Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
K3D 5


__ADS_3

"Ibu bidan Erna." panggil suster.


"Saya sus." jawab bu bidan Erna.


"Pasien ingin bertemu dengan ibu." kata suster.


"Bu Norma sudah sadar sus?" tanya bu Erna menampakkan wajah bahagia.


"Iya bu." jawab suster.


Sampai di dalam, tampak wajah Norma sangat pucat. Dia memberikan senyum tulusnya pada bu Erna.


"Alhamdulillah, bu Norma, akhirnya bu Norma sadar juga." kata bu Erna senang.


Dengan tersenyum, Norma menjawab dengan sangat lemah.


"Bu...Bi...dan... sa...ya...ti...tip...an...nak...an...nak...sa...ya..." kata Norma terbata-bata.


Seketika bu bidan Erna terkejut dengan kata-kata Norma


"Bu, Bu Norma kenapa bilang begitu? Bu Norma yang kuat, harus kuat. Demi anak-anak bu." kata bu bidan Erna dengan menggenggam erat tangan Norma yang terasa sangat dingin.


Norma sudah tidak mampu berucap lagi, dia hanya mampu tersenyum menjawab perkataan bu bidan Erna.


Tak berapa lama kemudian, Terdengar sayup-sayup suara Norma mengalun hingga akhirnya dia terpejam dan tangan itu terjatuh dari genggaman bu bidan Erna.


"Bu, Bu Norma. Bu Norma, bangun bu..." kata bu bidan Erna panik sambil menggoyang-goyang tubuh kaku Norma.


"Permisi bu." kata dokter Yunuar.


Bu Yuniar pun segera mengecek detak jantung dan nadi di pergelangan tangan Norma, serta membuka kedua kelopak mata yang sudah tertutup.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un." ucap dokter Yuniar setelah mengecek semuanya.


"Innalillaui wainnailaihi roji'un. Bu Norma..." histeris bu Erna dengan berlinang air mata.


💞💞💞


Pemakaman Norma diurus oleh pak RT, makamnya di sandingkan dengan makam Ma'ruf suaminya. Sedangkan kedua bayi kembar dampit itu masih dirawat di rumah sakit, karena masih harus menjalani beberapa perawatan. Bu bidan Erna masih menjaga kedua bayi itu di rumah sakit bersama bu Tutik, ARTnya.

__ADS_1


Saat mereka sedang duduk berjaga di depan ruang bayi, tiba-tiba datang seorang pasien yang akan melahirkan masuk ke ruangan bersalin.


"Tolong istri saya dok." kata seorang laki-laki kepada dokter Yuniar.


"Maaf, bapak tunggu di luar dulu ya pak." kata seorang suster yang membawa pasien itu masuk ruang bersalin.


💞💞💞


"Apa? Ga mungkin Dok...ga mungkin!!!" Laki-laki yang sedari tadi berdiri dengan panik di depan ruang bersalin dengan suara histerisnya.


"Bapak yang sabar ya." kata dokter Yuniar.


Laki-laki itu langsung bersimpuh lemah, dengan linangan air mata. Dia tampak sangat terpukul, dan memukul-mukul lantai di bawahnya. Saat seorang suster keluar dari ruangan itu dengan membawa seorang bayi mungil, Bidan Erna memberanikan diri untuk bertanya kepada suster itu.


"Maaf suster, bapak itu kenapa ya?" tanya bu Erna penasaran.


"Oh, bapak itu. Beliau baru saja kehilangan bayinya bu. Ini, bayinya meninggal karena keracunan air ketuban." kata suster itu sambil memperlihatkan bayi mungil yang digendongnya.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un, Semoga orang tuanya sabar ya sus." kata bidan Erna.


"Ya bu. Maaf kalau begitu. Saya permisi dulu." kata suster itu.


"Ya sus. Terimakasih atas informasinya sus."


"Kasian mereka." gumam bu Erna.


"Iya ya bu."


