Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
K3D 17


__ADS_3

Hima dan ustadz Mumtaz sudah sampai di rumah sakit, saat mobil baru saja parkir di baseman, Hima yang sudah tak sabar ingin mengetahui keadaan putranya, langsung turun dari mobil dan berlari menuju lobi.


"Hima. Tunggu Hima." panggil ustadz Mumtaz. Namun Hima tak menghiraukan panggilan abahnya. Dia terus berlari meninggalkan abahnya begitu saja hingga sampai di lobi, dia tak sengaja menabrak seseorang.


Brugh


Hima hampir terjatuh, namun spontan sebuah tangan kekar menangkap tubuh itu, dan sepersekian detik, manik mereka bertemu.


"Hima." gumam seseorang yang menangkapnya.


Seketika itu juga, Hima tersadar lalu dia segera berdiri, dan melepaskan dirinya dari pegangan tangan kekar itu.


"Ma, maaf." kata Hima terbata.


"Kenapa kamu ada disini? Apa umi Ulfa masih sakit?" tanya dokter Gusti, yang kebetulan beberapa waktu lalu bertemu Hima di rumah sakit yang sama, saat Hima mengantarkan umi Ulfa kontrol.


"Ehm, tidak. Bukan Umi." jawab Hima dengan menundukkan kepala. Dia sangat malu, karena dirinya disentuh oleh laki-laki yang bukan mahromnya di tempat umum dengan tak sengaja. Dan orang itu, adalah orang yang dikenalnya.


"Lalu, siapa yang sakit?" tanya Gusti.


Belum sempat Hima menjawab, terdengar seseorang dari kejauhan memanggil nama Hima.


"Hima. Tunggu abah." kata laki-laki paruh baya yang mengantarkan Hima sampai di rumah sakit.


Hima masih menunggu abah nya, tetap berdiri di dekat Gusti.


"Hima, jangan emosi, sabar nak. Kita jenguk Rama dengan baik-baik. Kamu tenangkan dulu dirimu." kata ustadz Mumtaz menasehati.


Tanpa jawaban, Hima berjalan ke petugas reka medis.


"Maaf suster, Pasien atas nama Ramadhan Ardi Nugroho, dirawat di ruang mana ya?" tanya Hima.


"Sebentar ya bu, saya cek dulu." kata petugas.


Gusti yang masih penasaran, bertanya pada bapak paruh baya yang menyusul Hima.


"Maaf pak, bapak ini, siapa nya Hima ya?" tanya Gusti di belakang Hima.


"Saya bapaknya pak dokter, pak dokter mengenal putri saya Hima?" tanya ustadz Mumtaz.


"Oh. bapaknya Hima ya? Perkenalkan nama saya Gusti, saya dokter di rumah sakit ini, Dan Hima ini teman saya." kata Gusti memperkenalkan diri.


"Oh, temannya Hima?" tanya ustad Mumtaz.


"Iya pak. Maaf, kalau boleh tau, siapa yang sakit ya pak?" tanya Gusti.


"Putranya Hima, pak dokter." jawab ustadz Mumtaz.


"Putra?" Gusti terkejut saat tau bahwa yang sakit putranya Hima, berarti wanita yang diincarnya bukanlah seorang gadis, melainkan seorang wanita berputra.

__ADS_1


Belum sempat Gusti menanyakan lebih lanjut terkait putranya Hima, ternyata Hima sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan putranya, Himapun berjalan melewatinya, dan menyapanya dengan "permisi."


Mengetahui putrinya sudah tau lokasi tempat cucunya dirawat, ustadz Mumtaz bergebas menyusul putrinya yang tanpa permisi dan tak mengajaknya, berjalan begitu saja. Karena penasaran, Gusti mengikuti mereka.


Sesampainya di depan ruang ICU, Hima segera mendekati seorang laki-laki muda yang berdiri di kursi tunggu ruang ICU.


"Assalamualaikum." Sapa Hima dingin.


"Wa'alaikum salam. Hima." jawab Ardi yang seketika berdiri saat mengetahui mantan istrinya itu sudah berada di lokasi yang sama dengan dirinya Begitupun dengan istri kedua Ardi, yang juga ikut berdiri menyambut kedatangan mantan istri suaminya.


"Apa yang terjadi sama Rama?" tanya Hima penuh rasa kebencian.


"Rama sakit demam, dan tadi sempat pingsan." kata Ardi.


"Ga mungkin, kalo cuma pingsan karena demam, ga mungkin dia sampe dibawa ke ruang ICU, pasti ada sesuatu." kata Hima dengan emosi.


"Sungguh Hima, memang begitu adanya." kata Ardi.


"Harusnya, Rama tak bersamamu. Rama itu anakku, dia darah dagingku, dia lahir dari rahimku, kenapa aku ga boleh ketemu Rama? Kenapa aku ga boleh ngerawat dia? Kenapa?" cecar Hima penuh amarah dengan tangisan nya. Seketika itu juga, dada kiri Gusti yang melihatnya merasakan sakit pula, ingin rasanya dia memeluk tubuh wanita yang telah berhasil mengisi hatinya, namun apa daya, Gusti hanya mampu melihatnya dari kejauhan. Dia menduga, itu suaminya, dan Hima dengan suaminya sedang tidak baik-baik saja.


"Aku mau ketemu anakku." kata Hima hendak masuk ruangan.


