melihat gadis itu tampak mengerutkan keningnya.
"Cowok Caper, Cewek Baper?" gumam Anjani.
"Iya, kenapa?" tanya Arjuna.
"Judulnya aneh." komentar Anjani.
"Tapi unik dan menarik, kaya gadis didepanku ini." kata Arjuna sambil lalu.
"Eh, apa lo bilang?" Wajah Anjani bersemu merah.
"Udah lewat, ga ada siaran ulang. Dah, aku buru-buru, assalamualaikum." kata Arjuna sambil menstater motornya.
"Wa'alaikumsalam." jawab Anjani masih dengan senyum malu-malu.
"Cie cie..." goda Zalva.
"Ish, apaan sih lu Va." omel Anjani.
"Kayaknya, udah bakal ada yang mau jadian nih?" kata Zalva.
"Jadian apa?" tanya Anjani.
__ADS_1
"Halah, gue denger kali tadi. Ternyata mamas Juna tu so sweet juga ya? Gue juga mau dong digombalin gitu sama mamas Juna." goda Zalva lagi.
"Ish norak!" kata Anjani sambil masuk ke dalam.
"Lo tunggu di kasir ya, gue mau ke kampus." kata Anjani sambil mengambil tas ranselnya.
"Hu, endingnya ga enak!" omel Zalva.
"Kenapa? Ga mau?" tanya Anjani mengancam.
"Eh, engga kok. Hehehe, bercanda kali Jen." kata Zalva mengangkat tangannya tanda pasrah.
"Besok minggu, ikut gue! Kita akan ikut kajian sekaligus bedah buku, okey? No protes!" kata Anjani kepada Zalva.
"Mas Zulfi ada ga?" tanya Zalva.
"Ih, lo mau pengajian apa mau pacaran?" tanya Anjani.
"Dua duanya." jawab Zalva nyengir kuda.
"Dasar. Kalo mau pengajian tu, lurusin niat." kata Anjani.
"Elo juga kali." protes Zalva.
"Maksud lo?" tanya Anjani sambil memakai sepatunya.
"Gapapa." jawab Zalva.
Anjanipun bergegas berangkat ke kampus, dengan hati riang.
Pagi itu, Hima melakukan aktivitas seperti biasanya di dapur. Hima yang merasa badannya agak oleng, memegangi kepalanya yang terasa pusing, sambil tetap berbenah urusan dapur.
"Pagi sayang." sapa Gusti sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya, sambil mencium tengkuk leher istrinya dengan penuh cinta.
Hima hanya membalasnya dengan tersenyum, dan tetap melakukan aktivitasnya.
"Bikin sarapan apa nih sayangku?" tanya Gusti.
"Mau bikinin nasi goreng, tapi tolong bumbunya mas ulegin ya. Tadi bau bawang kok pusing." kata Hima sambil menunjuk bawang yang baru terkupas.
"Kamu biasanya ga gini lho sayang, kenapa sekarang bau bawang pusing? Jangan-jangan kamu..." kata Gusti menduga.
"Apa? Hamil? Kita kan baru sebulan nikah mas, masa' udah hamil sih?" elak Hima.
"Lho. banyak kok yang kaya gitu." jawab Gusti.
"Eh, tapi Hima sama sekali ga berbuat apa apa sama laki laki lain lho sebelum nikah sama mas, apalagi sama mas Ardi." kata Hima panik.
"Siapa yang bilang kamu berbuat salah?" tanya Gusti.
"Nanti kamu ikut mas ke Rumah Sakit ya, biar nanti mas periksa." lanjut Gusti lagi.
"Ya mas. Tapi kalo hasilnya engga positif, gimana?" tanya Hima.
__ADS_1
"Ya gapapa." jawab Gusti santai.
"Ya udah, segera siap-siap, kita ke RS sekarang ya." kata Gusti lagi.
"Sekarang?" tanya Hima.
"Yap." jawab Gusti.
"Tapi aku belum apa-apa mas. Nanti mas Gusti telat." kata Hima.
"Santai, nanti bisa ijin bentar. Demi Istri." jawab Gusti sambil menoel dagu istrinya, lalu mengambil ulegan untuk menghaluskan bumbu untuk nasi goreng.
"Tapi mas..."
"Segera mandi, biar ini mas yang beresin. Okey?" kata Gusti.
"Ya mas." jawab Hima patuh. Kemudian diapun beranjak dari dapur dan menuju kamarnya untuk mandi dan berganti baju.
Setelah selesai sarapan, keduanya berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan Hima, apakah dia hamil atau tidak.
Setibanya di Rumah sakit, Gusti langsung menguruskan administrasi nya, lalu menyiapkan beberapa alatnya, dan istrinya diminta untuk berbaring di ranjang periksa.
Dengan irama jantung yang tak beraturan, dan suasana hati yang khawatir jika yang diharapkan ternyata tidak membuahkan hasil, alat itu akhirnya menempel di perutnya.
Gusti menggerakkan alatnya dengan dibantu asistennya.
"Sayang."
"Ya mas?"
"Kamu lihat ini?" tanya Gusti dengan mata berbinar.
"Iya. Apa itu mas?" tanya Hima.
"Ya. itu anak kita." kata Gusti menangis haru.
"Anak?" Hima masih bingung, namun seketika Gusti langsung memeluk tubuh istrinya dengan penuh cinta.
"Selamat sayangku, kita akan jadi orang tua. Kamu akan jadi ibu lagi." kata Gusti memegang kedua pipi istrinya. Asisten Dokter gusti turut bahagia, meski di dalam ruangan itu, dia merasa seperti obat nyamuk, harus siap mentak didepan sepasang suami istri.
"Mas, serius?" tanya Hima.
"Serius sayang, kamu Hamil." kata Gusti lagi.
Lalu Hima ditanya kapan tanggal haid terakhirnya, dan apa saja yang dikeluhkannya.
"Kita ke pesantren ya mas nanti, Hima pingin kasih tau Eyang, pasti eyang seneng banget." kata Hima berbinar.
"Ya sayang, InshaaAllah." jawab Gusti.
"Tapi, mas tugas dulu ya." kata Gusti.
"Iya mas."
__ADS_1
Hima pun pulang diantar Gusti, lalu Gusti kembali lagi ke rumah sakit untuk melanjutkan tugasnya. Hari Ini hari bahagia untuk keduanya.