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara jeritan dari dalam ruang bersalin.


"Astaghfirullah..."


Kemudian muncul dokter Yuniar dari ruangannya menuju ruang bersalin dengan terburu-buru.


Tak lama setelah suara jerita itu mengejutkan mereka, keluarlah laki-laki bersama dokter Yuniar.


"Terimakasih dok." kata laki-laki itu.


"Sama-sama pak. Kalau begitu saya permisi." kata dokter Yuniar berjalan menuju ruangannya. Tak lupa, dokter Yuniar menyapa bu bidan Erna dan bu Tutik dengan ramah.

__ADS_1


"Bi Tutik, saya ke sana dulu ya." kata bu bidan Erna dengan menunjuk laki-laki yang tampak sedih di depan ruang Bersalin.


"Ya bu." jawab bu Tutik.


"Permisi pak." sapa bu bidan Erna ramah.


"Eh, iya bu." jawab laki-laki itu.


"Maaf pak. Saya Erna. Saya turut berduka ya pak atas apa yang sudah menimpa keluarga bapak." kata bu bidan Erna berempati.


"Terimakasih bu. Saya Pratama." kata laki-laki itu, kemudian dia melanjutkan kata-katanya.


"Saya benar-benar tidak menyangka bu, bakal begini jadinya. Istri saya sangat mendambakan kelahiran putri kecilnya. Sejak kami belum menikah, dia sudah menginginkan anak perempuan. Namun, saat dia hamil yang pertama, yang lahir anak laki-laki... Dan betapa bahagianya dia, saat hamil yang kedua, dinyatakan dokter bahwa bayi yang dikandungnya adalah anak perempuan. Dia sangat bahagia bu. Namun ternyata, saat kami telah tiba di ruang bersalin, ternyata Tuhan berkehendak lain." kata Pratama dengan wajah sendunya.


"Bayi cantik saya tidak menangis saat lahir, dia telah meninggal karena keracunan air ketuban." Pratama tak mampu mbendung air matanya.


"Sabar ya pak." kata bu bidan Erna.


"Dan, sekarang, istri saya sangat terpukul bu. Saya ga tau apa yang harus saya lakukan. Dia benar-benar shok, saya khawatir dia akan depresi." kata Pratama lagi.


"Bapak... apakah istri bapak benar-benar menginginkan anak perempuan?" tanya bu bidan Erna.


Pak Pratama hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Begini pak, kebetulan, saya punya tetangga, dia baru saja melahirkan bayi kembar dampit. Namun, Tuhan berkehendak lain. Ibu dari kedua bayi itu harus pergi meninggalkan dunia ini pasca melahirkan karena mengalami pendarahan. Sedangkan ayah mereka sudah meninggal dua bulan yang lalu." kata bu bidan Erna dengan sendunya.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un. Lalu, bagaimana keadaan kedua bayi itu bu?" tanya Pratama.


"Alhamdulillah, kedua bayi itu lahir dengan selamat dan sehat pak. Jika bapak berkenan, bapak bisa mengadopsi bayi perempuan itu. Semoga bayi perempuan tersebut bisa membuat istri anda kembali bersemangat menjalani kehidupan." kata bu bidan Erna.


"Sungguh bu? Kami boleh merawat bayi itu?" tanya Pratama bersemangat.


Bu bidan Erna menjawab dengan senyuman dan mengangguk sebagai jawabannya.


"Baik bu, saya akan kabarkan pada isri saya. Semoga dia senang bu ya bu." kata Pratama dengan girangnya.


"Baik Pak."


Akhirnya, benar. Bayi perempuan dari rahim ibu Norma, yang diberi nama ANJANI RAHMAWATI itu di adopsi oleh keluarga Pratama. Sedangkan bayi ARJUNA RAMAYANA masih dalam asuhan bu bidan Erna, selaku orang yang diamanahi oleh kedua orang tua si bayi.

__ADS_1


_______________


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya ya...😄


__ADS_2