"Hima, tunggu dulu. Di dalam, Rama baru diperiksa." kata Ardi.


Hima pun menurut, lalu dia memainkan ponselnya, menghubungi adiknya, Arjuna.


Tam lama kemudian, dokter keluar dari ruanh ICU,


"Saya ibu kandungnya, dok." kata Hima.


"Bisa ikut saya ke ruangan dulu bu?" tanya dokter.


"Bisa dok." jawab Hima tanpa memperdulikan mantan suaminya.


Sesampainya di ruang dokter, Hima duduk sendiri dengan menahan tubuhnya agar tidak oleng, dia sangat ingin tau keadaan putra tunggalnya.


"Apa yang terjadi dengan anak saya dok?" tanya Hima.


"Apa sebelumnya, anak ibu pernah mengalami kejang-kejang? Riwayat saat dia masih balita mungkin?" tanya dokter.


"Tidak dok, dulu anak saya anak yang perkembangannya sangat baik, sakit sesekali hanya demam biasa dok. Setelah diobati, langsung sembuh." jelas Hima.


"Ehm, apakah, anak ibu jarang makan?" tanya dokter lagi.


"Makan? Kalau itu saya kurang tau dok, karena selama satu tahun ini, saya jauh dari anak saya. Dia bersama ayah kandung dan ibu tirinya. Saya tidak diijinkan menjenguknya, tidak diijinkan membawanya kepada saya." kata Hima menahan dirinya yang tengah terkejut karena anaknya bermasalah terkait makanan.


"Ehm, begitu? Jadi, anak ibu ini bersama ayah kandung dan ibu tirinya?" tanya dokter.


"Iya dok." jawab Hima.

__ADS_1


"Ehm, ya...ya. Begini ibu, putra ibu ini mengalami luka di bagian lambungnya, kemungkinan terbesar hal itu karena jarangnya ada asupan yang masuk ke dalam tubuhnya, sedangkan otaknya bekerja sangat kuat, membuat dia stress, dan tenaga yang terforsir hingga membuat tubuhnya demam, namun tidak dirasakan, sehingga kemarin sempat mengalami kejang." kata Dokter.


"Untungnya, saat kejang tadi, pasien langsung dibawa ke rumah sakit dan segera mendapatkan penanganan. Karena kalau terlambat, bisa berbahaya bagi nyawanya." kaga dokter lagi.


Hima tak sanggup berkomentar, jantungnya berdetak sangat kencang, kepalanya terasa sangat panas, ingin rasanya dia mengamuk atas apa yang sudah dia ketahui apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Lalu, bagaimana keadaan anak saya sekarang dok, bolehkah saya menjenguknya?" tanya Hima.


"Silakan Ibu. Kita berdoa'a sajaa, semoga ananda Rama segera membaik." kata dokter Danu, selaku dokter anak di rumah sakit itu.


"Terimakasih banyak dokter atas informasinya, saya permisi." kata Hima.


"Ya bu, silakan." jawab dokter Danu.


Dengan segera Hima masuk ruang ICU, tanpa memperdulikan abah nya yang menanyakan kabar cucunya, serta tak menghiraukan mantan suami beserta istrinya, karena hatinya sangat perih.


💞💞💞


"Assalamualaikum." Setelah mengetuk pintu, Gusti masuk ruangan dokter Danu.


"Wa'alaikum salam. Dokter Gusti? Tumben, ada apa ya dok?" tanya dokter Danu.


"Dok, tadi anda menangani pasien atas nama Ramadhan?" tanya Gusti.


"Iya, anda mengenalnya?" tanya dokter Danu.


"Ibu anak itu adalah teman baik saya." jawab Gusti.


"Kalau boleh tau, Ramadhan sakit apa ya dok?" tanya Gusti.


"Kalau dari hasil analisis, pasien mengalami luka lambung, karena dia jarang terisi asupan makanan, selain itu, demam tinggi yang menyebabkan dia kejang, karena disaat dia demam, tidak segera mendapatkan penanganan." jawab dokter Danu.


"Lhoh, memangnya dia tinggal dimana dok? Kok sampai seperti itu?" tanya Gusti.


"Saya kurang tau juga dok, tapi dari penjelasan ibu kandungnya tadi, Pasien itu tinggal bersama ayah kandung dan ibu tirinya. Sepertinya, anak itu korban broken home. Orang tuanya berpisah, dan anak itu mengalami kekerasan di tempat dia tinggal." jawab dokter Danu menganalisis.


"Ehm,,, begitu?" gumam Gusti.


"Kenapa dok?" tanya dokter Danu.


"Gapapa dok. Kasian aja ngeliatnya." jawab Gusti.


"Ehem, kasian smaa siapa nya? anaknya? apa ibunya?" goda dokter Danu yang mengetahui kalau dokter dihadapannya adalah dokter muda yang belum berkeluarga.


"Hehe, dua duanya." jawab Gusti malu-malu sambil memegang leher belakangnya.


"Ya, do'akan saja yang terbaik bagi mereka." dokter Danu menanggapi.


"Tolong lakukan pertolongan yang terbaik ya dok." kata Gusti.

__ADS_1


"Pasti. Demi kebahagiaan ibu anak itu, dan demi kebahagiaan mu juga dok." goda dokter Danu yang mengerti akan sinyal dari sorot mata dokter kandungan dihadapannya.


"Hapaan sih dok." tepis Gusti malu-malu.


__ADS_2